Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Tur Al-Jolani Keliling Dunia: Upaya Legitimasi ‘Mantan Pelaku Teror’ di Tengah Restorasi Normalisasi Regional dengan Israel

POROS PERLAWANAN — Dalam sebuah ironi sejarah yang mencengangkan, Abu Muhammad al-Jolani— yang selama ini dikenal sebagai tokoh utama kelompok teroris Haiat Tahrir al-Sham (dahulu Jabhah al-Nusra), dilaporkan melakukan kunjungan resmi ke Bahrain, hanya beberapa hari setelah kembali dari Paris. Kunjungan ini, yang disambut langsung oleh Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa di Istana Al-Sakhir, menandai babak baru dalam upaya sistematis beberapa rezim Arab dan Barat untuk mencuci bersih catatan terorisme al-Jolani dan mendaur ulangnya sebagai aktor “sah” dalam peta politik regional.

Menurut laporan surat Kabar Kayhan yang terbit pada Senin 12 Mei, perjalanan al-Jolani ke Bahrain ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa bulan terakhir, ia juga mengadakan kunjungan ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, dan bahkan dilaporkan diundang resmi ke Baghdad untuk menghadiri KTT Liga Arab meskipun kemudian dibatalkan menyusul gelombang kecaman internal. Hal yang paling mencolok adalah sambutan aneh Presiden Prancis, Emmanuel Macron di Istana Elysee, yang secara pribadi keluar menyambut kedatangan al-Jolani di mobilnya. Ini adalah bukti nyata bagaimana Barat kini terlibat langsung dalam “operasi cuci tangan” terhadap aktor-aktor kekerasan yang sebelumnya dikategorikan sebagai teroris tingkat tinggi, yang bahkan pernah dianggap bahwa “kepalanya paling diincar dan dicari” dengan imbalan tak kalah tinggi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendekatan terhadap krisis Suriah tengah mengalami pergeseran mendalam, dari perang keterlibatan tidak langsung melalui proksi, menuju skenario normalisasi hasil proksi. Upaya memberi legitimasi politik kepada sosok seperti al-Jolani merupakan cerminan dari reposisi sejumlah negara terhadap “keseimbangan kekuatan baru” di Suriah dan Kawasan secara umum. Strategi ini tidak hanya berfungsi sebagai eksperimen diplomatik Barat-Arab terhadap masa depan Suriah, tetapi juga menjadi alat penetrasi terhadap Poros Perlawanan yang menolak normalisasi dengan Israel, terutama Suriah di bawah Pemerintahan Damaskus yang sah.

Sementara itu, rezim Israel tampaknya tidak tinggal diam. Dalam laporan paralel, intelijen Israel mengungkap adanya pembicaraan rahasia untuk mengembalikan jenazah mata-mata bersejarah Eli Cohen, yang berhasil menyusup ke jantung kekuasaan Suriah sebelum akhirnya dieksekusi pada 1965. Ini bukan sekadar misi kemanusiaan, melainkan bagian dari operasi nostalgia kolonial untuk menghidupkan kembali jaringan pengaruh Israel di Suriah melalui jalur simbolik dan politik.

Pada waktu yang sama, suara-suara “oposisi” dari internal Suriah mulai bergema secara kontradiktif. Pemimpin Spiritual Druze Suriah, Hikmat al-Hijri, secara terbuka menyatakan bahwa “Israel bukanlah musuh” dan meminta intervensi internasional di wilayah selatan Suriah, sebuah pernyataan yang langsung dimanfaatkan Israel untuk menanam pengaruh melalui celah sektarian dan kerapuhan internal.

Realitas ini menegaskan satu hal bahwa proyek restorasi teroris dan rekonstruksi geopolitik Suriah oleh Barat dan sekutunya tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti kostum, dari perlawanan bersenjata kelompok teroris ala Jabhah al-Nusra ke diplomasi konferensi ala al-Jolani, dari sabotase militer di masa lalu ke pelukan kenegaraan di masa kini.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *