Laut Merah Bukan Lagi Milik Amerika
POROS PERLAWANAN – Ada peringatan yang lebih tajam dari rudal: peringatan dari kekuatan yang tahu bahwa waktu sedang berpihak kepadanya. Dan pekan ini, peringatan itu datang dari jantung revolusi Yaman: “Jangan dekati kapal Amerika, jika ingin tetap mengapung.”
Laut Merah, yang selama puluhan tahun menjadi jalur kebanggaan armada imperialisme AS, kini berubah menjadi medan ujian supremasi. Kapal induk Carl Vinson telah bergabung dengan USS Harry Truman di perairan itu, seolah hendak menegaskan bahwa kekuatan Amerika masih hidup. Tapi bagi pejuang Yaman, ini bukan intimidasi, melainkan peluang emas.
Peringatan publik Angkatan Bersenjata Yaman, seperti yang disampaikan dalam wawancara dengan surat kabar Lebanon Al-Akhbar pada Rabu (16/4), bukanlah gertakan kosong. Ini adalah bagian dari operasi psikologis dan strategis yang menghancurkan kepercayaan diri lawan sebelum peluru pertama ditembakkan. “Targetkan Carl Vinson,” kata Tentara Yaman, “karena menargetkannya sama dengan menargetkan simbol kejayaan Amerika.”
Ini bukan sekadar retorika. Ini strategi.
Dan Amerika tahu itu. Bukankah laporan intelijen sendiri mengindikasikan bahwa kapal induk USS Harry Truman sudah beberapa kali mengalami kerusakan misterius? Bukankah kehadiran Vinson adalah tameng untuk menutup kerentanan itu? Dan bukankah kenyataan bahwa serangan udara AS diluncurkan dari Diego Garcia jauh di Samudra Hindia, menandakan bahwa Laut Merah sudah terlalu panas bagi jet-jet mereka sendiri?
Satu hal kini jelas: hegemoni maritim Amerika sedang dibongkar dari bawah laut ke langit-langit propaganda.
Sementara itu, jauh di barat, bayangan Ansarullah juga menjangkau Tel Aviv.
Selagi rezim Zionis larut dalam ritual “Paskah”, satu krisis kembali menghantui mereka: runtuhnya industri pariwisata. Media Zionis Media Line melaporkan kejatuhan baru dalam kepercayaan dunia terhadap “keamanan” Israel. Maskapai internasional mulai menarik diri, agen perjalanan mulai membatalkan paket, dan Bandara Ben Gurion kembali menjadi sasaran kekhawatiran global.
Mengapa? Karena satu fakta yang tak terbantahkan: rudal Yaman tidak mengenal batas.
Bandara sipil? Target sah. Pelabuhan komersial? Tidak ada yang kebal. Bagi gerakan Perlawanan yang melihat keterkaitan antara Gaza dan Laut Merah, antara pelabuhan Hodeidah dan pelabuhan Haifa, semua infrastruktur musuh adalah instrumen pendudukan, dan karenanya, target sah Perlawanan.
Ketika keamanan laut dan udara runtuh bersamaan, apa lagi yang tersisa dari mitos keamanan Israel dan kedigdayaan maritim Amerika?
Mungkin hanya satu hal: ketakutan. Dan ketakutan itu kini telah berpindah tangan.
