Saudi Enggan Bertukar Tawanan dengan Yaman
POROS PERLAWANAN – Ketua Komite Nasional Urusan Tawanan Yaman, Abdulqadir al-Murtadha menyatakan, Ansharullah siap melakukan pertukaran tawanan menyeluruh dengan Saudi. Namun Riyadh tidak menunjukkan respons apa pun.
Diberitakan Fars, al-Murtadha pada Senin 9 Juni mengabarkan, Sanaa belum mendapatkan jawaban resmi apa pun dari Riyadh sejak menawarkan pertukaran seluruh tawanan kepada Saudi.
“Sejak kami mengumumkan kesiapan menerima kesepakatan komprehensif tawanan, pihak kedua tidak merespons secara resmi, kecuali beberapa statemen media dari wakil Partai al-Islah untuk urusan tawanan,” kata al-Murtadha kepada Kantor Berita Saba.
“Mereka berkata bahwa syarat pertama adalah kejelasan tentang kondisi Muhammad Qahtan. Namun saya katakan kepada mereka, Partai al-Islah di Ma’rib adalah pihak yang menyebabkan tertundanya urusan ini. Sebab partai ini enggan memublikasikan kabar tentang nasib ratusan tawanan kami sejak 10 tahun silam.”
“Kami sudah memberi tahu Direktur Kantor Utusan PBB di Yaman bahwa kami siap sepenuhnya mengeksekusi kesepakatan terakhir, yang telah diteken semua pihak di bawah pengawasan PBB. PBB mesti menggunakan berbagai instrumen untuk menekan pihak mana pun yang menghalang-halangi proses ini.”
“Kami siap mengumumkan detail kondisi Muhammad Qahtan. Sebelum ini, Partai al-Islah menolak menjalankan kesepakatan yang dibuat di Muscat.”
“Jika mereka memiliki niat tulus untuk menuntaskan urusan ini, tawaran kami terkait pertukaran tawanan menyeluruh akan membebaskan semua tawanan mereka, termasuk Muhammad Qahtan. Tentu tanpa membutuhkan penentuan syarat.”
“Yang membuat kami bicara soal urusan ini di media adalah karena pihak mereka menutup pintu dialog. Mereka menolak putaran baru perundingan, juga menghalang-halangi upaya mediasi regional dan internasional.”
“Mereka takut kesepakatan ini diumumkan di media, sebab mereka ingin semuanya tetap dirahasiakan, sehingga orang-orang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dengan demikian, mereka berharap bisa mengelabui keluarga tawanan dan mengeklaim bahwa mereka berusaha membebaskan tawanan,” tandas al-Murtadha.
