Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Dari Sanaa ke Haifa: Ketika Rudal Menembus Batas Ketakutan

Ansharullah: Kami Siap Masuki Tingkat Konflik Tertinggi dengan Amerika Serikat

POROS PERLAWANAN — Pada Rabu 23 April, dunia kembali menyaksikan satu babak penting dari perlawanan tanpa batas: tentara Yaman menyerang dua kota pesisir yang menjadi simbol kekuatan Pendudukan Zionis; Haifa dan Yaffa. Namun ini bukan sekadar aksi militer. Ini adalah pesan tegas bahwa geografi tak lagi mampu membendung solidaritas, dan bahwa langit Pendudukan bukan lagi ruang aman bagi penindas.

Dalam pernyataan resminya, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Yahya Saree menjelaskan bahwa rudal supersonik menghantam sasaran vital di Haifa, sementara pesawat tak berawak jenis “Yaffa” mengguncang pusat-pusat penting di kota yang sama namanya itu. Tak ada satupun sistem pertahanan Zionis yang mampu mencegat serangan tersebut. Ini bukan hanya kerusakan teknis, ini adalah kegagalan sistemik dari arsitektur keamanan palsu yang dibangun dengan triliunan dolar dan kebohongan diplomatik.

Lebih dari dua juta warga Tanah Pendudukan bergegas lari ke tempat perlindungan. Bukan karena rudal semata, tapi karena pesan moral yang dikirimkan dari langit Sanaa: tidak akan ada kedamaian bagi penjajah, selama tidak ada keadilan bagi yang dijajah.

Yaman, Negara yang Diblokade Tapi Tidak Terkepung

Sudah hampir satu dekade Yaman dibombardir oleh koalisi Saudi-Amerika. Mereka disebut “terbelakang”, “miskin”, dan “terisolasi”. Namun hari ini, dunia harus mengakui: Yaman adalah satu-satunya negara Arab yang tidak hanya bersuara, tapi juga bersenjata dalam membela Palestina. Dalam sunyi dan abu-abu blokade, Yaman telah membangun daya gentar sendiri dengan akal, keyakinan, dan teknologi yang lahir dari tekad perlawanan, bukan dari dana pinjaman IMF.

Serangan ke Haifa dan Yaffa bukan hanya peristiwa militer; ia adalah manifestasi keberanian etis. Sementara banyak negara Arab sibuk berdiplomasi sambil mengibarkan bendera putih, Yaman memikul beban sejarah dengan kepala tegak. Semua ini dilakukan bukan untuk keuntungan geopolitik, tapi demi sebuah kewajiban moral yang tak bisa ditukar dengan minyak atau konsesi bilateral: membela Gaza adalah harga diri dunia Islam.

Rudal sebagai Komunikasi Politik

Serangan ini mengajarkan bahwa rudal juga bisa menjadi bahasa diplomasi alternatif, bahasa yang hanya dipahami oleh rezim yang tidak mengerti makna perdamaian kecuali setelah merasa takut. Zionis hanya mengerti bahasa tekanan, bukan persuasi. Sementara Yaman baru saja membacakan bab pertama dari ensiklopedia baru hubungan internasional: diplomasi rudal.

Yahya Saree menegaskan bahwa operasi ini akan terus berlangsung hingga agresi terhadap Gaza dihentikan dan pengepungan dicabut. Ini bukan slogan, ini janji. Sebuah janji yang, tak seperti banyak deklarasi Liga Arab, disampaikan bukan dari podium, tapi dari moncong rudal supersonik.

Bangkitnya Poros Keadilan

Serangan ini juga menegaskan bahwa Poros Perlawanan tidak lagi terbatas pada geografi Syam. Perlawanan kini lintas medan, lintas bahasa, lintas mazhab, dan lintas samudra. Dari Beirut hingga Baghdad, dari Teheran hingga Sanaa, satu suara menggema: bahwa Palestina bukan beban, tapi kehormatan.

Yaman telah menjawab panggilan itu. Dengan segala keterbatasannya, ia menunjukkan bahwa perlawanan bukan monopoli kekuatan besar, melainkan milik mereka yang tak sudi tunduk. Begitu pula dalam dunia yang terus dijajah oleh narasi pro-Zionis dan diamnya negara-negara munafik, kadang suara paling jujur datang dari langit yang mengirimkan kilat ke jantung Pendudukan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *