Armada Kebebasan Gaza Dibungkam, Greta Dideportasi: Media Israel Soroti Arogansi dan Kebutaan Politik Tel Aviv
POROS PERLAWANAN – Dilansir Almayadeen, aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg dideportasi dari Wilayah Pendudukan Israel pada Selasa 10 Juni, sehari setelah ikut serta dalam pelayaran Armada Kebebasan Gaza. Misi kemanusiaan tersebut bertujuan menembus blokade laut terhadap Jalur Gaza dan menyuarakan krisis kemanusiaan yang memburuk. Namun, tanggapan Israel terhadap misi ini justru menuai kritik tajam dari dalam negeri sendiri.
Surat kabar Haaretz, media terkemuka di Israel, secara terbuka mengutuk cara pemerintah dan media Israel merespons pelayaran tersebut. Dalam editorialnya, Haaretz menyebut bahwa tanggapan itu dipenuhi “kesombongan, kebencian terhadap wanita, dan kebutaan politik”. Media tersebut menuding pihak berwenang bersikap arogan, rasis, dan picik secara politik, terutama dalam menyikapi keterlibatan Thunberg.
Alih-alih membahas krisis kemanusiaan dan pengepungan panjang di Gaza, sorotan justru diarahkan pada identitas pribadi Thunberg, mulai dari usianya, jenis kelaminnya, aktivisme lingkungannya, hingga kondisi autismenya. Haaretz menilai fokus sempit ini sebagai bentuk pengalihan isu yang disengaja. “Alih-alih membahas alasan mendasar yang mendorong armada untuk berlayar, diskusi hanya terbatas pada Thunberg”, tulis artikel tersebut.
Pemerintah Kota Yerusalem bahkan sempat memublikasikan foto Thunberg menerima kue dari seorang tentara Israel saat terjadi kebakaran di dekat rumah sakit utama, namun kemudian menghapusnya. Sementara itu, akun Instagram populer di Israel ikut mengejek Thunberg dengan menyebutnya “pelayan kafe hipster di Tel Aviv”.
Artikel tersebut juga mengecam Kementerian Luar Negeri Israel yang meremehkan armada dengan menyebutnya sebagai “kapal pesiar swafoto”, sembari mengabaikan penderitaan warga Gaza.
Thunberg dan tiga aktivis lainnya langsung dideportasi melalui Prancis, sementara delapan lainnya, termasuk anggota parlemen Eropa Rima Hassan, menolak dideportasi dan masih ditahan.
Haaretz memperingatkan bahwa dunia seharusnya mendengar pesan armada: hentikan pengepungan, buka akses bantuan kemanusiaan, dan akhiri perang. Di tengah bencana yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat ratusan ribu lainnya terusir, fokus pada serangan personal terhadap Thunberg adalah “lelucon kebodohan dan kesombongan”.
