Mahmoud Hamza, Contoh Proyek ‘Jolani’ Gagal di Libya?
POROS PERLAWANAN – Di balik topeng stabilisasi dan wacana negara hukum, nama Mahmoud Hamza mengemuka sebagai pion sentral dalam skema dominasi asing di Libya. Sebagai Komandan Brigade 444 dan Direktur Intelijen Militer di bawah GNU (Government of National Unity), Hamza tidak sekadar seorang prajurit, ia adalah arsitek lokal dari proyek pendudukan baru yang dibungkus narasi modernisasi dan keamanan.
Pihak-pihak yang selama ini dikenal sebagai dalang perpecahan di Dunia Islam, yakni Amerika Serikat, Turki, dan Qatar, tengah memoles sosok ini sebagai “aset” lokal yang bisa dijinakkan, dikendalikan, dan diandalkan untuk memblokade potensi kebangkitan perlawanan sejati di Libya. Narasi bahwa ia adalah “al-Jolani versi Libya” bukan hanya sindiran tajam, melainkan refleksi dari upaya kolonialisasi baru yang mengandalkan wajah lokal untuk menutupi tangan asing.
Brigade 444: Proksi Berbaju Negara
Brigade 444 sering digambarkan sebagai satuan elite di bawah Kementerian Pertahanan, yang katanya bertugas memerangi kejahatan dan menegakkan hukum. Namun faktanya, satuan ini justru menjadi kekuatan militer yang dibina, dipersenjatai, dan dipandu langsung oleh kepentingan asing, khususnya Turki dan NATO.
Pascaintervensi Turki pada 2019, lebih dari 15.000 personel Libya dilatih oleh militer Turki, termasuk elemen Brigade 444. Apa maknanya? Libya barat bukan lagi kawasan kedaulatan, melainkan zona pendudukan gaya baru, di mana pangkalan militer berganti nama menjadi “kantor koordinasi”, dan milisi asing diubah label menjadi “pasukan resmi”.
Brigade 444 hanyalah salah satu instrumen dominasi ini. Dengan struktur disiplin yang katanya “rapi”, kekuatan ini justru lebih mirip seperti Janissary baru untuk melayani kepentingan maritim Turki, memastikan jalur gas tetap aman, dan menindak siapa pun yang berani melawan.
Dari Salafi ke Soft Islamis: Propaganda “Moderasi” Gaya NATO
Mahmoud Hamza disebut-sebut dekat dengan jaringan Salafi-Jihadi maupun Ikhwanul Muslimin (IM), dua kutub ideologis yang selama ini menjadi mitra strategis Barat dalam merusak inti dari perjuangan Islam yang merdeka. Pola ini bukan hal baru. Di Suriah, al-Jolani, dari seorang pemimpin kelompok Takfiri al-Qaeda, dipoles menjadi aktor “moderat” agar bisa dijadikan benteng pertahanan melawan Rusia dan Iran. Skema yang sama kini coba diterapkan di Libya.
Namun, Libya bukan Suriah. Fragmentasi internal di Tripoli, kekuatan rival di Benghazi, dan sikap kritis di selatan menjadikan proyek semacam ini penuh ranjau. Tidak ada konsensus, tidak ada legitimasi yang tunggal, dan tidak ada ruang bagi boneka asing untuk menjelma sebagai pemimpin nasional.
Amerika dan Turki; Dua Kepala Satu Ular
Washington dan Ankara kini berbagi Libya barat layaknya dua mafia yang sedang membagi wilayah kekuasaan. Amerika ingin menyingkirkan Rusia dan memastikan Libya tidak jatuh ke orbit Eurasia. Sementara Turki membangun poros Islam politik yang tunduk pada kepentingan NATO. Dalam skema ini, Mahmoud Hamza adalah titik temu; tokoh “stabil” yang bisa diajak kompromi, namun cukup militan untuk dipakai menghabisi lawan politiknya.
Akan tetapi, kompromi macam ini bukan solusi, melainkan jebakan. Alih-alih membawa Libya menuju kemerdekaan, ia menyeret negeri ini lebih dalam ke rawa penjajahan gaya baru, di mana nasionalisme hanya jargon, dan kekuasaan dikendalikan dari Ankara dan Washington.
Krisis Mei 2025: Retaknya Topeng “Stabilitas”
Bentrokan bersenjata antara Brigade 444 dan Stability Support Apparatus (SSA) pimpinan Abdel Ghani al-Kikli bukanlah sekadar konflik antaraparat negara. Ini adalah bukti nyata bahwa proyek stabilisasi berbasis kekuatan “resmi” adalah omong kosong. Apa yang terjadi di lapangan adalah perebutan wilayah, logistik, dan kontrol, semua atas nama “negara”.
Penahanan Hamza oleh RADA pada 2023 memperjelas bahwa bahkan dalam blok yang sama, tidak ada kepercayaan, tidak ada kejelasan loyalitas, dan tidak ada arah nasional. Proyek ini tidak membangun negara. Ia membagi Libya menjadi kantong-kantong kuasa pribadi yang disponsori asing.
Stabilitas Palsu, Perlawanan Sejati
Hamza dan Brigade 444 mungkin menang di Tripoli hari ini. Namun kemenangan ini tidak menjawab luka bangsa. Libya tidak membutuhkan pasukan elite pro-Turki. Ia membutuhkan tentara rakyat yang membela Tanah Air, bukan menyewakan kekuasaannya untuk keamanan pipa gas.
Stabilitas yang dijanjikan oleh NATO dan Turki adalah ilusi. Satu-satunya jalan menuju perdamaian sejati adalah membongkar seluruh struktur proksi, mengakhiri intervensi asing, dan membangun rekonsiliasi nasional berbasis martabat, bukan kompromi.
Libya tidak butuh al-Jolani baru. Libya butuh Kadafi baru, dalam semangat kemandirian, bukan dalam bentuk individu. Namun selama proyek-proyek seperti Mahmoud Hamza masih diberi panggung, maka jalan menuju kebangkitan masih panjang. [PP/MT]
Referensi:
1. Libya Herald. “444th Combat Brigade Commander Hamza celebrates defeat of SSA militia’s corrupt ’empire'”. 21 Mei 2025.
2. Wikipedia. “2025 Tripoli clashes”.
3. Libya Observer. “Libyan military delegation begins official visit to Turkey”. 15 April 2025.
4. Nordic Monitor. “Turkey, top violator of UN sanctions in Libya, to mask military role as law enforcement aid”. April 2025.
5. Al Jazeera. “Under new general, Russia’s Wagner makes deeper inroads into Libya”. 25 Februari 2024.
6. The Soufan Center. “Libya Emerges as an Arena for U.S.-Russia Competition”. 31 Maret 2025.
