Loading

Ketik untuk mencari

Profil

Kepala Kehakiman Iran: Syahid Ibrahim Raisi Teguh di Jalan Revolusi Sejak Awal Pengabdian Hingga Hari Kesyahidan

POROS PERLAWANAN – Kepala Peradilan Iran, Hujjatul Islam wal Muslimin Mohseni Ejei, menyampaikan sejumlah kesaksian pribadi dan penilaian mendalam mengenai kepribadian Syahid Ebrahim Raisi dalam sebuah acara penghormatan yang digelar di Marmaddar, pada Minggu malam (15/5).

Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Minggu, Ejei menggambarkan Syahid Raisi sebagai sosok yang konsisten sejak awal berada di jalur kepemimpinan dan garis sistem Islam, serta tak pernah menyimpang dari prinsip-prinsip revolusi.

Awal Perkenalan dan Semangat Revolusioner

Menarik kembali ingatannya ke era sebelum kemenangan Revolusi Islam, Ejei mengatakan bahwa pada tahun-tahun sekitar 1955 (kalender Iran), semangat revolusioner mulai tumbuh di lingkungan Hauzah Ilmiah (pesantren). Sosok-sosok seperti Syahid Beheshti, ujar Ejei, menjadi pelopor dalam mengangkat isu-isu politik di tengah lingkungan keagamaan. Para pemuda yang sadar akan dinamika tersebut berupaya mendekat kepada para tokoh ini, termasuk Ibrahim Raisi yang saat itu mulai dikenalinya.

“Saya belum mengenalnya sebelum revolusi. Setelah revolusi, barulah saya berkenalan dengan beliau. Saat itu para pemuda banyak yang bergabung ke pengadilan, dan semangat perjuangan melawan korupsi sangat menggelora,” kenangnya.

Kerja Sama Intensif di Dunia Peradilan

Lebih lanjut, Ejei menjelaskan fase penting dalam kerja sama mereka di institusi kehakiman. Ketika Hujjatul Islam Sayyid Mohammad Eshraqi diangkat sebagai Jaksa Teheran pada 2017, Raisi ditugaskan sebagai kepala unit keamanan di bawah Kejaksaan Revolusioner.

“Pada waktu itu, kantor kejaksaan dibagi menjadi dua bagian: masalah ekonomi dan keuangan menjadi tanggung jawab saya, sedangkan urusan keamanan dan penuntutan ditangani oleh Tuan Raisi. Kami berdua dianggap sebagai wakil jaksa penuntut, dan komunikasi kami semakin intensif sejak saat itu,” ujarnya.

Menurut Ejei, hubungan kerja tersebut tidak pernah terputus hingga hari syahadah (kesyahidan) Raisi, bahkan terus berlanjut secara erat selama lebih dari empat dekade.

Karakter yang Konsisten dan Tak Kenal Lelah

Ejei menyoroti keistiqamahan Raisi sebagai karakter istimewa. “Setelah revolusi, banyak orang yang secara lahiriah tampak revolusioner, namun belakangan menyimpang. Tapi Syahid Raisi sejak awal tetap berada di jalan yang lurus, setia pada kepemimpinan dan prinsip sistem,” tegasnya.

Ejei juga mengagumi etos kerja Raisi yang tanpa lelah. “Saat saya menjadi wakilnya di pengadilan, saya menyaksikan langsung bagaimana beliau selalu menindaklanjuti setiap perkara dengan serius dan tak mengenal lelah,” tambahnya.

Kembali ke Peradilan karena Komitmen

Ejei menjelaskan bahwa kembalinya Raisi dari Haram Suci Imam Ridha (as) ke dunia kehakiman merupakan keputusan penuh tanggung jawab. “Pada saat itu, tak ada sosok yang lebih layak memimpin lembaga kehakiman selain beliau. Mayoritas hakim juga sepakat akan hal itu,” katanya.

Ia juga menyinggung komitmen Raisi terhadap upaya pencegahan kejahatan. “Selama lebih dari tiga dekade, kita tidak memiliki struktur yang jelas untuk pencegahan. Masa Ayatullah Amoli menjadi awal lahirnya gagasan transformasi, dan Shahid Raisi sangat tertarik menyusun Dokumen Transformasi bagi lembaga peradilan.”

Perjuangan Melawan Korupsi Ekonomi

Terkait langkah-langkah tegas dalam memerangi korupsi ekonomi, Ejei mengungkapkan bahwa pada tahun 2018, atas izin dari Pemimpin Tertinggi, dibentuk Dewan Tertinggi Koordinasi Ekonomi. Di forum itu, lembaga kehakiman menyampaikan kebutuhan untuk mereformasi prosedur agar bisa menangani kasus korupsi secara cepat dan terbuka.

“Sayangnya, beberapa proses hukum tertunda hingga 2019, namun akhirnya kami bisa menanganinya. Tentu saja, tekanan dari para pemangku kepentingan dalam pengadilan seperti itu sangat besar,” terangnya.

Meski begitu, Ejei menegaskan pentingnya prinsip keterbukaan. “Saya pribadi berpendapat bahwa persidangan harus dilakukan secara terbuka, karena ini memberikan efek jera dan meningkatkan kesadaran publik,” ujarnya.

Kesetiaan yang Tak Berubah hingga Akhir

Menurut Ejei, karakter Raisi tetap konsisten, bahkan setelah menjabat sebagai Presiden Iran. “Persahabatan kami justru semakin kuat. Kami banyak bersama dalam berbagai kesempatan dan menjaga komunikasi dengan baik.”

Hari Dukacita yang Tak Terlupakan

Mengenang tragedi wafatnya Presiden Raisi, Ejei berkata dengan suara berat: “Bagaimana mungkin kita melupakan hari itu? Kita kehilangan sosok yang sangat kita cintai. Saya tidak ingat jam berapanya, tetapi saya ingat saat mendengar bahwa helikopter beliau hilang. Awalnya saya berharap beliau mungkin singgah di sebuah desa. Tapi kabar selanjutnya membuat kegelisahan saya meningkat. Berita tentang kemartirannya sangat menghancurkan hati.”

Tags: