Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Siapa Sebenarnya Teroris Takfiri yang Didukung Netanyahu di Gaza?

POROS PERLAWANAN – Dalam babak baru konspirasi Zionis yang berbahaya, tokoh-tokoh elite Israel membongkar secara terbuka proyek Perdana Menteri Benyamin Netanyahu untuk mendanai dan mempersenjatai kelompok-kelompok teroris di Jalur Gaza. Fakta ini menyingkap wajah sebenarnya dari strategi Pendudukan: menciptakan kekacauan internal sebagai senjata untuk melemahkan kubu Perlawanan.

Pada Kamis 5 Juni, Kantor Berita Mehr melaporkan pernyataan mengejutkan dari Ketua partai “Israel Rumah Kami” dan mantan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman. Dia mengungkap bahwa Kabinet Netanyahu tengah menjalankan rencana baru di Gaza yang melibatkan penyediaan dana dan senjata kepada milisi-milisi lokal berhaluan Takfiri yang berafiliasi dengan ISIS.

Kecaman keras juga datang dari Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid. Dalam sebuah konferensi pers, Lapid menuduh Netanyahu bertindak di balik layar tanpa pertimbangan strategis, untuk mempersenjatai kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Gaza. Ia memperingatkan, “Senjata yang hari ini masuk ke Gaza akan kembali menghantam tentara Israel dan warga sipil. Kebijakan ini tidak hanya sembrono, tetapi juga mengancam eksistensi Israel itu sendiri.”

Konspirasi Netanyahu dengan ISIS di Gaza

Menanggapi informasi ini, Kantor Berita Shahab melakukan penelusuran mendalam terhadap dimensi strategis dan dampak keamanan dari kebijakan Netanyahu tersebut. Dalam wawancara khusus dengan analis militer dan keamanan regional, Rami Abu Zubaydah, terungkap bahwa rencana Rezim Pendudukan ini mencerminkan upaya sistematis untuk mengguncang struktur sosial-politik Gaza dari dalam.

Abu Zubaydah menyebut bahwa tujuan utama dari dukungan rezim Zionis terhadap milisi-milisi bayangan ini mencakup;

Tujuan Militer dan Intelijen:

1. Membangun jaringan proksi lokal mirip “Tentara Lahad” yang pernah digunakan di Lebanon selatan.

2. Menyulut perpecahan dalam barisan Kelompok Perlawanan Palestina.

3. Menjadikan wilayah Gaza sebagai laboratorium operasi intelijen Pendudukan.

Implikasi Keamanan:

1. Mengeksploitasi kelelahan sosial dan kondisi ekonomi yang melemah di Gaza.

2. Menjalankan agenda Netanyahu secara ilegal di luar kanal institusi negara, demi menghindari pertanggungjawaban publik dan internasional.

Analis ini juga menekankan bahwa keberadaan milisi bersenjata yang mengenakan perlengkapan militer canggih di antaranya rompi antipeluru, helm, dan senjata otomatis modern, menunjukkan adanya keterlibatan langsung unit logistik Militer Israel. Tujuan akhirnya adalah menciptakan kondisi tidak stabil dan menggunakan kelompok-kelompok teroris sebagai alat untuk mendikte arah konflik.

Menurut Abu Zubaydah, Kelompok-kelompok Perlawanan Palestina sepenuhnya menyadari ancaman ini. Karena itulah mereka telah memulai operasi kontra-informasi untuk membongkar latar belakang dan jaringan milisi bayangan yang didukung Tel Aviv tersebut.

Yasser Abu Shabab, Wajah Pengkhianatan di Gaza

Pusat Informasi Gaza dalam laporannya menyebut satu nama, Yasser Abu Shabab, seorang figur kontroversial dari Rafah yang kini menjadi simbol kolaborasi terbuka dengan penjajah. Lahir pada 1993, Abu Shabab sebelumnya dikenal sebagai tahanan kriminal. Namun, setelah serangan udara Israel menghancurkan pusat-pusat keamanan Gaza, ia dibebaskan dan kemudian mendirikan milisi bersenjata yang dikenal sebagai “Geng Yasser Abu Shabab”.

Menurut laporan, kelompok ini mendapat dukungan dana dan logistik dari Militer Israel. Mereka melakukan patroli di daerah perbatasan, mengintai aktivitas Perlawanan, serta mencuri dan menyelewengkan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Kelompok ini juga diketahui beroperasi di area strategis dekat titik distribusi bantuan dan perlintasan Karam Abu Salem, wilayah yang kerap digunakan Israel sebagai jalur kontrol.

Pada 30 Mei 2025, Brigade Izzuddin al-Qassam merilis video eksklusif yang memperlihatkan konfrontasi langsung dengan pasukan khusus Zionis berbahasa Arab yang menyusup ke Rafah timur didampingi oleh tentara bayaran Palestina, termasuk anggota geng Abu Shabab.

Unit ini awalnya bernama “Unit Kontra-Terorisme”, lalu diubah menjadi “Pasukan Rakyat” sebagai kedok kerja sama keamanan. Peran utama mereka adalah memata-matai, merusak struktur sosial, dan menjarah bantuan yang seharusnya untuk rakyat Gaza yang terkepung.

Dikucilkan oleh Suku dan Keluarga

Upaya Yasser Abu Shabab untuk mendapatkan legitimasi sosial melalui sukunya Tarabin, salah satu suku besar di Gaza selatan, berakhir dengan penolakan telak. Dalam pernyataan resmi pada 30 Mei 2025, para tetua suku Tarabin menyatakan bahwa mereka tidak akan melindungi siapa pun yang melayani musuh dan mengkhianati darah para syuhada.

Lebih jauh, keluarga Abu Shabab sendiri mengeluarkan pernyataan keras yang menyatakan pemutusan hubungan total dengannya. Dalam pernyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya itu, keluarga menyebut: “Yasser Abu Shabab dan siapa pun yang bekerja sama dengannya berada di luar perlindungan keluarga. Darah mereka terbuang sia-sia kecuali mereka menyerah dan bertobat.”

Teror Buatan Zionis dan Perlawanan yang Sadar

Apa yang kini terjadi di Gaza bukan sekadar perang militer atau ekonomi. Ini adalah perang eksistensial antara kekuatan yang ingin membebaskan tanah Palestina dari pendudukan dan rezim yang menggunakan teror buatan, infiltrasi sosial, dan agen lokal untuk merusak dari dalam.

Rencana Netanyahu untuk menciptakan milisi proksi di Gaza mencerminkan wajah Zionisme modern untuk mengorbankan rakyat Palestina, bahkan warga Israel sendiri, demi mempertahankan supremasi kolonial. Namun, sejarah membuktikan bahwa konspirasi sebesar apa pun takkan mampu menghancurkan semangat perlawanan yang tumbuh dari kesadaran, darah, dan keyakinan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *