Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Langka, Seperti Kebenaran: Ketika Protes Anti-Hamas ‘Meledak’ di Gaza

Sumber: Anadolu

POROS PERLAWANAN – Langka. Itulah kata yang dipilih SINDOnews.com dalam laporannya pada Kamis, 17 April 2025, berjudul: “Langka, Protes Anti-Hamas Pecah di Gaza Utara di Tengah Pengepungan Israel”. Menurut laporan itu, sekelompok warga Gaza dikabarkan melakukan unjuk rasa menentang Hamas, meski wilayah mereka sedang digempur habis-habisan oleh Militer Zionis Israel.

Langka memang. Seperti unicorn yang sedang selfie dengan Netanyahu sambil membawa bendera PBB. Sebab di tengah pengepungan brutal, pemutusan listrik, kelaparan, dan pembantaian sistematis oleh Israel, mestinya yang lebih masuk akal bukanlah demo politik, tapi ratapan di atas puing-puing rumah. Maka muncul dugaan kuat bahwa ini adalah narasi yang digulirkan untuk membentuk prakondisi opini: bahwa Hamas bukan pembela rakyat, melainkan masalah yang harus disingkirkan. Lalu siapa yang siap menyingsingkan lengan baju untuk itu? Tentu saja Indonesia, dengan proyek evakuasi “kemanusiaan”-nya yang mengundang tepuk tangan dari UEA, Qatar, Mesir, Turki, dan AS.

Kebetulan atau tidak, laporan ‘langka’ ini muncul hanya sehari setelah Menteri Luar Negeri Sugiono meneguk kopi diplomasi bersama Menlu AS, Marco Rubio di Washington D.C. Dalam pertemuan itu, Sugiono memamerkan komitmen Presiden Prabowo terhadap “perdamaian” di Palestina, versi “poros normalisasi”.

Namun di lapangan, cerita berbeda justru melimpah. Pada 19 Januari 2025, Reuters dan CNBC Indonesia melaporkan bagaimana rakyat Gaza dan pejuang Hamas berpesta dan bersuka cita di Khan Younis usai gencatan senjata yang sempat tertunda. Mereka turun ke jalan, bukan untuk mencela Perlawanan, tapi untuk menyambut para pejuang yang pulang dengan kepala tegak. Sambutan itu spontan, tulus, dan penuh cinta. Tidak seperti narasi instan yang didaur ulang oleh media kelas korporasi.

Tokoh Hamas dan mantan Menteri Kesehatan Gaza, Dr. Basem Naim, pernah menyampaikan: “Selama dunia hanya melihat kami dari kacamata penjajah, mereka tidak akan pernah paham mengapa rakyat Gaza mencintai pejuangnya. Hamas bukan teroris bagi kami, mereka adalah anak-anak kami yang mengangkat senjata karena tidak ada lagi yang tersisa kecuali kehormatan.”

Sementara itu, intelektual Yahudi anti-Zionis dan penulis “Gaza: An Inquest into Its Martyrdom”, Norman Finkelstein menyindir: “Ketika penduduk asli yang dikepung selama 17 tahun melawan, itu disebut terorisme. Namun ketika penjajah menggempur mereka dengan senjata mutakhir, itu disebut ‘hak membela diri’. Dunia telah kehilangan moralnya.”

Sayangnya, moral juga telah hilang di sebagian benak publik Indonesia. Tak sedikit yang dengan santai mencaci Hamas hanya karena membaca headline bombastis dari media yang tak pernah mencium bau mesiu di Gaza. Seolah-olah kebenaran bisa dipastikan dari judul artikel, dan penjajahan bisa dihapus dengan “evakuasi damai”.

Inilah bentuk baru kolonialisme digital: pembunuhan nalar lewat scrolling tanpa makna.

Kemudian di tengah itu semua, Indonesia muncul sebagai pelayan setia proyek “evakuasi warga Gaza”, operasi besar-besaran yang secara halus berarti “pengosongan Jalur Gaza” dari manusianya sendiri. Bukan demi menyelamatkan, tapi demi menyingkirkan. Lantas siapa yang akan masuk ke wilayah kosong itu? Cukup lihat peta kesepakatan normalisasi ekonomi antara Israel, UEA, dan korporasi multinasional.

Mencermati fakta miris ini, POROS PERLAWANAN menyampaikan: Selamat datang di era ketika “perdamaian” berarti evakuasi, dan “kemanusiaan” berarti membantu penjajah menyapu bersih tanah jajahan! []

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *