Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Menlu Araghchi Ungkap ‘Kerusakan Serius’ Situs Nuklir Fordow

POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi menyatakan bahwa serangan udara Amerika Serikat terhadap kompleks nuklir Fordow telah mengakibatkan kerusakan berat pada fasilitas tersebut, meski dampak keseluruhannya masih dalam proses evaluasi.

“Tidak ada yang mengetahui secara pasti kondisi terkini Fordow. Namun berdasarkan data sementara, dapat dipastikan bahwa fasilitas tersebut mengalami kerusakan serius dalam skala besar,” jelas Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan CBS News yang disiarkan Selasa 1 Juli. Menurutnya, Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) saat ini tengah melakukan asesmen menyeluruh, dengan laporan resmi akan segera disampaikan kepada Pemerintah.

Eskalasi konflik terjadi ketika Presiden AS, Donald Trump memutuskan bergabung dengan serangan Israel terhadap Iran pada 24 Juni lalu. Operasi militer tersebut melibatkan penggunaan bom bunker buster di Fordow dan peluncuran rudal jelajah ke dua instalasi nuklir lainnya di Isfahan dan Natanz.

Serangan yang dinilai melanggar hukum internasional ini memicu pembalasan Iran kurang dari 48 jam kemudian, dengan menargetkan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar – basis militer AS terpenting di kawasan Asia Barat.

Pascaserangan, Trump gencar berupaya meyakinkan kalangan Kongres, termasuk sejumlah anggota Partai Republik, bahwa operasi militer tersebut telah “melumpuhkan total” fasilitas nuklir Iran, khususnya di Fordow.

Menyikapi pertanyaan mengenai kemampuan Iran memulihkan program pengayaan uranium, Araghchi menegaskan: “Meski infrastruktur fisik mungkin rusak, kapasitas teknologi dan SDM kami tetap utuh. Dengan political will yang kuat, kami mampu melakukan perbaikan cepat dan mengejar ketertinggalan.”

Dia menambahkan: “Tak ada yang menyangkal fasilitas kami rusak. Namun yang perlu digarisbawahi, expertise dan teknologi pengayaan uranium tetap menjadi aset nasional kami.”

Araghchi kembali menekankan sifat damai program nuklir Iran yang disebutnya sebagai “kebanggaan nasional”. Ia menyatakan komitmen Tehran untuk terus meyakinkan masyarakat internasional, termasuk di tengah situasi konflik saat ini.

“Kami akan terus memperjuangkan keyakinan dunia bahwa program nuklir Iran tetap untuk tujuan damai,” tegasnya, seraya menyebut perlawanan Iran dalam perang 12 hari melawan Israel sebagai bentuk pengorbanan.

Sebagai bukti komitmen damai, Araghchi mengutip fatwa Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang secara tegas mengharamkan senjata nuklir berdasarkan pertimbangan agama.

Inisiatif aksi militer AS-Israel ini didasarkan pada tuduhan bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, berbagai laporan intelijen Barat dan inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) secara resmi dan konsisten menyatakan tidak ditemukan bukti aktivitas weaponization di Iran.

Tags: