Lanjutkan Gaya Arogan, Trump Sebut Perang Dagang Belum Usai dan Gelombang Tarif Baru Bakal Segera Diumumkan
POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menegaskan bahwa perang dagang yang digagas pemerintahannya belum berakhir. Ia memperingatkan bahwa tarif baru akan segera diberlakukan terhadap sejumlah negara mitra dagang yang dinilai lamban dalam merespons ajakan negosiasi.
Dalam pidatonya pada sebuah forum ekonomi di Abu Dhabi, pada Jumat 16 Mei, Trump menyatakan bahwa proses perundingan perdagangan berlangsung terlalu lambat, dan Amerika Serikat tidak memiliki kapasitas untuk bernegosiasi secara bersamaan dengan semua negara yang ingin menjalin kesepakatan dagang.
“Saat ini, ada sekitar 150 negara yang ingin membuat kesepakatan dengan kami, tetapi Anda tidak bisa bertemu dengan semuanya sekaligus,” ujar Trump. “Jadi dalam satu atau dua minggu ke depan, Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick akan mengirimkan pemberitahuan resmi tentang besaran tarif yang harus dibayar negara-negara tersebut untuk berbisnis di Amerika.”
Trump menekankan bahwa meskipun pemerintahannya akan bersikap “adil”, negara-negara yang tidak bergerak cepat dalam perundingan harus siap menghadapi tarif balasan yang dapat mencapai hingga 50 persen, khususnya mereka yang memiliki defisit perdagangan besar terhadap AS.
Batas Waktu 90 Hari untuk Negosiasi
Pada 9 April, Trump memutuskan menangguhkan pemberlakuan tarif tinggi yang semula diumumkan pada 2 April, memberi waktu selama 90 hari bagi negara-negara mitra untuk merespons ajakan negosiasi. Pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa lebih dari 100 negara menyatakan minatnya, menambah tekanan terhadap tim perunding perdagangan AS.
Namun, dengan waktu yang terbatas dan permintaan yang tinggi, Trump mengisyaratkan bahwa pendekatan selektif akan diterapkan.
“Mereka boleh saja protes, tapi kenyataannya kita tak bisa melayani semuanya,” ujarnya. “Kami akan berusaha adil, tapi kami harus bergerak.”
Tarif Unilateral dan Strategi Tekanan
Trump sebelumnya telah menyampaikan niatnya untuk memberlakukan tarif secara sepihak. Pada 23 April lalu, ia menyatakan di Gedung Putih bahwa tarif akan dikenakan kepada negara-negara yang tidak menunjukkan kemajuan negosiasi dalam beberapa minggu mendatang.
Meski menuai kritik dari berbagai pihak, Trump mengeklaim bahwa pendekatan ini mulai menunjukkan hasil. Dua kerangka kerja baru telah diumumkan: satu dengan Inggris, yang diumumkan awal bulan ini, dan satu lagi dengan Tiongkok, yang dinegosiasikan di Jenewa oleh Menteri Keuangan, Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer.
