Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Nabih Berri: Bukan Sekadar Alat Tempur, Senjata Hizbullah adalah ‘Kartu Truf dan Simbol Harga Diri Nasional’ Kami

Nabih Berri: Bukan Sekadar Alat Tempur, Senjata Hizbullah adalah ‘Kartu Truf dan Simbol Harga Diri Nasional’ Kami

POROS PERLAWANAN — Di tengah bayang-bayang rumor pengkhianatan dan tekanan asing di Beirut, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, berdiri di garis depan. Dengan suara bulat, ia menegaskan bahwa senjata Perlawanan bukan sekadar alat tempur, melainkan simbol harga diri nasional: kartu truf yang tak akan pernah diserahkan selama agresi Zionis masih berlanjut.

Sikap Tegas

Dalam pernyataannya, Berri menegaskan bahwa senjata Perlawanan tetap menjadi kartu truf yang tidak akan diletakkan di meja perundingan sebelum Israel sepenuhnya memenuhi ketentuan gencatan senjata. Ia menuding rezim Zionis bukan hanya mengingkari perjanjian, melainkan juga terus memperluas agresinya terhadap Lebanon.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, pernyataan Berri muncul di tengah meningkatnya rumor tentang upaya Amerika Serikat, rezim Zionis, serta sebagian pihak internal Lebanon untuk menghapuskan eksistensi senjata Perlawanan. Pemerintah dan Kepresidenan Lebanon pun dinilai telah tunduk pada tekanan Washington.

Dalam konferensi pers Jumat malam 25 April Berri menegaskan: “Senjata Perlawanan adalah kartu truf kami, dan kami tidak akan meletakkannya di atas meja sebelum Israel memenuhi seluruh kewajibannya.”

Berri menyambut tawaran Presiden Lebanon, Joseph Aoun, untuk menggelar dialog dengan Hizbullah, namun ia menekankan bahwa tekanan seharusnya diarahkan kepada musuh Zionis, bukan kepada Perlawanan.

“Kami telah memenuhi semua kewajiban sesuai perjanjian gencatan senjata, dan tidak seorang pun bisa meragukannya,” tegas Berri. “Namun, mereka [Israel] tidak memenuhi satu pun komitmen mereka. Ini adalah tanggung jawab Amerika Serikat, dan kita tidak boleh menyerahkan seluruh kartu kita begitu saja.”

Ia menjelaskan bahwa Lebanon telah mengambil dua langkah besar: pengerahan tentara ke wilayah selatan dan penarikan pasukan Hizbullah dari daerah tersebut. “Sejak saat itu, Hizbullah tidak melepaskan satu pun tembakan,” ujarnya. “Namun Israel tetap melanggar perjanjian dan justru menggandakan agresinya terhadap Lebanon.”

Menutup pernyataannya, Berri menegaskan kembali: “Kami tidak akan pernah menyerahkan senjata kami sebelum semua syarat dipenuhi oleh rezim Zionis. Senjata kami adalah kartu truf kami, dan kami tidak akan menyerahkannya tanpa realisasi nyata dari gencatan senjata.”

Suara dari Hizbullah

Senada dengan Berri, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Shekh Naim Qasim, juga menyinggung isu ini dalam pidato terbarunya. Ia mengkritik pihak-pihak di Lebanon yang menuduh senjata Perlawanan sebagai hambatan dalam pembentukan negara.

“Kami sering mendengar mereka berkata bahwa senjata Perlawanan telah mematikan negara,” ujar Shekh Qasim. “Kami bertanya kepada mereka: partai mana yang membantu memilih presiden, membentuk pemerintahan, dan mendukung negara?”

Syekh Qasim menegaskan bahwa senjata Perlawanan hanya digunakan dalam melawan penjajah Zionis. “Kami akan menghadapi penjajah dengan kekuatan pendirian, persatuan nasional, pembangunan negara, kekuatan militer, dan kesiapan untuk berperang. Kami tidak akan pernah menyerah.”

Ia menambahkan: “Masalah utamanya bukanlah keberadaan senjata Perlawanan, melainkan keberadaan penjajah Israel. Tugas kita adalah mengusir penjajah, mendukung Perlawanan, dan membela rakyat. Upaya melucuti senjata Perlawanan sama saja dengan memberikan layanan kepada musuh — dan itu tidak akan pernah terjadi.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *