Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Lembaga Pemikir AS Yakin Iran Takkan Pernah Hentikan Pengayaan Uranium Bahkan untuk Sejenak

Israel Hayom: Tanpa Bom Nuklir, Iran Sudah Miliki Daya Tangkal

POROS PERLAWANAN – Dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh Responsible Statecraft, lembaga yang berafiliasi dengan Quincy Institute for Responsible Statecraft, ditegaskan bahwa kebijakan garis keras Amerika Serikat terhadap program nuklir Iran, terutama tuntutan untuk “penghentian total pengayaan (Uranium)”, tidak hanya tidak realistis, tetapi juga kontraproduktif secara strategis.

Menurut analisis tersebut, usulan garis merah “tanpa pengayaan” yang diajukan oleh utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, dipastikan akan gagal karena Teheran tidak akan pernah menyetujui penghentian pengayaan uranium, bahkan untuk sementara waktu.

Neokon dan Delusi Strategi Maksimal

Koalisi neokonservatif di Washington dan sekutu mereka di Israel terus mendorong pendekatan maksimalis: pengayaan nol, pembatasan permanen, dan pembongkaran total infrastruktur nuklir Iran. Namun, pendekatan ini sepenuhnya mengabaikan realitas politik dan teknis di lapangan.

Fakta historis menunjukkan bahwa setelah AS secara sepihak keluar dari Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA) di bawah Pemerintahan Trump, kepercayaan Iran terhadap komitmen Barat telah runtuh. Maka, menuntut pembekuan total, tanpa jaminan timbal balik—bukanlah negosiasi, melainkan ultimatum.

Basis Domestik: Trump Tak Perlu Tunduk

Analisis tersebut juga menyoroti bahwa Presiden Trump secara politis tidak berkewajiban menuruti tekanan neokon, mengingat tuntutan mereka tidak mencerminkan opini publik Amerika secara luas.

Survei SSRS dan Universitas Maryland menunjukkan bahwa 69% warga AS mendukung kesepakatan nuklir yang dinegosiasikan secara damai dengan pengawasan ketat—dan menolak konfrontasi militer.

Anggota Kongres dari Partai Republik seperti Marjorie Taylor-Green bahkan menentang perang dengan Iran secara terbuka, mencerminkan retaknya suara elite politik dengan basis pemilih konservatif. Tokoh media kanan seperti Tucker Carlson bahkan menyebut siapa pun yang mendorong perang dengan Iran sebagai “musuh Amerika Serikat”.

Pengayaan vs. Proliferasi: Sebuah Realitas Teknis

Dalam catatannya, Kelsey Davenport dari Arms Control Association memperingatkan bahwa menuntut penghapusan infrastruktur pengayaan hanya akan mendorong Iran keluar dari proses diplomatik dan tidak akan menghilangkan risiko proliferasi nuklir.

“Pengetahuan tidak dapat dibongkar. Iran telah mencapai tingkat kemajuan teknis yang tidak bisa dihapus begitu saja dengan mencopot sentrifugal”, tulis Davenport.

Negosiasi atau Ilusi?

Laporan Quincy Institute menggarisbawahi bahwa memaksakan posisi maksimalis seperti “zero enrichment” hanya akan membunuh peluang diplomasi dan mempercepat kebuntuan.

Dengan Iran yang semakin solid di posisi regionalnya, terutama pascakeberhasilan “Poros Perlawanan” melawan tekanan Barat di Timur Tengah, strategi Washington yang tidak realistis berisiko menciptakan konflik sia-sia yang tidak diinginkan oleh rakyat Amerika sendiri.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *