Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Iran Bangkit Lewat Kedokteran Nuklir: Selamatkan Nyawa di Tengah Sanksi dan Perkuat Posisi ‘Pionir Ilmiah’ di Kawasan

Iran Bangkit Lewat Kedokteran Nuklir: Menyelamatkan Nyawa di Tengah Sanksi

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, di tengah sanksi internasional yang berkepanjangan, Iran berhasil menciptakan kisah sukses luar biasa melalui kemajuan di bidang kedokteran nuklir. Teknologi ini kini menjadi penopang utama layanan kesehatan, menyelamatkan lebih dari satu juta jiwa setiap tahunnya, sekaligus memperkuat posisi Iran sebagai pionir ilmiah di Kawasan.

Kedokteran nuklir merupakan cabang ilmu kedokteran modern yang menggunakan isotop radioaktif untuk mendeteksi, mengobati, dan memantau berbagai penyakit, khususnya kanker dan gangguan metabolik. Teknologi ini juga berperan penting dalam penelitian dasar biomedis dan penemuan obat.

Dahulu tidak memiliki fasilitas atau tenaga ahli di bidang ini, kini Iran telah memiliki lebih dari 250 pusat kedokteran nuklir aktif yang tersebar di seluruh 30 provinsi. Sekitar 90% kebutuhan dalam negeri dipenuhi secara mandiri, menjadikan Iran negara terdepan di kawasan Timur Tengah dalam penyediaan layanan ini.

Iran kini memproduksi berbagai radiofarmasi penting, seperti teknesium-99m, iodin-131, hingga FDG (Fluoro Deoxy Glucose) yang digunakan dalam pemindaian PET. Produksi FDG dilakukan di Rumah Sakit Shariati, Teheran, menggunakan teknologi siklotron modern.

Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami mengungkapkan bahwa Iran dipaksa untuk mandiri karena negara-negara Barat menolak mengimpor radiofarmasi ke Iran, bahkan maskapai seperti Qatar Airways enggan melakukan pengiriman tersebut. “Jika kami tidak memproduksi sendiri, maka kami akan kehilangan layanan medis yang vital,” ujarnya.

Eslami juga menyebut bahwa Iran telah memproduksi uranium dengan pengayaan hingga 20% dan 60%, yang digunakan untuk memproduksi isotop penting seperti molibdenum-99. Isotop ini krusial dalam menghasilkan teknesium-99m yang banyak digunakan untuk diagnosa medis.

Saat ini, Iran tidak hanya mandiri, tetapi juga menjadi eksportir radiofarmasi ke 15 negara, termasuk India, Mesir, Pakistan, Irak, Suriah, dan beberapa negara Eropa. Industri ini juga membuka lapangan kerja bagi sekitar 4.500 spesialis dan diperkirakan akan tumbuh 12% hingga tahun 2027.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa upaya musuh untuk menghentikan laju kemajuan ini hanya ilusi. “Kami membuktikan bahwa sains bisa melampaui tekanan politik,” ujarnya saat membuka pameran alat medis di Teheran.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *