Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Gaza Humanitarian Foundation: Bantuan Kemanusiaan Palsu ke Gaza (2)

POROS PERLAWANAN – Di tengah bencana kemanusiaan yang melanda Jalur Gaza sejak meletusnya perang pada Oktober 2023, muncul sebuah entitas bernama Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Berpusat di Jenewa, yayasan ini mengeklaim sebagai penyelamat krisis kelaparan. Namun di balik wajah kemanusiaan, investigasi ini menemukan indikasi bahwa GHF justru merupakan perpanjangan tangan operasi Intelijen dan Militer Israel yang menyamar di bawah logo kemanusiaan.

Laporan ini mengungkap rangkaian fakta mencurigakan seputar sumber bantuan pangan, aktor-aktor Zionis dan Amerika di baliknya, serta indikasi distribusi makanan yang tidak layak konsumsi, bahkan berpotensi beracun kepada rakyat Gaza.

GHF, Proyek Bayangan Zionis di Bawah Naungan Amerika

Menurut laporan investigatif Haaretz dan Yedioth Ahronoth, Yayasan Kemanusiaan Gaza tidak didirikan oleh PBB ataupun LSM internasional netral, melainkan oleh jaringan yang melibatkan perwira cadangan Militer Israel, pengusaha teknologi, dan mantan agen CIA.

GHF resmi berdiri Februari 2025 di Jenewa atas permintaan Washington. Para aktor kunci di balik pendiriannya mencakup:

Mantan perwira Unit Intelijen 8200 Israel, Liran Tankman.

Mantan Perwira Operasi Paramiliter CIA dan Presiden perusahaan logistik Searich Solutions, Philip Reilly.

Investor Zionis-Amerika, Michael Heisenberg, yang secara terbuka menyatakan ketidakpercayaannya terhadap mekanisme distribusi bantuan oleh PBB.

Jalur Bantuan yang Terkunci dan Dimonopoli

Bantuan kemanusiaan yang didistribusikan GHF hanya diberikan di empat titik di Gaza selatan. Jalur masuknya ketat diawasi oleh tentara Israel, dan warga Palestina harus menjalani pemeriksaan keamanan ketat untuk mengakses bantuan tersebut.

PBB dan organisasi kemanusiaan seperti UNRWA ditolak aksesnya. Menurut The Times, alasan ini membuat veteran AS dan CEO GHF, Jack Wood mengundurkan diri karena menilai yayasan tidak lagi mematuhi prinsip kemanusiaan internasional.

Kaleng Tuna Misterius, Bantuan atau Limbah Pasar Israel?

Pada 26 Mei, media Israel berbahasa Ibrani menerbitkan foto-foto bantuan makanan GHF yang tiba di Gaza. Semua produk bermerek Abutaj, milik perusahaan Alawooda Group yang berbasis di Negev, kawasan Palestina yang diduduki Israel. Namun, kaleng tuna dalam paket tersebut mencurigakan karena menggunakan merek berbeda: Blue Tuna.

Poin mencurigakan:
1. Pada Maret 2025, Kementerian Kesehatan Israel memperingatkan warganya untuk menghindari “tuna putih” yang tidak disebutkan merknya karena ditemukan mengandung histamin tinggi, pemicu reaksi alergi berat.

2. Produk sejenis disebut telah ditarik dari pasar Israel, tetapi kini justru ditemukan dalam paket bantuan ke Gaza.

3. Tidak ada kejelasan apakah Blue Tuna adalah bagian dari batch yang ditarik tersebut, dan tidak ada uji laboratorium independen atas keamanan produk.

Perang Informasi: Influencer, Drone, dan Teknologi Mata-mata

Menurut Washington Post, proyek ini mencakup:

1. Pembentukan pusat operasi pengawasan 24 jam terhadap wilayah Gaza;

2. Penggunaan drone dan kamera pengintai untuk mengawasi distribusi bantuan dan mengumpulkan data biometrik warga Palestina;

3. Perekrutan influencer Arab untuk mempromosikan proyek ini di media sosial guna menciptakan narasi positif.

GHF juga mengupayakan perlindungan diplomatik dari negara Barat agar tidak ada intervensi selama satu tahun pertama implementasi rencananya.

Bantuan sebagai Alat Perang dan Pemaksaan

Kementerian Dalam Negeri Gaza menuduh GHF menjalankan operasi intelijen terselubung, memaksa warga untuk melakukan perjalanan jauh dan menempatkan diri mereka dalam bahaya demi bantuan pangan.

Laporan ini menekankan bahwa penggunaan bantuan sebagai alat kontrol:

1. Melanggar hukum humaniter internasional (IHL) dan Konvensi Jenewa;

2. Bertentangan dengan prinsip non-diskriminasi dalam distribusi bantuan di zona perang;

Dapat dikategorikan sebagai pemerasan kemanusiaan, membuat kebutuhan dasar seperti makanan bergantung pada kepatuhan politik atau status keamanan individu.

Bukti-bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa GHF bukanlah entitas netral, melainkan bagian dari proyek geopolitik Israel dan Amerika yang menggunakan bantuan pangan sebagai alat perang dan pengawasan. Distribusi kaleng makanan yang mencurigakan, keterlibatan perusahaan yang tidak transparan, serta upaya sistematis meminggirkan lembaga kemanusiaan internasional memperkuat argumen bahwa proyek ini bukan murni bertujuan kemanusiaan.

Di tengah penderitaan dan kelaparan yang melanda lebih dari dua juta warga Gaza, kemanusiaan tidak boleh menjadi kedok untuk pengawasan dan pemaksaan. Dunia internasional memiliki kewajiban moral dan hukum untuk memastikan bahwa bantuan yang dikirim benar-benar untuk menyelamatkan, bukan untuk mengendalikan. []

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *