Tur Donald Trump ke Teluk Persia: Murni Agenda Perburuan Keuntungan, Bukan Komitmen terhadap Perdamaian Kawasan
POROS PERLAWANAN – Kunjungan Presiden AS, Donald Trump ke kawasan Teluk Persia pada Selasa 13 Mei lebih menyerupai manifestasi ambisi pribadi ketimbang komitmen terhadap perdamaian. Di tengah konflik yang terus berkecamuk di wilayah tersebut, Trump membawa agenda yang terfokus pada keuntungan ekonomi dan ekspansi bisnis, mengabaikan upaya meredakan ketegangan yang telah melanda Kawasan selama bertahun-tahun.
Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, menjadi persinggahan pertama dalam tur tiga negara Trump yang mencakup Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Kunjungan ini dibuka dengan sambutan meriah dari Putra Mahkota Saudi, Mohammad bin Salman, yang mempresentasikan investasi raksasa senilai $600 miliar di AS, serta paket persenjataan senilai hampir $142 miliar. Kedatangan Trump di tengah bayang-bayang krisis regional yang belum terpecahkan ini menggambarkan satu realitas telanjang; prioritas utamanya adalah bisnis, bukan perdamaian.
Kehadiran Trump di Asia Barat mengingatkan pada tur luar negeri pertamanya yang juga menyambangi wilayah sensitif, termasuk Wilayah Pendudukan Israel. Bagi Trump, ini adalah momentum untuk menjual “kesuksesan ekonomi” AS dengan menandatangani berbagai kesepakatan raksasa, meskipun di balik layar, gelombang kritik terus membuncah. Banyak pihak mempertanyakan apakah kepentingan pribadi Trump, terutama jaringan bisnis keluarganya yang merambah ke kawasan ini, dan telah mengontaminasi kebijakan luar negeri AS.
Keluarga Kerajaan Qatar dilaporkan akan menyumbangkan pesawat Boeing 747-8 senilai $400 juta untuk perpustakaan kepresidenan Trump, sebuah “hadiah” yang memungkinkannya terus menggunakan pesawat mewah tersebut meski sudah meninggalkan jabatan. Ini hanya sepotong kecil dari rangkaian transaksi bisnis keluarga Trump di kawasan Teluk, yang meliputi investasi di properti, lapangan golf, dan transaksi digital. Para kritikus menegaskan bahwa langkah-langkah ini bukan sekadar mengaburkan batas antara kepentingan nasional dan pribadi, tetapi juga sistematis merusak hubungan AS dengan sekutu-sekutu tradisionalnya di Eropa, Kanada, dan Meksiko.
Trump berambisi lebih jauh. Ia berharap bisa membujuk negara-negara petrodollar Teluk untuk membeli lebih banyak gas alam cair (LNG) dan mendongkrak produksi minyak mentah AS, yang baginya bisa menjadi “win-win solution” bagi perekonomian AS. Dalam bahasa yang lebih telanjang, Trump datang dengan agenda menambal defisit ekonomi Amerika dengan darah dan keringat negara-negara Teluk.
Geopolitik Teluk, Drama yang Tak Kunjung Usai
Ironisnya, saat Trump menginjakkan kaki di kawasan ini, retorikanya bertolak belakang dengan realitas yang dihadapi AS di Asia Barat. Saat awal menjabat, Trump memproklamasikan diri sebagai “Presiden Perdamaian”, dengan janji mengakhiri perang di Gaza dan menghancurkan kekuatan Yaman yang dianggap mengancam Israel. Namun, tiga bulan setelahnya, Israel justru memperparah konflik dengan menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya difasilitasi Trump dan memperketat blokade terhadap Gaza. Tak ada kecaman berarti dari Washington, memperlihatkan bahwa perdamaian sesungguhnya bukan prioritas dalam kebijakan luar negeri Trump.
Di Laut Merah, AS terpaksa mundur setelah menderita kerugian signifikan akibat serangan drone dan jet tempur Yaman, membuktikan bahwa strategi Trump untuk menumpas kekuatan anti-Israel tak lebih dari ilusi belaka. Yaman terus melancarkan serangan presisi ke target-target Israel, menunjukkan bahwa kekuatan militer negara tersebut mampu mengimbangi bahkan mengalahkan serangan dari AS dan sekutunya.
Begitu pula dengan upaya penyelesaian program nuklir Iran. Meskipun Trump memulai pembicaraan tidak langsung dengan Teheran, tak ada hasil konkret yang tercapai. Beberapa petinggi dalam Pemerintahan Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, lebih condong pada opsi militer daripada jalur diplomasi. Hal ini membuka lebar kemungkinan terjadinya konflik regional berskala besar yang akan menjerumuskan AS lebih dalam ke kubangan perpecahan yang tak kunjung reda di Asia Barat.
Perdamaian atau Pengejaran Keuntungan?
Pada akhirnya, kunjungan Trump ke Teluk Persia lebih mencerminkan perburuan keuntungan finansial daripada upaya meredakan ketegangan yang telah lama membara. Meski ia mengisyaratkan keinginan untuk berunding dengan Iran, substansi yang ia bawa lebih mirip ultimatum dan tekanan maksimal. Hal ini mengingatkan pada kebijakan “Tekanan Maksimum” yang terbukti gagal, karena Iran terus melawan dan menemukan jalur-jalur alternatif untuk bertahan, salah satunya dengan mempererat aliansi strategis dengan Tiongkok.
Ironisnya, selama ini, pihak yang diuntungkan dari kebijakan Trump hanyalah ekonomi AS dan lingkaran oligarki yang memiliki kedekatan dengannya. Trump gagal menghadirkan perdamaian yang dijanjikan. Sebaliknya, kebijakan luar negerinya yang berorientasi pada keuntungan pribadi dan ekspansi ekonomi justru makin memperburuk kondisi geopolitik yang sudah terpecah. Sebuah paradoks mencolok; di tengah ambisi mengeklaim keberhasilan ekonomi, Trump justru mengabaikan akar permasalahan di Kawasan yang telah lama terjerat dalam pusaran konflik dan ketidakstabilan.
Di balik gemerlap transaksi ekonomi ini, persoalan fundamental yang dihadapi Asia Barat, terutama pembantaian di Palestina dan perlawanan Yaman, tetap menggantung tanpa solusi yang bermartabat. Sementara itu, Trump melanjutkan safari bisnisnya, membawa pulang lebih banyak keuntungan untuk “ekonomi terbesar dunia”, meski perdamaian tetap menjadi fatamorgana di padang pasir geopolitik Timur Tengah. [PP/MT]
