Pemukim Israel Serbu Masjid Al-Aqsa, Serangan Militer di Tepi Barat Semakin Meluas
POROS PERLAWANAN — Dilansir al-Mayadeen, situasi di wilayah pendudukan Palestina kembali memanas setelah puluhan pemukim Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada pagi Selasa 20 Mei. Aksi tersebut berlangsung di bawah perlindungan ketat pasukan keamanan Israel dan menimbulkan ketegangan baru di tengah meningkatnya eskalasi di Tepi Barat.
Menurut sumber-sumber lokal, para pemukim masuk ke area suci Umat Islam tersebut secara berkelompok. Mereka melakukan tur keliling di halaman masjid dan melaksanakan ritual keagamaan Yahudi, yang dianggap sebagai tindakan provokatif oleh warga Palestina. Penyerbuan itu terjadi di tengah gelombang kekerasan yang terus meluas di berbagai wilayah Tepi Barat.
Di saat yang sama, pasukan militer Israel meningkatkan operasi mereka di wilayah-wilayah Palestina, dengan penggerebekan besar-besaran di kota-kota dan kamp pengungsi. Setidaknya 10 warga Palestina ditahan semalam di wilayah Beit Lahm. Serangan militer juga terjadi di kamp pengungsi Askar Lama, dekat Nablus, sebagai bagian dari kampanye penangkapan yang meluas.
Tidak hanya itu, di wilayah selatan Tepi Barat, sekelompok pemukim Israel dilaporkan menyerang seorang pria Palestina dan istrinya di daerah Masafer Yatta, al-Khalil. Kedua korban mengalami luka akibat serangan tersebut. Aksi ini menjadi bagian dari tren kekerasan yang terus meningkat terhadap warga Palestina di Area C, wilayah yang berada di bawah kendali penuh Israel.
Serangan juga terus terjadi di Jenin, Tulkarm, dan Ramallah. Pasukan Israel menyerbu beberapa desa dan menahan sejumlah warga, termasuk dalam penggerebekan di kamp pengungsi Balata.
Kekerasan memuncak di kota Bruqin, yang telah mengalami blokade total selama empat hari. Pasukan Israel bahkan menyita rumah-rumah warga untuk dijadikan pos militer sementara. Di kota al-Khader, pasukan menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa, menyebabkan sejumlah warga menderita gangguan pernapasan.
Eskalasi ini menunjukkan pola kekerasan sistematis yang memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah pendudukan Palestina.
