Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

‘Perang Jalanan’ Landa Amerika: Trump Kerahkan 2.000 Pasukan Garda Nasional ke LA

POROS PERLAWANAN — Protes meluas terhadap kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump dengan cepat bertransformasi menjadi bentrokan jalanan. Di tengah kekacauan yang meningkat, Trump, tanpa koordinasi dengan Gubernur California, mengambil langkah langka dengan mengerahkan 2.000 pasukan Garda Nasional ke Los Angeles. Penempatan ini dilakukan di bawah Title 10, memberi Trump kendali penuh atas pasukan, dan sekaligus menyingkirkan wewenang Negara Bagian.

Langkah Trump menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk para akademisi dan mantan diplomat. Teoritikus hubungan internasional dan pencetus konsep “soft power”, Joseph Nye, dalam artikel terakhirnya sebelum wafat pada 8 Mei di Foreign Affairs, menulis: “Trump tidak memahami kekuatan sejati Amerika. Serangannya terhadap universitas, penutupan akses terhadap imigran, dan pelemahan lembaga-lembaga internasional telah menggerogoti fondasi kekuatan global AS”.

Nye memperingatkan bahwa kemunduran Amerika bisa menjadi permanen. Dalam pandangannya, Trump bukan hanya merusak kepemimpinan AS di dunia, melainkan juga sedang membuka jalan bagi lahirnya fasisme domestik.

Transformasi Menuju Otoritarianisme

Selama lima bulan masa jabatan keduanya, Trump telah memecat puluhan ribu pegawai, mengganti ratusan pejabat dengan loyalis, menarget universitas terkemuka, serta mengusir mahasiswa dan akademisi pro-Palestina. Trump juga berikrar akan mendeportasi lebih dari satu juta imigran ilegal dalam waktu singkat. Upaya ini telah memicu benturan hukum dengan pengadilan dan gelombang perlawanan sipil.

Trump disebut oleh para pengkritiknya sebagai figur narsistik yang tidak bisa mentolerir perbedaan pendapat. Siapa pun yang menghalangi jalannya, bahkan tokoh sebesar Elon Musk, dianggap sebagai musuh.

Los Angeles: Zona Perang Baru

Kebijakan anti-imigrasi Trump mendorong Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) menangkap setidaknya 3.000 orang per hari. Namun dalam prosesnya, warga dengan izin tinggal sah pun ikut tertangkap, memicu gugatan hukum. Sejak Jumat 6 Juni, Los Angeles berubah menjadi medan tempur. Bentrokan antara polisi dan demonstran berlangsung intens selama dua hari berturut-turut.

Kerusuhan atau Perlawanan Sipil?

Associated Press (AP) pada Minggu 8 Juni melaporkan lebih dari 44 penangkapan dalam demonstrasi yang berlangsung panas. Polisi menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan massa. Wakil Presiden J.D. Vance melabeli para demonstran sebagai “perusuh dengan bendera asing”.

Arsitek kebijakan imigrasi Trump, Stephen Miller menyebut aksi itu “kerusuhan kekerasan”, sementara Menteri Keamanan Dalam Negeri, Christy Noem menegaskan bahwa siapa pun yang “menyentuh petugas” akan dituntut secara hukum.

Militerisasi Jalanan

Setelah aparat lokal kewalahan, Trump mengumumkan pengerahan 2.000 Garda Nasional, tanpa persetujuan Gubernur California, Gavin Newsom. Trump juga mengeluarkan dekrit yang melarang pemakaian masker dalam unjuk rasa. “Protes sayap kiri tidak akan ditoleransi,” tegasnya.

Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mencaci-maki Newsom dan menyebutnya “Gavin New Trash”. Ia juga menyatakan bahwa bila otoritas lokal gagal, “Pemerintah Federal akan turun tangan”.

Juru Bicara Gedung Putih, Caroline Levitt mengatakan bahwa Trump telah menandatangani nota presiden untuk pengerahan Garda Nasional guna menanggapi “kerusuhan yang sistemik”. Sedangkan Perwakilan Khusus untuk Urusan Perbatasan, Tom Homan menegaskan: “Kami tidak akan mundur. Garda sudah bergerak.”

Gubernur Newsom membalas lewat X: “Ini provokasi. Langkah Trump hanya akan memperparah ketegangan.”

Marinir Disiagakan

Sementara Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengumumkan bahwa Marinir kini siaga penuh di Camp Pendleton, 160 km dari Los Angeles. “Jika situasi memburuk, mereka akan dikerahkan,” ujarnya, lalu menuding kekerasan massal sebagai bagian dari operasi kriminal yang dibantu kartel dan organisasi teroris asing.

Kekacauan Menyebar ke New York

Protes menjalar ke New York, dengan bentrokan terjadi di depan kantor Imigrasi dan Bea Cukai di Federal Plaza. Polisi menangkap lebih dari 20 demonstran. Aksi ini dipicu oleh laporan bahwa ICE telah menangkap imigran di sekitar pengadilan Manhattan.

Kecaman Internasional dan Domestik

Seruan mengecam Trump datang dari berbagai organisasi hak asasi. CNN pada Minggu melaporkan bahwa UnidosUS, kelompok hak sipil Latino terbesar, menyebut pengerahan militer “tanda bahaya serius tentang pendekatan otoriter Pemerintah”.

Arah Gelap Sebuah Negara

Di tengah aroma gas air mata dan nyala api kendaraan, Amerika Serikat tampak bergerak menuju krisis konstitusional. Langkah militer Trump terhadap warga sipil, dipadu dengan retorika keras, menggambarkan transformasi politik negara itu, bukan sekadar pergeseran kebijakan, melainkan juga perubahan watak rezim. Dunia menyaksikan. Rakyatnya melawan!

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *