Dua Pegawai Kedutaan Israel Tewas Ditembak di Washington
POROS PERLAWANAN — Dua pegawai Kedutaan Besar Israel di Amerika Serikat tewas dalam insiden penembakan yang terjadi pada Rabu malam (21/5) di luar Museum Yahudi di Washington, D.C. Insiden tersebut langsung memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Amerika Serikat dan pejabat Israel, yang mengecam aksi kekerasan tersebut sebagai serangan antisemitisme yang brutal.
Menurut laporan The New York Times pada Kamis, penembakan terjadi sekitar pukul 21.00 waktu setempat di persimpangan Third Street dan F Street NW, tidak jauh dari Fakultas Hukum Universitas Georgetown dan kantor lapangan FBI. Penembakan terjadi saat berlangsungnya sebuah acara yang diselenggarakan oleh Komite Yahudi Amerika di Museum Yahudi.
Departemen Kepolisian Metropolitan Washington mengonfirmasi bahwa dua staf kedutaan Israel, masing-masing seorang pria dan seorang wanita, tewas di tempat kejadian. Beberapa korban lainnya, termasuk staf kedutaan, dilaporkan mengalami luka-luka dan tengah menjalani perawatan di rumah sakit setempat.
Reaksi Pejabat Israel dan AS
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyampaikan kecaman keras atas insiden tersebut. Ia menyebut penembakan itu sebagai serangan yang bukan hanya menargetkan individu, tetapi juga komunitas Yahudi secara keseluruhan.
“Melukai para diplomat dan komunitas Yahudi sudah melewati batas. Kami yakin pihak berwenang AS akan mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang bertanggung jawab atas tindakan kriminal ini,” ujar Danon dalam pernyataannya.
Dari pihak Amerika Serikat, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem mengonfirmasi bahwa para korban adalah pegawai resmi Kedutaan Israel dan menyatakan bahwa penyelidikan telah dibuka dengan melibatkan berbagai lembaga, termasuk FBI.
Sementara itu, Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, mengutuk insiden tersebut dan menyebutnya sebagai “tindakan antisemitisme mengerikan yang semakin merajalela di masyarakat kita.”
Trump: “Mengerikan dan Tidak Boleh Dibiarkan”
Presiden AS Donald Trump juga angkat bicara melalui akun media sosialnya Truth Social. Dalam unggahannya, ia menyebut penembakan tersebut sebagai “pembunuhan mengerikan” dan “jelas-jelas bermotif antisemitisme.”
“Ujaran kebencian dan ekstremisme tidak punya tempat di Amerika. Belasungkawa saya kepada keluarga korban. Sungguh menyedihkan hal seperti ini bisa terjadi. Semoga Tuhan memberkati Anda semua,” tulis Trump.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Hingga kini, pihak kepolisian belum merilis identitas pelaku ataupun motif resmi penembakan. Namun, pihak berwenang mengindikasikan bahwa kemungkinan besar aksi tersebut merupakan kejahatan bermotif kebencian.
FBI bersama dengan Dinas Rahasia AS dan otoritas lokal saat ini masih menyisir area kejadian, mengumpulkan bukti forensik, serta memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi.
Ketegangan Meningkat
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap lonjakan aksi kekerasan berbasis kebencian di AS, terutama yang ditujukan kepada komunitas Yahudi. Laporan dari Anti-Defamation League (ADL) pada awal tahun mencatat peningkatan signifikan dalam insiden antisemitisme di berbagai wilayah AS dalam dua tahun terakhir.
Kehadiran para diplomat Israel dalam acara publik di tengah kondisi geopolitik yang tegang menimbulkan pertanyaan mengenai langkah-langkah pengamanan yang diterapkan.
