Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

China Kandaskan Harapan ‘Kesepakatan Dagang Cepat’ Versi Trump

POROS PERLAWANAN – Janji Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk segera mencapai kesepakatan dagang dengan China guna meredakan gejolak pasar keuangan akibat perang tarif kembali kandas. Beijing secara tegas membantah adanya negosiasi aktif, memupuskan harapan Gedung Putih akan de-eskalasi cepat dalam konflik ekonomi dua kekuatan dunia.

Menurut laporan Farnews Agency pada Jumat 25 April, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang menyatakan bahwa “tidak ada konsultasi atau negosiasi yang sedang berlangsung” antara Washington dan Beijing terkait isu tarif, sekaligus membantah klaim Trump sehari sebelumnya yang menyebut bahwa pembicaraan aktif sedang berlangsung.

Trump, dalam periode keduanya sebagai Presiden AS, berulang kali menyatakan bahwa kebijakan tarif terhadap China akan memperbaiki defisit perdagangan Amerika Serikat dan menghidupkan kembali sektor manufaktur domestik. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya: gejolak pasar, ketidakpastian investor, dan tekanan terhadap perekonomian domestik AS.

Untuk meredakan tekanan, Trump telah menunda penerapan tarif terhadap sebagian besar negara selama 90 hari—kecuali terhadap China. Saat ini, tarif AS terhadap barang-barang asal China telah mencapai 145%, menjadikannya beban tarif tertinggi dibanding negara mana pun. Sebagai balasan, Beijing menaikkan tarif atas produk AS hingga 125%, memicu spiral sanksi dagang dua arah yang belum menunjukkan tanda-tanda pelunakan.

Di tengah ketegangan ini, penasihat ekonomi Gedung Putih mulai memperingatkan bahwa kelanjutan kebijakan tarif tanpa arah jelas dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan AS secara menyeluruh. Langkah mundur secara diplomatis mulai dirancang, dengan Trump berusaha menampilkan narasi “optimisme” akan tercapainya solusi damai.

Namun, dalam pernyataan terbarunya, Jubir Kemenlu China, Geng Shuang menegaskan bahwa Beijing tetap terbuka terhadap perundingan, namun tidak akan tunduk pada tekanan sepihak. “Jika harus berperang, kami akan bertahan sampai akhir,” ujarnya.

Kondisi ini berdampak langsung pada pasar global: indeks saham AS mengalami penurunan signifikan pada Kamis, diikuti dengan gejolak serupa di pasar Asia dan Eropa, menandai ketidakpastian global akibat konflik dua ekonomi terbesar dunia.

Profesor Ekonomi di Carnegie Mellon University, Lee Branstetter menyebut bahwa langkah Trump yang mulai melunak tanpa adanya konsesi dari pihak China atau mekanisme negosiasi konkret merupakan bukti dari “kurangnya perencanaan strategis” dalam kebijakan tarif yang diusung Gedung Putih.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *