Trump Merajalela: Dari Pentagon Menjadi Penta-Gone
POROS PERLAWANAN – Dari studio TV ke kursi Menteri Pertahanan, dari Fox News ke ruang situasi Pentagon, Pete Hegsett; seorang eks-pembaca naskah berita dengan senyum tipis dan segudang tuduhan miring, kini didaulat menjadi panglima pertahanan negara adidaya yang sedang sakit jiwa. Dunia tak lagi geleng-geleng kepala; ia kini bersujud pasrah di altar absurditas Kekaisaran Amerika yang sedang meledakkan dirinya dari dalam.
Laporan Politico pada Sabtu 19 April hanya mengafirmasi apa yang telah lama menjadi wacana konspiratif di lorong-lorong Gedung Putih: Pentagon tidak sedang berfungsi. Ia kolaps. Lembaga yang dulunya menebar maut ke lima benua kini justru memuntahkan para jenderalnya sendiri. Hegsett memecat, membungkam, mengganti, dan mengisi ruang-ruang kekuasaan dengan loyalis—bukan patriot. Para pembisik perang diganti dengan pemuja Trump. Peta strategi diganti dengan peta rating Pemilu.
Tak cukup dengan itu, Trump memutuskan untuk memainkan negaranya seperti ia memainkan reality show: dengan twist harian, eliminasi brutal, dan rating sebagai dewa. Selama tiga bulan kekuasaannya, ia telah memecat puluhan pejabat senior, memberangus lembaga negara, menendang pegawai Federal ke pengangguran massal, dan mengirim universitas Amerika, sumber ilmu dan inovasi dunia ke ruang ICU anggaran.
Trumpian Order: Diktator dalam Balutan Demokrasi
Trump tidak sedang keliru. Ia sedang konsisten. Ia tidak salah jalan. Ia justru sedang membangun jalan baru, dengan ekskavator kekuasaan absolut. Proyek “Make America Grate Again”, dengan “grate” bermakna ‘mengikis dan melukai’ berjalan mulus menuju akhir Republik. Deportasi massal satu juta imigran ilegal hanyalah semacam “cleansing awal”. Setelah itu, datanglah pembungkaman kampus, penangkapan pendukung Palestina, dan peluncuran perang udara atas Yaman; sebuah negara miskin yang dijadikan lahan gladiator bagi aliansi kematian.
Anehnya, ketika dunia berteriak “Resesi!” Trump hanya tertawa sambil menunjuk Elon Musk, rekannya sesama teknokrat neo-feodal, yang dengan bangga memecat ribuan staf demi efisiensi dan loyalitas. Negara bukan lagi bangsa, melainkan startup. Sedangkan Trump bukan Presiden, melainkan CEO keji yang sedang menutup cabang-cabang usaha yang tidak menguntungkan secara politik.
Departemen Pertahanan: Dari Pentagon Menjadi Penta-Gone
Di balik segala kekacauan ini, Pentagon berdiri sebagai simbol kegilaan struktural. Pembersihan di tubuh militer ini bukan lagi reformasi; ini penyembelihan. Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Charles Brown ditendang. Komandan Angkatan Laut, Laksamana Lisa Franchetti dibuang. Dalam waktu kurang dari 90 hari, Departemen Pertahanan berubah dari pusat kendali perang menjadi panggung boneka.
Seorang pejabat anonim berkata kepada Politico: “Hegsett telah mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang bahkan tidak tahu untuk apa mereka berada di sana.” Beberapa bahkan hanya tahu dua hal: Fox News dan Trump. Inilah Kabinet perdamaian melalui pembodohan massal, Kabinet loyalitas buta, di mana pengalaman dianggap ancaman dan nalar adalah musuh.
Ekonomi Amerika: Disuntik Virus Trump
Surat kabar The Times di Inggris menyebut Trump sebagai “virus baru dunia”, dan benar saja: defisit anggaran AS menyentuh $1,3 triliun; tertinggi sejak era Corona. Hanya dalam waktu sekejap, ekonomi negeri itu dihantam perang dagang terhadap 180 negara, dari China hingga Brasil, dari Kanada hingga anak benua.
Produsen China pun tertawa pelan. Mereka meluncurkan kampanye “Beli Langsung dari Pabrik”, mengajak konsumen Amerika untuk melewati middleman, bypass bea masuk, dan membeli merek Barat langsung dari TikTok. Amerika dipaksa melihat betapa konsumen mereka membeli kembali barang-barang mereka sendiri dalam versi mentahnya.
Bahkan Boeing pun ditampar Tiongkok. Tiga pesawat dikembalikan ke pengirim, dengan pesan: “Terima kasih, kami tidak tertarik dengan barang gagal.” Sementara itu, Rusia yang dulu disebut “musuh demokrasi” kini menjadi pemasok gas alam pilihan China. Amerika, yang dulunya raja energi, kini seperti pedagang BBM di pom bensin yang terbakar.
Retakan yang Merayap, Runtuh yang Mendekat
Para pejabat Pentagon mulai berbisik: “Kekacauan lebih lanjut akan terjadi.” Padahal kekacauan itu bukan sesuatu yang akan terjadi. Ia sudah terjadi. Kita hanya sedang menyaksikan bangunan megah itu ambruk perlahan, seperti reruntuhan teater Romawi yang ditinggalkan sang aktor.
Amerika tidak lagi mengimpor demokrasi. Ia kini mengekspor distopia. Trump bukan lagi seorang individu. Ia telah menjadi sistem; Trumpianisme yang tak peduli pada hukum, lembaga, akal sehat, atau manusia itu sendiri.
Nah, di tengah puing-puing itulah, berdiri satu sosok: Pete Hegsett. Mantan presenter TV, peminum berat, terdakwa kasus narkoba, kini Komandan Militer Amerika Serikat. Sebuah ironi yang terlalu lucu untuk menjadi satire, dan terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan.
Akan tetapi, inilah kenyataan itu. Kenyataan yang layaknya bom, sedang meledak di wajah kita. [PP/MT]
