Efek Buruk Perseteruan Trump dan Musk: Saat Aliansi Retak, Kekacauan Bertambah
POROS PERLAWANAN — Ketika Amerika Serikat kembali terbelah oleh gejolak politik, perseteruan antara dua tokoh paling berpengaruh, Donald Trump dan Elon Musk menjadi bukti baru bahwa kekuasaan di AS tak lagi berpijak pada institusi, melainkan pada ego dan dominasi di ruang digital.
The New York Times pada Kamis 12 Juni, melaporkan bahwa Trump kini menghadapi tantangan terbesar sejak kembali ke Gedung Putih, bukan dari oposisi politik, melainkan dari seorang miliarder yang kekuatan mediatiknya mungkin melampaui kekuasaan resmi presiden.
Media Sosial: Senjata Baru Kekuasaan
Dengan Platform X dan lebih dari 220 juta pengikut, Elon Musk memiliki jangkauan yang jauh melampaui Truth Social milik Trump, platform yang secara audiens dan pengaruh publik tergolong terbatas. Dalam lanskap digital ini, Musk mampu mengatur narasi, mengintervensi diskursus publik, bahkan menggeser pusat gravitasi politik AS.
Mirip dengan Trump, Musk juga tak segan menyerang langsung, bermain kasar, dan membentuk opini massa dengan pendekatan agresif. Kesamaan gaya ini sempat menjadikan mereka sekutu politik dalam Pemilu. Musk bahkan ditunjuk sebagai kepala Departemen Produktivitas, lembaga baru yang dibentuk untuk merombak struktur birokrasi AS dan memangkas pemborosan anggaran.
Namun kemitraan itu tak berlangsung lama.
Dari Koalisi ke Konfrontasi
Ketika Musk mulai menghadapi resistensi internal dan kritik tajam dari elite birokrasi, ia dipinggirkan, lalu mengundurkan diri. Apa yang awalnya tampak sebagai perbedaan pendapat administratif berubah menjadi konflik terbuka.
Trump mengancam akan membatalkan kontrak NASA dengan SpaceX, sebuah langkah yang disambut Musk dengan ancaman penundaan pasokan logistik ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), walau kemudian ia menarik pernyataan tersebut.
Ketegangan meningkat saat Trump menuduh Musk “rakus” dan “mengincar subsidi negara”. Musk membalas dengan menyerang reputasi pribadi Trump, mengungkit hubungannya dengan kejahatan seksual Jeffrey Epstein dan secara terbuka menyerukan pemakzulan presiden.
Perang Saudara di Sayap Kanan
Blok konservatif pun terbelah. Sekutu Trump seperti Steve Bannon menyerukan agar Musk diusir dari AS. Sebaliknya, pendukung Musk balik menyerang Trump, bahkan melalui Truth Social, menyebutnya pengecut dan “presiden hanya karena Musk”.
Cendekiawan seperti William Howell menyatakan bahwa konflik ini menghancurkan ilusi bahwa masa jabatan kedua Trump akan membawa stabilitas. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, Trump terus memerintah dengan kekacauan dan kebingungan, gaya khasnya yang tak berubah.
Partai Republik Jadi Penonton Pasif
Di tengah pertarungan dua raksasa ini, Partai Republik di Kongres memilih bersikap seperti anak-anak dalam perceraian, diam dan tak berpihak. Mereka menghindari memilih antara loyalitas pada Trump atau pada pengaruh Musk, karena tahu, satu langkah keliru dapat berarti karier politik yang tamat.
Amerika di Persimpangan
Masih menjadi tanda tanya, sejauh mana bentrokan internal ini akan mengguncang panggung politik Amerika? Apakah sistem demokrasi AS cukup tangguh untuk menahan guncangan dari konflik ego dan kekuasaan di antara elitenya sendiri? Ataukah ini pertanda runtuhnya legitimasi kekuasaan yang tak lagi berakar pada hukum, melainkan pada algoritma dan pengikut?
Dalam lanskap politik yang semakin dikendalikan oleh platform, perseteruan antara Trump dan Musk menyingkap wajah asli kekuasaan di Amerika, bukan pada partai atau parlemen, tapi pada siapa yang bisa membentuk narasi dan mengendalikan massa. Jika kekacauan adalah metode Trump, maka konfrontasi digital adalah senjata Musk. Kini, keduanya tengah saling menembak.
