Elon Musk kepada Trump: ‘Tanpa Saya, Anda Tidak Akan Menjadi Presiden’
POROS PERLAWANAN – Drama politik elite AS yang saling menelanjangi mulai terjadi. Ketegangan antara dua simbol kapitalisme Amerika, Elon Musk dan Donald Trump mencapai titik baru dalam drama internal elite penguasa AS, ketika keduanya saling menyerang di ruang publik dalam perseteruan yang mencerminkan kebangkrutan moral dan politik sistem kekuasaan di Washington.
Dalam pidatonya pada Kamis 5 Juni, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mencerca Elon Musk, yang pernah menjadi sekutu dekatnya dalam berbagai proyek nasional, termasuk kerja sama militer-teknologi melalui SpaceX dan dukungan logistik dalam kampanye digital. Kritik Trump mengarah pada penolakan Musk terhadap RUU pemotongan pajak, yang menurut Trump seharusnya menguntungkan rakyat kecil tetapi justru direspons negatif oleh Musk karena merugikan kepentingan perusahaannya.
“Saya selalu menyukai Elon, tapi ia marah karena kami mencabut subsidi kendaraan listrik. Subsidi miliaran Dolar itu bukanlah sesuatu yang adil untuk terus dibayar oleh rakyat,” ujar Trump, seraya menuding Musk lebih peduli pada keuntungan pribadi daripada kebijakan fiskal nasional.
Trump juga menyindir keluarnya Musk dari lingkaran pemerintahannya, menyebutnya sebagai bagian dari siklus biasa dalam politik Gedung Putih. Ia berkata: “Ada banyak yang pergi, tapi sebagian besar dari mereka tetap mencintai kita. Beberapa yang lain menjadi sangat bermusuhan. Elon termasuk yang terakhir.”
Musk Membalas, Tuding Trump ‘Tidak Tahu Terima Kasih’
Tak butuh waktu lama bagi Elon Musk untuk membalas. Lewat akun X (sebelumnya Twitter), sang taipan teknologi dan pengusaha pertahanan itu melontarkan pernyataan yang memperlihatkan egonya sekaligus membongkar dimensi gelap politik elektoral Amerika.
“Tanpa saya, Trump tidak akan menang dalam Pemilu. Demokrat akan menguasai DPR. Republik akan minoritas di Senat, 49 banding 51”, tulis Musk, menuding Trump sebagai sosok yang “tidak tahu berterima kasih”.
Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan sakit hati, melainkan pengakuan terang-terangan tentang bagaimana kapitalisme teknokratis telah mencengkeram proses demokrasi di AS. Seorang CEO swasta mengeklaim secara terbuka bahwa tanpa campur tangannya, hasil Pemilu bisa berbeda, sebuah sinyal yang memperkuat tudingan bahwa “demokrasi Amerika” tak lebih dari sandiwara yang dikendalikan oleh para pemilik modal.
Perseteruan Dua Raja Uang, Saling Tuding demi Kepentingan
Trump, sang kapitalis-politikus, dan Musk, sang teknokrat-korporatokrat, kini terlibat dalam perang ego yang mencerminkan wajah asli elite AS, saling menikam ketika kepentingan bisnis dan kekuasaan bertabrakan. Trump menuding Musk sebagai oportunis yang gerah dengan pencabutan subsidi miliaran Dolar untuk industri kendaraan listrik, sedangkan Musk memosisikan dirinya sebagai arsitek kemenangan politik Trump dan penyelamat Partai Republik.
Konflik ini menyingkap fakta pahit: bahwa politik di AS dijalankan bukan oleh rakyat, tapi oleh segelintir miliarder dan kartel teknologi yang menjadikan pemerintahan sebagai perpanjangan tangan bisnis mereka.
