Reuters: Pejabat AS Diam-diam Bertemu ‘Menteri Luar Negeri’ Rezim Jolani di New York
POROS PERLAWANAN – Di tengah bayang-bayang krisis kemanusiaan dan kehancuran akibat lebih dari satu dekade perang proksi, Amerika Serikat kembali memainkan kartu lamanya: menjalin kontak dengan tokoh-tokoh dari apa yang mereka sebut sebagai “lembaga sementara Suriah”; sebuah entitas oposisi yang sejak awal dibentuk dan disokong untuk merobohkan kedaulatan Damaskus.
Mengutip laporan Reuters pada Rabu 30 April, Menteri Luar Negeri rezim boneka Suriah, Asaad Al-Shaibani, dilaporkan telah melakukan perjalanan ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Menurut dua sumber yang dikutip Reuters, Al-Shaibani dijadwalkan bertemu dengan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS dalam pertemuan yang disebut-sebut sebagai yang pertama kali terjadi di wilayah AS.
Langkah ini muncul tak lama setelah pihak Damaskus, menurut laporan yang belum dikonfirmasi secara resmi, menanggapi daftar panjang syarat yang diajukan Washington terkait kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi, sanksi yang sejauh ini telah melumpuhkan ekonomi Suriah dan memperparah penderitaan rakyat sipil.
Dalam kunjungannya, Al-Shaibani dilaporkan mengibarkan bendera “Tiga Bintang” peninggalan pemberontakan bersenjata Suriah di markas besar PBB, sebuah simbol yang kini lebih mencerminkan kepatuhan terhadap agenda asing ketimbang representasi rakyat Suriah.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Bruce membenarkan bahwa beberapa perwakilan dari “lembaga sementara Suriah” memang hadir di New York. Namun, ia enggan mengomentari secara langsung apakah telah terjadi pertemuan resmi antara mereka dan pihak AS.
“Kami terus meninjau kebijakan kami terhadap Suriah secara cermat, dan akan menilai lembaga sementara ini berdasarkan tindakan mereka,” ujarnya, tanpa menjelaskan kriteria penilaian yang mereka pakai selain standar ganda khas Washington.
Bruce menegaskan bahwa saat ini Amerika Serikat belum berniat menormalisasi hubungan diplomatik dengan Suriah, namun juga menolak memberikan rincian terkait interaksi di balik layar.
Pertemuan ini terjadi di tengah dinamika yang semakin rumit di Kawasan, di mana banyak negara Arab perlahan mulai membuka kembali hubungan dengan Damaskus, sementara Washington justru berusaha memperkuat kembali bayangan oposisi buatan sebagai alat tawar-menawar.
Bagi rakyat Suriah yang telah bertahan dari agresi bersenjata, intervensi asing, dan embargo ekonomi, langkah-langkah seperti ini hanya menegaskan satu hal: imperialisme tak pernah benar-benar mengundurkan diri, ia hanya berganti wajah dan taktik.
