Ketegangan di Internal Israel Meningkat, Nasib Tawanan Picu Perpecahan Politik
POROS PERLAWANAN – Dilansir Almayadeen, ketegangan internal di Pemerintahan Israel semakin memuncak di tengah agresi militer yang terus berlangsung di Jalur Gaza. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir menjadi sasaran kritik tajam dari para menteri sayap kanan setelah menyuarakan kekhawatiran bahwa operasi militer yang semakin intensif dapat membahayakan keselamatan para tawanan Israel.
Pernyataan Zamir memicu kemarahan beberapa tokoh utama dalam kabinet, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir. Dalam pertemuan kabinet terbaru, Smotrich menegaskan bahwa meskipun pembebasan tawanan penting, Israel tidak boleh mengorbankan kepentingan nasional. Ia juga mendorong kelanjutan pembangunan zona permukiman baru di selatan Gaza serta relokasi warga dari wilayah utara.
Sementara itu, Ben Gvir melontarkan kritik lebih keras. Ia menyatakan bahwa dalam sejarah perang, operasi militer tidak seharusnya dihentikan demi tawanan. “Kemenangan atas Hamas harus menjadi tujuan utama,” tegasnya, sambil menyerukan peningkatan tekanan terhadap Gaza. Ia juga menyarankan pemotongan bantuan kemanusiaan sebagai langkah untuk menekan kelompok pejuang Palestina.
Di sisi lain, situasi di lapangan menunjukkan bahwa dominasi militer Israel masih jauh dari tercapai. Meski telah melancarkan operasi besar-besaran dan melakukan pengepungan, Israel belum berhasil membebaskan tawanan secara militer maupun menguasai penuh wilayah Gaza.
Pada Senin 30 Juni, Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, mengklaim berhasil melakukan serangan besar terhadap pasukan Israel di Khan Younis, Gaza selatan. Dalam aksi tersebut, pejuang Palestina dilaporkan menjebak tentara di sebuah rumah dengan bahan peledak, menyebabkan sejumlah korban di pihak Israel.
Serangan lanjutan juga dilaporkan terjadi di daerah Abasan al-Kabira, di mana sebuah buldoser lapis baja Israel dihancurkan dengan alat peledak barel. Militer Israel merespons dengan tembakan penutup dan mengerahkan helikopter untuk mengevakuasi pasukannya.
Ketegangan antara agenda politik dalam negeri dan strategi militer di Gaza kini menjadi tantangan serius bagi Pemerintahan Israel.
