Loading

Ketik untuk mencari

Berita Nasional

Dari Teheran ke Jakarta: Seruan Bersama untuk Hentikan Genosida di Gaza

POROS PERLAWANAN — Di tengah kian brutalnya genosida Zionis terhadap rakyat Palestina, Republik Islam Iran kembali mengingatkan bahwa keheningan dunia Islam bukanlah netralitas, melainkan keterlibatan pasif dalam kejahatan. Dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi menegaskan bahwa sudah waktunya dunia Islam bergerak lebih proaktif dalam menghentikan kejahatan yang sedang berlangsung di Gaza dan Tepi Barat.

Menurut laporan Tasnim News pada Jumat 25 April, percakapan yang berlangsung pada Kamis itu membahas hubungan bilateral, dinamika kawasan Asia Barat, dan perkembangan internasional, termasuk eskalasi agresi Zionis-Israel yang terus menelan korban sipil di Palestina.

Menyatukan Poros Islam Melawan Penjajahan

Araghchi menyampaikan bahwa hubungan antara Iran dan Indonesia sebagai dua negara Islam besar memiliki potensi strategis yang belum sepenuhnya tergarap. Ia menggarisbawahi pentingnya pelaksanaan kesepakatan bilateral sebelumnya, serta memperkuat koordinasi diplomatik dan politik untuk menghadapi tantangan global; khususnya ancaman kolonialisme modern yang saat ini dipimpin oleh Tel Aviv dan Washington.

“Dengan dukungan mutlak dari Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, rezim Zionis telah mengubah Gaza dan Tepi Barat menjadi ladang genosida,” ujar Araghchi. Ia juga menyinggung kegagalan komunitas internasional, termasuk tidak efektifnya surat perintah dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) maupun perintah penghentian genosida dari Mahkamah Internasional (ICJ) yang sejauh ini tidak diindahkan oleh Tel Aviv.

AS–Israel dan Peta Ketidakamanan Regional

Lebih jauh, diplomat senior Iran itu menyoroti bahwa agresi tidak terbatas pada Palestina. “Serangan Israel ke Lebanon dan Suriah, serta serangan udara AS ke Yaman atas nama ‘memulihkan keamanan maritim’, hanyalah kelanjutan dari proyek ketidakstabilan regional yang dirancang oleh imperium,” ujarnya.

Menurutnya, ini bukan lagi konflik terisolasi, melainkan proyek global yang menciptakan rezim impunitas dan menjadikan tubuh umat sebagai medan eksperimen senjata.

Seruan kepada Dunia Islam: Jangan Jadi Penonton

Araghchi menyerukan agar negara-negara Islam tidak menjadi penonton diam di tengah kejahatan multidimensi ini. Ia mendesak blok Islam untuk tidak hanya menyuarakan dukungan, tetapi mengonsolidasikan langkah-langkah konkret—baik diplomatik, ekonomi, maupun logistik—untuk menghentikan kejahatan serta mempercepat penyaluran bantuan kemanusiaan.

Respons Indonesia: Komitmen untuk Aksi Diplomatik

Menlu RI, Sugiono menyambut baik ajakan kerja sama strategis ini dan menekankan pentingnya koordinasi yang lebih erat antara negara-negara Islam. Ia mendukung seruan gencatan senjata segera dan pembukaan jalur bantuan untuk Palestina, serta menegaskan kembali posisi Indonesia yang tidak berubah dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Dalam bagian akhir pembicaraan, Araghchi juga memberikan informasi singkat mengenai jalannya proses negosiasi tidak langsung antara Iran dan AS; yang, meskipun bersifat diplomatik, tetap dalam kerangka menjaga prinsip dan martabat nasional Iran. Menlu Indonesia menyampaikan apresiasi atas keterbukaan tersebut dan berharap bahwa jalur diplomasi tetap dapat membuahkan hasil konkret.

Catatan Redaksi POROS PERLAWANAN:

Seruan Araghchi kepada dunia Islam bukan hanya permintaan, melainkan juga tantangan moral bagi negara-negara mayoritas Muslim: Apakah kita masih memiliki keberanian sejarah untuk berdiri bersama Gaza, atau kita hanya akan dikenang sebagai bangsa-bangsa yang bungkam di hadapan kejahatan yang makin merajalela?

Tags: