Yaman Tak Lagi Sendiri: Ketika Serangan AS Menyulut Perlawanan Global
POROS PERLAWANAN – Amerika Serikat melanjutkan agresinya ke tanah Yaman, menjatuhkan puluhan bom dan rudal ke Ibu Kota Sanaa, Hudaydah, Marib, dan Amran—seolah hendak mengingatkan dunia bahwa kekuasaan militer belum pupus dari ambisi globalnya. Namun, dunia bukan lagi seperti dulu.. dan Yaman bukan lagi “medan uji coba” yang tinggal diam.
Di tengah pekatnya asap dan darah, Dewan Pertahanan Nasional Ansharullah pada 18 April, menggelar pertemuan darurat. Tidak untuk meratapi korban, tapi menyusun strategi. Karena yang mereka hadapi bukan hanya bom, melainkan juga kebohongan struktural yang telah menyamar sebagai “kekuatan dunia”.
Dari Target Menjadi Subjek Sejarah
Serangan udara AS terbaru menewaskan 74 warga dan melukai 171 lainnya hanya dalam semalam. Pelabuhan penting Yaman, Ras Issa, bukan hanya dibom, melainkan justru dijadikan simbol: Washington menyerang titik nadi pangan dan energi rakyat.
Namun, respons dari rakyat Yaman tidak berbentuk keluhan diplomatik atau rayuan gencatan senjata. Mereka membalas dengan keteguhan, menyegel semangat dalam drone-drone yang terbang melintasi Laut Merah, menghantam pusat-pusat kepentingan musuh di Kawasan. Dari Sanaa hingga perairan strategis, pesan Yaman jelas: kami tidak akan menyerah dan pantang tunduk!
Perang Lingkungan dan Hegemoni yang Terluka
Serangan udara AS ke pelabuhan minyak Ras Issa tak hanya menyebabkan korban jiwa. Ia menumpahkan racun ke Laut Merah, menghancurkan ekosistem, mengancam ribuan keluarga nelayan yang bergantung pada laut untuk bertahan hidup. Ini bukan sekadar serangan militer; ini ekosida.
Lalu apa kata dunia? Guterres sekadar menyatakan “keprihatinan”. Diplomasi Turki bersuara datar tentang tanker mereka yang rusak. Barat, yang kerap mengeklaim menjaga “lingkungan dan hak asasi”, kali ini memilih tutup mulut di depan tragedi.
Ketika Drone Yaman Menghancurkan Mitos Senjata Pintar Amerika
Amerika telah mengerahkan dua kapal induk, pesawat B-2, armada perusak, dan satu batalion “retorika”. Akan tetapi, media Tiongkok, Sohu pada 20 April menunjukkan laporan tentang satu hal: semua itu tidak efektif. Ansharullah masih tegak berdiri. Mereka membalas.. dan lebih dari itu: mereka menguasai narasi.
Kekuatan Militer Washington ternyata hanya menebar kehancuran tanpa menciptakan solusi. Mereka gagal membaca realitas: bahwa kekuatan kini tak hanya diukur dari rudal, tapi dari legitimasi rakyat. Dari keberanian untuk melawan, bukan dari jumlah satelit pengintai.
AS Gagal Memaksa Damai dengan Bom
AS sempat berharap agresinya ke Yaman akan mengirim pesan ke Iran. Bahwa ini hanyalah panggung intimidasi agar Teheran tunduk di meja perundingan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Setiap ledakan di Sanaa menjadi alarm bahwa taktik perang pengganti (proxy war) ini justru menelanjangi kelemahan AS.
Yaman bukan lagi “kartu tekanan”. Ia telah menjelma menjadi sumbu Perlawanan, mengubah Laut Merah menjadi medan balas budi sejarah.
Poros Perlawanan Semesta Telah Lahir
Hari ini, Yaman bukan hanya entitas geografis. Ia adalah pesan. Sebuah simbol bahwa ketika imperialisme menjatuhkan bom, rakyat akan menjatuhkan batas ketakutan. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan di balik retorika diplomasi atau “operasi terbatas”. Dunia melihat. Dunia mencatat. Pun ketika drone lokal Yaman menyusup ke jantung armada Amerika, itu bukan sekadar perang senjata. Itu perang tekad, harga diri, dan identitas.
“Perang ini bukan tentang menang di atas kertas. Ini tentang siapa yang tidak menyerah di bawah reruntuhan.”
Sampai di sini, harus diakui, bahwa sejauh ini, hanya satu pihak yang teguh berdiri: rakyat Yaman yang pemberani!
