Mantan Pejabat Mossad: Metode Perekrutan Intelijen Iran Sangat Efektif dan ‘Mengkhawatirkan’
POROS PERLAWANAN – Mantan Kepala Unit Kontraterorisme Mossad, Oded Ailam, secara terbuka mengakui bahwa metode perekrutan agen intelijen Iran di Israel “sangat efektif”, meskipun dinilai brutal dan tidak konvensional. Pengakuan ini semakin mengukuhkan kekhawatiran atas keberhasilan operasi spionase Teheran di jantung pertahanan Zionis.
Surat kabar Kayhan pada Selasa 10 Juni mengutip laporan The Telegraph yang mempertanyakan, “Bagaimana Iran mendapatkan dokumen-dokumen rahasia Israel?” Laporan tersebut merujuk pada siaran televisi nasional Iran (IRIB) yang menyatakan bahwa ribuan dokumen sensitif terkait program nuklir dan militer rezim Zionis berhasil diretas.
Menurut IRIB, Dinas Intelijen Iran telah mengakses “ribuan dokumen strategis” dari entitas Zionis, termasuk arsip tertulis, foto, dan rekaman video. Dokumen-dokumen ini disebut telah diperoleh “beberapa waktu lalu”, meskipun tidak dijelaskan secara rinci mekanisme perolehannya.
Analis intelijen Israel, Ronen Solomon menduga bahwa kebocoran informasi tersebut lebih mungkin berasal dari operasi siber daripada pencurian fisik. “Saya tidak yakin dokumen ini diambil langsung dari dalam Israel. Kemungkinan besar, ini hasil peretasan mungkin oleh kelompok seperti Anonymous for Justice,” ujarnya.
Solomon menambahkan bahwa operasi ini diduga terjadi tahun lalu. Laporan Microsoft sebelumnya juga mengungkap bahwa Israel kini menjadi sasaran utama serangan siber yang didalangi Iran, bahkan melampaui frekuensi serangan terhadap AS. Pemerintah Israel sendiri hingga kini enggan memberikan pernyataan resmi. “Kita belum tahu apakah dokumen ini bersifat teknis, operasional, atau terkait logistik militer,” tambah Solomon.
Gelombang Penangkapan Mata-mata: Eskalasi Perang Rahasia Iran-Israel
Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan warga Israel telah ditangkap karena diduga menjadi agen intelijen Iran. Gelombang penangkapan ini mencerminkan peningkatan tajam dalam perang rahasia antara kedua negara. Salah satu kasus yang mencolok terjadi di kota tempat tinggal Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, di mana dua warga Israel ditangkap dengan tuduhan spionase. Katz sendiri menyebut insiden ini sebagai bagian dari “rencana Iran untuk membahayakan posisi saya sebagai Menteri Pertahanan”.
Fasilitas-fasilitas kritis Israel, seperti pusat kendali Iron Dome dan kompleks nuklir Dimona, diduga menjadi target utama operasi intelijen Iran.
Perubahan Strategi, Dari Infiltrasi Klasik ke Rekrutmen Digital Massal
Menurut Oded Ailam, Iran telah meninggalkan metode tradisional berupa penyusupan jangka panjang dan beralih ke pendekatan yang lebih agresif: rekrutmen massal melalui media sosial. Kampanye penyebaran pesan secara acak—seperti “Ingin uang mudah?”, dilancarkan melalui Telegram dan email, menawarkan imbalan bagi warga Israel yang bersedia memata-matai pejabat atau lokasi strategis.
“Mereka tidak peduli siapa yang merespons. Yang penting, dari ribuan pesan, ada segelintir yang tertarik. Dengan tingkat respons 1% saja, mereka sudah mendapatkan agen baru,” jelas Ilam. Pendekatan “spionase ala pemasaran digital” ini dinilai sangat efisien, meski bermoral rendah.
Buktinya adalah kasus warga Israel berusia 71 tahun, Moti Maman, yang dihukum 10 tahun penjara pada April lalu setelah terbukti berhubungan dengan intelijen Iran, termasuk dua kali mengunjungi Iran.
Ancaman Nyata di Era Perang Siber
Pengakuan mantan pejabat Mossad ini semakin menegaskan bahwa perang intelijen Iran-Israel telah memasuki fase baru: lebih cepat, lebih massif, dan lebih sulit dilacak. Jika Israel gagal beradaptasi, bocornya rahasia-rahasia vital hanya soal waktu.
