Pembicaraan Langsung Al-Jolani dengan Israel Resmi Dikonfirmasi, Tandai Babak Baru di Perbatasan Utara Suriah
POROS PERLAWANAN – Untuk pertama kalinya, pembicaraan langsung antara struktur penguasa baru di Suriah dan rezim Israel secara resmi dikonfirmasi. Laporan dari sejumlah media menunjukkan bahwa delegasi Suriah yang dipimpin oleh Gubernur Quneitra telah melakukan pertemuan dengan perwakilan Israel di Wilayah Suriah yang Diduduki.
Menurut laporan Reuters yang dirilis pada Rabu 28 Mei, identitas kepala delegasi Israel masih dirahasiakan, namun sejumlah sumber menyebut ia adalah tokoh kunci dalam bidang keamanan.
TV Israel, Channel 12 mengungkap bahwa negosiasi rahasia telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Salah satu pertemuan penting bahkan disebut berlangsung di Azerbaijan, dengan melibatkan Kepala Departemen Operasi Militer Israel, Jenderal Oded Sayak, yang bertatap muka dengan orang-orang dekat Pemimpin Tahrir al-Sham, Abu Muhammad al-Jolani, yang kini memegang kendali pemerintahan bayangan di barat laut Suriah. Pertemuan itu juga disaksikan oleh perwakilan dari Pemerintah Turki.
Dari Teroris Menjadi Mitra?
Laporan ini memperlihatkan perubahan signifikan dalam pendekatan Israel. Selama bertahun-tahun, Tel Aviv menolak segala bentuk komunikasi dengan Al-Jolani yang digambarkan sebagai “teroris bersyal dan berjubah”. Namun kini, pendekatan realis tampaknya diadopsi, di mana pragmatisme geopolitik mengalahkan narasi lama.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi besar untuk memisahkan Suriah dari Poros Perlawanan, terutama Iran dan Hizbullah, dan membuka jalan bagi normalisasi hubungan dengan Tel Aviv di bawah inisiatif regional seperti Perjanjian Abraham.
Konstelasi Baru: Israel, Suriah, dan Turki
Sumber Militer Israel menyatakan bahwa pembicaraan ini berpotensi menjadi fondasi bagi reposisi Suriah dalam dinamika Kawasan, sekaligus memperbaiki relasi yang membeku antara Tel Aviv dan Ankara. Keterlibatan Turki dalam proses ini juga menandai pergeseran diplomatik yang selama ini tertutup rapat di balik konflik Suriah.
Beberapa pejabat di Yerusalem menyebut proses ini masih bersifat embrional. Namun, jika berlangsung mulus, pergeseran ini akan menjadi penentu arah baru tatanan politik regional, terutama di wilayah perbatasan utara Israel-Suriah yang selama ini menjadi titik panas konflik militer.
Sosok Kunci di Balik Tirai
Laporan situs berita Walla News menambahkan bahwa mantan Gubernur Quneitra, Ahmed al-Dalati, yang kini menjabat sebagai Komandan Keamanan dalam Negeri di Provinsi Sweida (daerah berpenduduk mayoritas Druze), adalah tokoh utama di balik negosiasi ini. Sebelum jatuhnya kekuasaan Bashar al-Assad di sejumlah wilayah, Al-Dalati dikenal sebagai penerus kepemimpinan kelompok Ahrar al-Sham, salah satu faksi bersenjata yang dulu berafiliasi dengan oposisi Islamis Suriah.
Perubahan posisi Israel terhadap tokoh-tokoh seperti Al-Jolani menandai babak baru dalam politik dua wajah, dari musuh menjadi mitra. Jika jalur ini benar-benar ditempuh, maka lanskap geopolitik Timur Tengah, khususnya di Suriah dan sekitarnya, akan mengalami perubahan dramatis.
