Ansharullah Peringatkan Amerika dan Inggris: Jangan Ikut Campur!
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah pernyataan yang sarat makna strategis, Anggota Biro Politik Ansharullah Yaman, Mohammad al-Farah menanggapi eskalasi retorika Amerika Serikat dengan menegaskan bahwa ancaman Donald Trump terhadap Iran bukanlah bukti kekuatan, melainkan cerminan dari krisis kepercayaan diri di dalam barisan poros agresor.
“Ancaman Trump merupakan sinyal kekalahan yang makin dekat dari entitas Zionis,” tegas al-Farah dalam wawancara yang dikutip oleh Tasnim News Agency pada Senin 16 Juni. Ia menambahkan bahwa situasi di Tel Aviv kini berada dalam kondisi yang tidak terkendali, dan menurutnya, retorika semacam itu hanya muncul ketika kekuatan nyata mereka telah runtuh di medan tempur.
Ancaman AS dan Inggris: Garis Merah yang Akan Dibalas
Peringatan keras juga disampaikan terkait potensi intervensi militer langsung oleh Amerika Serikat atau Inggris terhadap Iran. Ansharullah secara gamblang menegaskan bahwa jika garis merah itu dilanggar, maka Iran tidak akan sendirian dalam menghadapi agresi tersebut.
“Jika terjadi agresi langsung terhadap Teheran, Iran dan sekutunya tidak akan tinggal diam. Respons kami akan keras dan menentukan,” tegas al-Farah.
Pernyataan ini memperjelas bahwa Poros Perlawanan saat ini bukan hanya jaringan simbolis, melainkan poros operasional dengan kesiapan respons militer terkoordinasi terhadap ancaman global. Blok regional ini memiliki infrastruktur dan strategi untuk membuka front militer baru dalam berbagai spektrum, dari serangan rudal, operasi laut, hingga tekanan ekonomi dan energi.
Pemblokiran Laut dan Energi: Opsional, Bukan Retorik
Dalam pernyataannya, al-Farah secara eksplisit menyebutkan bahwa Iran dan sekutunya telah menyiapkan berbagai opsi strategis untuk menghadapi agresi, termasuk kemungkinan memblokir jalur-jalur laut penting dan memutus suplai energi global.
Langkah ini, jika diambil, bukan hanya akan menargetkan kepentingan militer lawan, tetapi juga sistem logistik dan ekonomi yang menopang dominasi barat di Kawasan. Hal ini menunjukkan pemahaman mendalam dari Front Perlawanan terhadap titik-titik vital lawan, serta kesiapan untuk memanfaatkan asimetri geografis dan ekonomi sebagai alat penekan strategis.
Retorika Kekuasaan yang Menyingkap Kerapuhan
Pernyataan Mohammad al-Farah menggarisbawahi bahwa setiap ancaman militer dari pihak Barat kini tidak lagi dibaca sebagai tanda superioritas, tetapi justru sebagai pengakuan terselubung atas kegagalan proyek dominasi regional.
Ansharullah, yang sebelumnya hanya diposisikan sebagai aktor lokal dalam perang saudara Yaman, kini telah menjelma menjadi salah satu pemain regional dengan kapasitas politik dan militer yang diakui dalam Poros Perlawanan global.
Dalam narasi mereka, respons bukan lagi hanya mungkin, melainkan memang telah dipersiapkan, dan akan datang dengan efek strategis menyeluruh.
