Ansharullah Gugat Sikap Dunia Islam: Mengapa 1,8 Miliar Muslim Bungkam Hadapi 5 Juta Zionis?
POROS PERLAWANAN – Kepala Komisi Pertahanan dan Keamanan di Dewan Syura Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Muhammad al-Mahdi menyatakan bahwa kegagalan Amerika Serikat di Yaman merupakan bukti nyata ketidakmampuan Washington dalam menghadapi kekuatan Perlawanan yang dipimpin oleh Iran. Pernyataan yang disampaikan dalam wawancara eksklusif bersama Kantor Berita Mehrnews yang terbit pada 22 Mei, al-Mahdi menyebut keteguhan Yaman dalam membela Gaza sebagai ekspresi iman, keberanian nasional, dan kedaulatan berbasis nilai-nilai Al-Quran.
“Islam adalah agama kehormatan dan martabat, bukan kejahatan atau terorisme,” ujar al-Mahdi, menyinggung upaya Barat mendistorsi citra Islam melalui kelompok Takfiri dan milisi bayaran. Bagi al-Mahdi, Yaman telah membuktikan bahwa kekuatan spiritual dan nasionalisme yang teguh mampu menandingi bahkan melampaui kekuatan militer besar seperti AS.
Yaman dalam Poros Perlawanan
Meski berjarak lebih dari 2.000 kilometer dari Gaza, Yaman aktif dalam blok Perlawanan bersama Lebanon, Irak, dan Iran. Dukungan ini diwujudkan melalui blokade laut dan udara terhadap Israel. Al-Mahdi menyebut aksi tersebut sebagai manifestasi martabat Islam yang menolak dominasi asing.
“Kekuatan kami bersumber dari iman dan ketaatan terhadap perintah Ilahi. Inilah yang memungkinkan kami bertahan melawan hegemoni Amerika dan sekutunya,” tegasnya.
Keunggulan Militer dan Strategi Laut Merah
Dalam wawancara tersebut, al-Mahdi mengungkap keberhasilan operasi militer Yaman, termasuk penggunaan rudal hipersonik berkecepatan Mach 16 yang diklaim mampu menembus sistem pertahanan udara AS dan Israel. “Rudal kami mencapai target hanya dalam 6–7 menit, melewati semua lapisan pertahanan udara di Laut Merah, Laut Arab, hingga Mediterania,” ungkapnya.
Blokade laut terhadap kapal-kapal Israel di Laut Merah serta blokade udara terhadap Wilayah Pendudukan telah mengguncang stabilitas ekonomi Israel. Pelabuhan Eilat, menurut al-Mahdi, lumpuh akibat aksi tersebut, sementara upaya AS untuk menghentikan pengepungan dinilai gagal total, meski telah menggelontorkan dana lebih dari $1,16 miliar untuk operasi Angkatan Lautnya.
Ia juga mengeklaim bahwa Presiden AS, Donald Trump telah memutuskan menghentikan operasi militer di Yaman sebagai bagian dari kesepakatan dengan Ansharullah, imbal balik atas penghentian serangan terhadap kapal-kapal AS. “Amerika menyerah di depan mata dunia,” ujarnya.
Serangan terhadap Fasilitas Sipil dan Ketahanan Sipil
Meski mengalami serangan terhadap infrastruktur vital seperti Bandara Internasional Sanaa dan pelabuhan Hudaydah serta Ras Issa, al-Mahdi menilai hal itu sebagai bukti dari “kebodohan strategis” lawan. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap target sipil menunjukkan kegagalan musuh untuk menghadapi kekuatan Militer Yaman secara langsung.
“Bandara Sanaa akan kembali beroperasi dalam beberapa minggu. Pelabuhan Ras Issa juga telah dibuka kembali,” ujarnya.
Al-Mahdi menggarisbawahi bahwa ketahanan ekonomi Yaman bersumber dari solidaritas rakyat, bukan bantuan asing.
Seruan untuk Dunia Arab dan Islam
Al-Mahdi menyerukan kepada negara-negara Arab dan Muslim untuk meneladani model perjuangan Yaman. “Umat Islam berjumlah 1,8 miliar, tetapi tidak berbuat apa-apa melawan 5 juta Zionis Israel,” katanya, mengkritik sikap pasif dan politik tunduk sebagian besar rezim Arab terhadap hegemoni Barat.
Ia juga menyinggung solidaritas rakyat Yaman yang telah menggelar pawai jutaan orang di Lapangan Al-Saba’in sejak dimulainya Operasi Badai Al-Aqsa, sebagai bukti bahwa kepemimpinan Yaman didukung oleh kekuatan rakyat yang tidak mudah digoyahkan tekanan eksternal.
Dampak Geopolitik dan Akhir Hegemoni
Al-Mahdi menilai bahwa pengakuan diam-diam AS terhadap legitimasi Ansharrullah merupakan sinyal kegagalan dominasi tunggal AS di Kawasan. Ia juga menyebut kerugian besar Militer AS, termasuk jatuhnya lebih dari 25 drone MQ-9 Reaper di tangan pasukan Yaman, sebagai pukulan telak terhadap kredibilitas intelijen dan teknologi pertahanan AS.
“Jika AS gagal di Yaman, bagaimana mereka bisa menghadapi Iran?” tanyanya retoris. Bagi al-Mahdi, keberhasilan Yaman bukan hanya kemenangan militer, melainkan simbol berakhirnya era hegemoni sepihak dan lahirnya tatanan baru berbasis perlawanan dan martabat.
