Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Serangan Gagal di Fordow: Ketika Alam Mengalahkan Teknologi Militer AS

Serangan Gagal di Fordow: Ketika Alam Mengalahkan Teknologi Militer AS

POROS PERLAWANAN– Dilansir Almayadeen, upaya militer Amerika Serikat untuk melumpuhkan fasilitas nuklir Iran di Fordow ternyata kandas bukan karena pertahanan musuh, melainkan kekuatan geologis alam. Serangan udara yang berlangsung pada Minggu dini hari 22 Juni, yang melibatkan bom penghancur bunker tercanggih AS, justru menjadi pengingat keras tentang batasan teknologi modern ketika berhadapan dengan batuan pegunungan.

Pentagon sempat menunjukkan keyakinan tinggi akan kemampuan GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, bom seberat 30.000 pon yang dirancang khusus untuk menghancurkan target bawah tanah. Dilepaskan dari pesawat pengebom B-2, bom ini diharapkan mampu menembus lapisan bumi dan mencapai instalasi pengayaan uranium di bawah Gunung Fordow, dekat kota Qom.

Namun kenyataannya jauh dari ekspektasi. Menurut laporan Geoff Brumfiel dari NPR, penilaian intelijen rahasia menyebutkan bahwa bom-bom tersebut hanya menyebabkan kerusakan terbatas. Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa serangan itu hanya memperlambat aktivitas Fordow selama beberapa bulan.

Sementara itu, Gedung Putih menepis laporan tersebut, menyebutnya sebagai “upaya merendahkan Presiden Trump”, yang sebelumnya menyatakan bahwa empat belas bom telah “memusnahkan total” target mereka.

Namun, para ilmuwan menyampaikan penjelasan berbeda. Raymond Jeanloz, ahli geofisika dari UC Berkeley menjelaskan bahwa kinerja GBU-57 sangat dipengaruhi oleh jenis batuan. Pada tanah lunak, bom ini bisa menembus hingga 262 kaki.

Namun di batuan padat seperti di Fordow, lokasi pengayaan uranium tersebut terkubur di bawah hampir 300 kaki batuan padat, jauh lebih kuat dari yang mampu ditembus bom konvensional. Bahkan GBU-57, yang disebut-sebut sebagai senjata paling ampuh milik AS untuk menghancurkan bunker, hanya mampu menembus kedalamannya hanya sekitar 25 kaki, tidak cukup untuk mencapai sentrifus yang tertanam dalam batuan dasar.

Upaya pengeboman memang menciptakan kawah di permukaan dan kemungkinan merusak ventilasi, namun posisi Fordow di dalam gunung justru menyerap dan meredam gelombang kejut yang ditimbulkan. “Gunung itu bertindak seperti peredam kejut alami,” jelas Raymond Jeanloz.

Serangan ini pun meninggalkan pelajaran penting bahwa, tantangan terbesar kadang bukan datang dari teknologi militer lawan, melainkan dari kekuatan bumi itu sendiri. Seperti kata Jeanloz, “lebih mudah dan murah menggali lebih dalam daripada mencoba meledakkan batuan keras.”

Tags: