Imam Khamenei: Kesalahan JCPOA Tak Boleh Terulang dalam Negosiasi Oman
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa permasalahan nasional tidak boleh digantungkan pada jalannya perundingan, seraya memperingatkan agar kesalahan fatal dalam kesepakatan nuklir JCPOA tidak terulang kembali. Dalam JCPOA, seluruh urusan negara digantungkan pada hasil negosiasi, hingga akhirnya bangsa menjadi tersandera dan kemajuan tertunda.
Pernyataan ini disampaikan Ayatullah Khamenei dalam pertemuan awal Tahun Baru Persia bersama para pejabat tinggi dari tiga cabang kekuasaan negara, pada Selasa malam 15 April, seperti dilaporkan oleh Kantor Berita Tasnim.
Dalam pidatonya, Pemimpin Tertinggi menyebut “tindak lanjut” sebagai mata rantai yang hilang dalam mencapai cita-cita nasional. Beliau menyerukan agar ketiga cabang pemerintahan menjadikan upaya mewujudkan slogan tahun ini sebagai agenda bersama.
Menyoroti pembicaraan yang sedang berlangsung di Oman, beliau menegaskan perlunya menghindari sikap optimistis maupun pesimistis yang berlebihan. “Aktivitas nasional di seluruh sektor harus terus berjalan dengan urgensi lebih tinggi, tanpa mengaitkannya dengan hasil negosiasi,” ujarnya.
Ayatullah Khamenei juga menegaskan bahwa tindak lanjut lebih penting dari sekadar keputusan. “Negara kita memiliki banyak undang-undang dan rencana yang baik. Namun, karena kurangnya tindak lanjut, tujuan-tujuan strategis tidak tercapai,” katanya.
Beliau menggarisbawahi bahwa masalah-masalah seperti tingginya konsumsi bensin, ketimpangan pendidikan, dan kesulitan ekonomi masyarakat lapisan bawah bisa diselesaikan dengan tindak lanjut yang serius. Menurutnya, meski semangat para pemimpin dan pejabat layak diapresiasi, hal itu belum cukup. “Tanpa tindak lanjut, keputusan di jenjang manajemen hanya menjadi slogan kosong dan kerap tak terlaksana,” tegasnya.
Terkait pembicaraan di Oman, Ayatullah Khamenei kembali menegaskan bahwa urusan negara tidak boleh bergantung pada perundingan. “Kesalahan yang terjadi dalam JCPOA, di mana segalanya digantungkan pada hasil perundingan, tidak boleh diulangi. Negara tidak boleh dibuat bersyarat, dan investasi tidak boleh ditunda hanya karena menanti hasil negosiasi,” tegasnya.
Ditegaskannya, seluruh aktivitas industri, ekonomi, konstruksi, budaya, serta proyek-proyek besar harus berjalan tanpa menunggu hasil pembicaraan Oman. “Tidak satu pun dari isu-isu ini terkait langsung dengan negosiasi,” katanya.
Mengenai proses perundingan itu sendiri, Imam Ali Khamenei berkata: “Keputusan awal untuk berunding adalah langkah yang baik. Namun setelah ini, kita harus melangkah dengan hati-hati. Garis merah kita jelas, dan pihak lain juga tahu batasannya.”
“Kami tidak terlalu optimis atau pesimis tentang hasil perundingan ini. Kami sangat pesimis terhadap pihak lawan, tetapi kami sangat optimis terhadap kemampuan bangsa sendiri,” lanjut beliau.
Ayatullah Khamenei juga menyoroti pentingnya pelaksanaan Rencana Pembangunan Nasional Ketujuh secara akurat dan tanpa penyimpangan. “Rencana yang baik ini harus dilaksanakan dengan tekad dan kekuatan sejak awal,” ujarnya.
Di bagian akhir, Pemimpin Tertinggi menyinggung tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza. Beliau mengecam keras kejahatan tak tertandingi yang dilakukan oleh rezim Zionis yang secara sengaja menyerang pasien, jurnalis, ambulans, rumah sakit, serta anak-anak dan perempuan tertindas.
“Kejahatan ini menunjukkan kebiadaban luar biasa dari geng kriminal penjajah,” tegasnya.
Beliau menyerukan pembentukan gerakan terpadu Dunia Islam, baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun (jika diperlukan) operasional, untuk menghadapi kezaliman ini. “Allah pasti akan menurunkan cambuk-Nya atas para tiran ini, tetapi itu tidak mengurangi tanggung jawab kita sebagai bangsa dan pemerintahan (untuk membela Palestina),” pungkasnya.
