Jurnalis Israel: Tak Cuma Berpangku Tangan, Hamas Tengah Rekonstruksi Kekuatan Militernya
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah wawancara, jurnalis Radio Militer Israel, Doron Kadosh menegaskan bahwa jika operasi darat dilakukan, merebut kembali Gaza sepenuhnya bisa berlangsung selama berpekan-pekan, bahkan berbulan-bulan.
Diberitakan al-Alam, Kadosh menyatakan bahwa para pejabat senior militer dan keamanan Israel meyakini, kontrol atas kawasan luas di Gaza akan menghadapi perlawanan sengit dan menelan biaya besar.
“Pertanyaannya bukan berapa lama operasi ini akan berlangsung. Yang penting adalah ‘harga’ yang mesti dibayar untuk itu. Berapa serdadu yang akan tewas? Berapa lama kita harus tinggal di Gaza dan menjaganya dalam kontrol kita?” kata Kadosh.
Ia mengungkit pengalaman Militer Israel dalam berbagai perang di masa lalu. Menurutnya, pendudukan sebuah kawasan dalam jangka panjang membebankan biaya besar bagi Israel. Sebab, musuh secara bertahap akan mengenal taktik-taktik Militer Israel dan menggunakan perang gerilya untuk mendatangkan lebih banyak kerugian.
Di bagian lain wawancaranya, Kadosh juga menyoroti situasi kepemimpinan dalam struktur militer Hamas. Ia mengatakan,”Jika kabar teror Muhammad Sinwar dan Muhammad Shabanah benar, sekarang pemimpin terkemuka yang masih tersisa di Gaza adalah Komandan Brigade Gaza, Izzuddin Haddad. Kemungkinan para pimpinan Hamas di luar Gaza berkomunikasi dengannya.”
Kadosh juga bicara soal peran para pimpinan Hamas di luar Gaza. Ia menyebut Khalil al-Hayyah, yang menetap di Qatar, sebagai tokoh berpengaruh Hamas saat ini.
Sehubungan dengan kontradiksi Militer Israel soal penghancuran terowongan-terowongan Hamas, Kadosh mengatakan,”Pada suatu periode, Militer percaya bahwa Brigade Rafah dan Khan Younis telah dihancurkan. Begitu pula sebagian besar terowongan. Namun kini jelas bahwa hanya sekitar 25 persen terowongan yang hancur. Dalam rentang waktu ini, Hamas juga tidak berpangku tangan, tapi sedang merekonstruksi kekuatan militernya.”
“Siapa pun yang bermimpi menghancurkan Hamas hingga pejuang dan terowongan terakhir, berarti dia sedang berkhayal. Upaya untuk membendung kekuatan militer Hamas bukan hanya di Gaza, tapi di Tepi Barat, Lebanon, Suriah, Yordania, dan kawasan-kawasan lainnya, akan menghabiskan waktu bertahun-tahun,” pungkas Kadosh.
