Loading

Ketik untuk mencari

Opini

‘Yahya Sinwar’ Masih Hidup

POROS PERLAWANAN – Rabu malam, 21 Mei 2025. Washington D.C. yang biasanya teduh dalam gemerlapnya, mendadak terkoyak oleh dentuman senjata di depan Museum Yahudi. Bukan sekadar letusan, suara itu adalah deklarasi. Sebuah proklamasi yang keluar dari laras senjata Elias Rodriguez, seorang pria muda usia 30 tahun, berdarah Latin, yang malam itu menembus sunyi Ibu Kota dengan dua peluru yang merenggut nyawa dua staf kedutaan Israel.

Ia tidak lari. Tidak menyembunyikan diri. Ia berdiri di bawah cahaya lampu jalan yang sinarnya temaram, senjatanya masih terhunus, seolah tubuhnya telah menjadi tonggak peringatan, bahwa dunia ini retak, dan suara dari reruntuhannya harus didengar.

Dalam hitungan jam, nama Elias Rodriguez menjelma menjadi seruan. Di linimasa berbahasa Arab, Turki, hingga Amerika Latin, wajahnya disejajarkan dengan Yahya Sinwar, tokoh Perlawanan Palestina yang namanya menjadi legenda sekaligus mimpi buruk bagi Israel. Di platform X, potret keduanya terpampang berdampingan, dua figur dari dua dunia, namun dengan satu lidah Perlawanan.

“Mereka membunuh Sinwar, tapi Sinwar-Sinwar baru bangkit di jantung Washington”, tulis seorang pengguna. Kata-kata itu menyebar seperti bara di ladang kering, perjuangan tidak pernah benar-benar mati, ia hanya berpindah wajah, berpindah dada, menjelma bentuk baru dalam sejarah yang tak kunjung usai.

Rodriguez bukan pemuda sembarangan. Ia adalah penulis, peneliti, dan aktivis dari Chicago, yang dikenal lewat karyanya tentang tokoh-tokoh Perlawanan kulit hitam Amerika. Namun malam itu, sejarah bukan lagi objek tulisannya, melainkan panggung tempat ia berdiri. Ketika akhirnya ditangkap polisi, ia tidak meronta. Dengan suara lantang yang menggema di langit Ibu Kota, ia berseru: “Bebaskan Palestina!” Bukan sekadar slogan, melainkan jeritan nurani yang tak lagi sanggup berdiam melihat Gaza dijadikan ladang kematian.

Publik pun segera teringat akan kisah pilu sebelumnya, 25 Februari 2024. Seorang pilot Angkatan Darat Amerika, Aaron Bushnell membakar dirinya hidup-hidup di depan kedutaan Israel sebagai bentuk protes sunyi terhadap genosida yang terus berlangsung. Aksi Rodriguez kini terasa seperti nyala yang menyambung dari satu jiwa luka ke jiwa lainnya. Api itu belum padam. Ia menjalar. Ia membakar.

Namun yang paling menggugah bukanlah aksi itu sendiri, melainkan cara ia menutupnya. Setelah penembakan, Rodriguez tidak mundur. Ia berdiri diam di gerbang museum, tubuhnya tegak, sorot matanya tak gentar, seolah ingin berkata: “Inilah pesanku. Dan aku bertanggung jawab atasnya.” Dalam diamnya, ia bersuara lebih nyaring dari sirene yang mendekat.

Respons publik meledak di dunia maya. Ungkapan mereka bukan sekadar komentar, melainkan nyanyian Perlawanan, doa marah dari generasi yang telah terlalu lama dibungkam: “Hari ini dimulai dengan kabar kematian dua Zionis di Amerika. Hari Tuhan. Hari peringatan. Terima kasih, Elias Rodriguez, telah mengingatkan kami, bahwa tak ada tempat aman bagi penindas.”

“Keberanianmu menyebar lebih cepat dari virus Corona. Namun bila virus menular membawa kematian, maka semangatmu menular membawa kehidupan.”

“#EliasRodriguez, seorang Kristen Latin. Ia mempelajari sejarah, lalu menulisnya dengan darah dan tindakan. Ia tak tahan melihat Gaza hancur hanya sebagai tayangan berita. Ia bersuara, dan suaranya menembus batas. Tak ada agama, ras, atau jarak. Idolanya: Abu Ibrahim Sinwar.”

“Kau kira Sinwar telah mati? Ia hidup kembali di pikiranmu, di nadi-nadi Perlawanan, di jantung kota yang kau anggap aman.”

Meski memicu polemik global, peristiwa ini menyulut kembali bara Perlawanan yang nyaris padam. Di tengah dunia yang mulai lelah menangis, tindakan Elias Rodriguez menjelma dentuman yang membangunkan kesadaran, bahwa di ujung keheningan, terkadang hanya kemarahan yang tersisa untuk bicara.

Kini, nama Elias Rodriguez bukan lagi sekadar nama. Ia telah menjadi simbol. Bagi sebagian, ia Pahlawan. Bagi yang lain, ancaman. Namun sejarah mencatatnya bukan sebagai pelaku kekerasan semata, melainkan sebagai pertanda bahwa satu suara, jika diteriakkan dengan kejujuran yang tak terbendung, ia mampu mengguncang dunia.[]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *