Kunjungan Mahmoud Abbas ke Beirut, Parade Perdamaian Tanpa Harga Diri
POROS PERLAWANAN — Sebenarnya, menyebut kunjungan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas ke Lebanon sebagai sesuatu yang layak dianalisis secara mendalam mungkin terlalu memanjakannya. Namun karena absurditasnya begitu menghibur, mari kita beri sedikit ruang, demi satire belaka.
Abbas disambut hangat oleh Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Raji. Lebih tepatnya, oleh “Menteri dari Partai Pasukan Lebanon”, yang tampaknya lebih bersemangat menyambut pemimpin boneka ketimbang mengecam pelanggaran kedaulatan harian oleh Israel. Ironi? Sudah pasti. Akan tetapi, itulah seni diplomasi versi Lebanon anti-Poros Perlawanan.
Menurut sumber Pemerintah yang berbicara kepada AFP pada Sabtu 24 Mei, telah disepakati bahwa proses pelucutan senjata di kamp-kamp pengungsian Palestina akan dimulai pada pertengahan Juni. Tentu, semua dijadwalkan rapi, karena siapa butuh senjata ketika sudah punya pidato dan piagam perdamaian?
Kesepakatan ini mencakup kamp-kamp seperti Shatila dan Mar Elias di Beirut, wilayah yang secara teknis masih dikuasai Fatah. Katanya sih, ini dikoordinasikan dengan faksi lain, termasuk Hamas. Namun koordinasi di sini lebih mirip monolog Abbas daripada dialog.
Padahal, realitanya, senjata di kamp-kamp itu sudah tak lagi relevan sejak 1980-an, ketika Fatah memilih berkoalisi dengan Pasukan Lebanon dan Pierre Rizk, pihak yang sama yang terlibat dalam pembantaian Sabra dan Shatila, sekaligus jadi broker senjata untuk proyek sektarian ala Pasukan Lebanon.
Sementara Hamas belum mengeluarkan pernyataan resmi, sumber internal menyampaikan kepada Tehran Times pada Sabtu 24 Mei, bahwa mereka tak puas dengan keputusan sepihak Abbas. Tampaknya, monopoli Abbas atas mikrofon lebih penting daripada membela hak sipil dan sosial pengungsi Palestina.
Namun puncak dagelan ini datang dari Pemimpin Pasukan Lebanon, Samir Geagea, yang menjuluki Abbas sebagai “Presiden Arab yang selalu memikirkan Lebanon”. Mungkin setelah ini Abbas juga bisa dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional Lebanon” yang mengungguli warga Lebanon sendiri.
Geagea juga memuji Abbas karena mengulang-ulang retorika ketaatan pada hukum Lebanon dan menolak aksi militer dari wilayahnya. Menurut Geagea, ini membongkar “dalih Poros Perlawanan” untuk tetap memegang senjata. Tentu saja! Karena Israel sendiri pasti akan berhenti menyerang jika kita cukup sering mengulang-ulang kalimat “kami taat hukum”.
Tak mau kalah, “Akademi Hani Fahs untuk Dialog dan Perdamaian”, di bawah naungan PM Nawaf Salam menganugerahi Abbas gelar “Pembawa Perdamaian”. Lalu, siapa saja hadirin upacara ini? Mantan Presiden Amin Gemayel (penggemar normalisasi 17 Mei), Duta Besar Saudi Walid Bukhari, dan tokoh-tokoh anti-Poros Perlawanan yang selalu tampil kompak untuk menyambut kebijakan terbaru Washington.
Kunjungan Abbas ke Lebanon ini, yang difasilitasi oleh AS dan Saudi, lebih menyerupai perjalanan bisnis korporat daripada misi perjuangan. Bagaimana halnya dengan rakyat Palestina? Mereka tahu persis siapa Abbas sebenarnya, seorang penjaga pagar yang dibayar mahal untuk menjaga status quo penjajahan.
Sementara itu, media-media anti-Poros Perlawanan sibuk menggembar-gemborkan kunjungan ini sebagai “momen strategis”, padahal ini cuma sandiwara baru dalam proyek pendudukan Trumpland yang terus menggeliat di Asia Barat.
Di Damaskus, beberapa pemimpin faksi Palestina dipaksa angkat kaki. Rumah, markas, kendaraan, bahkan kamp pelatihan mereka disita. Di antaranya Khaled Jibril (putra pendiri FPLP), Khaled Abdul Majeed (Sekjen Front Perjuangan Rakyat), dan Ziad al-Saghir (Sekjen Fatah al-Intifada). Mereka tidak hanya diusir secara simbolis, tetapi senjata merekapun harus diserahkan lengkap dengan daftar pemiliknya. Kalau ini bukan penyerahan total, apa lagi?
Sumber di Damaskus berkata: “Kami merasa seperti tamu tak diundang, meski tak diucapkan terang-terangan.” Begitulah dalam politik Arab, apa yang tak dikatakan seringkali jauh lebih jujur dari yang diumumkan dalam konferensi pers.
Terakhir, kabar yang patut dicatat dalam lembaran komedi geopolitik ini adalah, bahwa dalam pertemuan di Riyadh pada 15 Mei, Presiden AS Donald Trump, eh…. seorang pedagang yang meminta Presiden Suriah “al-Jolani” (entah karakter fiktif atau kesalahan penyebutan dari dunia satir) untuk mendeportasi “teroris Palestina” demi pencabutan sanksi. Tak lupa, disertai dengan syarat-syarat merendahkan lainnya, karena kekuasaan memang punya selera humor yang kejam.
Pada 22 April, Gerakan Jihad Islam mengumumkan bahwa dua pemimpinnya ditahan oleh otoritas Suriah. Pada 3 Mei, Sekjen FPLP Talal Naji juga sempat “diwawancara secara paksa”. Apa boleh buat, Suriah pun tampaknya tengah mempersiapkan babak baru, lebih ramah investor, lebih steril dari pejuang, lebih bisa dinegosiasikan di meja makan Riyadh.
Kesimpulan? Jika kunjungan Abbas ke Lebanon adalah panggung, maka perannya tak lebih dari badut istana. Namun jangan salah, badut-badut semacam ini seringkali berfungsi sebagai pelicin bagi para penjajah. Ironis, karena ketika rakyat Palestina terus berjuang, para elitenya justru sibuk menulis naskah perdamaian di atas kertas yang disobek Israel setiap hari. [PP/MT]
