Negosiasi Muscat: Kamuflase Trump Mengemis Damai Setelah Gagal Menundukkan Iran
POROS PERLAWANAN – Dalam dunia politik kekuasaan, kebenaran jarang datang dari mulut penguasa. Adapun dalam kasus Donald Trump serta perundingan Muscat, kita menyaksikan bagaimana narasi Barat, terutama Amerika yang berkali-kali mencoba memutarbalikkan kenyataan untuk menyamarkan kekalahan sebagai strategi, dan kelemahan sebagai diplomasi.
Dalam masa kepemimpinannya, Trump meluncurkan kebijakan yang disebutnya sebagai “Tekanan Maksimum” terhadap Republik Islam Iran. Dengan pongah, ia mencoba menundukkan Iran lewat tekanan ekonomi, sabotase, dan ancaman militer. Bersama Mike Pompeo dan pasukan neokonservatif di Washington, mereka ingin memaksa Teheran menyerah pada apa yang mereka sebut “perjanjian komprehensif”, padahal pada intinya, mereka menginginkan Iran melepaskan kedaulatannya dan tunduk pada tatanan imperialis.
Namun hari ini, fakta berbicara lain. Amerika yang pernah memaksakan kehendaknya dari posisi superior dan keangkuhan, kini justru berinisiatif membuka jalur diplomasi, bahkan melalui jalur rahasia seperti yang terjadi di Muscat. Bukan karena tiba-tiba mereka mencintai perdamaian, tetapi karena realitas regional memaksa mereka harus mundur teratur.
Kekuatan Iran, baik dari pengayaan uranium 60%, keunggulan sistem rudalnya, hingga daya pengaruhnya atas Poros Perlawanan di Kawasan, telah mengubah kalkulasi Pentagon. Bahkan CENTCOM mengakui bahwa opsi militer terhadap Iran bukan saja tidak efektif, tapi juga bisa memicu perang regional yang menghancurkan seluruh arsitektur kepentingan AS di Asia Barat.
Narasi Trump tentang perundingan Muscat, yang ia bangun seakan-akan sebagai inisiatif damai dari pihak kuat, tidak lebih dari upaya menyembunyikan fakta bahwa Washington lah yang kali ini justru mengemis perundingan. Meski ini bukan yang pertama. Sejarah hubungan AS-Iran sarat dengan episode kemunafikan dan manipulasi diplomatik ala Gedung Putih.
Lebih ironis lagi, Trump yang gagal di hampir semua lini kebijakan luar negeri, dimulai dari Korea Utara hingga Ukraina, selalu berusaha menjadikan isu nuklir Iran sebagai panggung pencitraan pragmatisme. Padahal, permintaan negosiasi datang dari mereka. Iran tidak pernah mendekati Washington terlebih dahulu, melainkan justru menunggu hingga tanda-tanda kegagalan kebijakan Tekanan Maksimum menjadi nyata.
Pelajaran utamanya adalah Iran membuktikan bahwa dengan keteguhan prinsip, penguasaan teknologi strategis, dan kesiapan menghadapi segala bentuk agresi, bahkan negara seperti Amerika pun harus menanggalkan retorika hegemoniknya.
Sementara kepada publik dunia, Iran ingin menegaskan agar jangan sampai tertipu oleh narasi heroik ala Barat. Karena seperti halnya negosiasi yang kini dibanggakan sebagai prestasi Trump, sesungguhnya adalah pengakuan diam-diam atas kegagalan total strategi tekanan. Di Muscat, yang terjadi bukanlah diplomasi dari kekuatan, melainkan lobi panik dari kekuasaan yang tak lagi punya taring.
