Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

[LAPORAN EKSKLUSIF] Wawancara Lengkap Syekh Naim Qasim dengan Al-Mayadeen: Fakta-Fakta Tersembunyi Peran Hizbullah dalam Operasi Badai Al-Aqsa

POROS PERLAWANAN — Dalam wawancara eksklusif bersama jaringan berita Al-Mayadeen yang ditayangkan pada 11 Juni lalu, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim membongkar serangkaian fakta penting terkait keputusan pergerakan ini dalam mendukung Gaza, strategi militer pasca-Operasi Badai Al-Aqsa, dan detail investigasi internal terkait serangan intelijen musuh baru-baru ini.

Karena panjangnya wawancara, maka kami akan membaginya menjadi beberapa bagian dengan judul dan subjudul yang berbeda-beda dan bersambung.

Hizbullah Tidak Mengetahui Rencana Awal Operasi Badai Al-Aqsa

Syekh Qasim menegaskan bahwa Hizbullah, seperti anggota lain dari Poros Perlawanan, tidak mengetahui terlebih dahulu keputusan faksi-faksi Palestina untuk meluncurkan Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023. Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil secara independen oleh pihak Perlawanan Palestina, dan bahwa dukungan Hizbullah datang segera setelah operasi dimulai, sebagai respons ideologis dan moral terhadap agresi Zionis.

Menurutnya, komunikasi pertama diterima dari Komandan Brigade Al-Qassam, Muhammad Deif, melalui seorang utusan di Lebanon. Setelah itu, Hizbullah mengadakan pertemuan resmi dan memutuskan untuk terlibat dalam pertempuran dukungan, bukan perang besar-besaran.

Tujuan Strategis Hizbullah dalam Mendukung Gaza

Syekh Qasim merinci tiga tujuan utama Hizbullah dalam keterlibatan militernya:

1. Menarik pasukan Zionis ke front utara untuk mengurangi tekanan militer terhadap Gaza.

2. Menciptakan instabilitas internal di wilayah utara Palestina terjajah melalui eksodus pemukim Zionis.

3. Menimbulkan kerugian signifikan pada Militer Zionis untuk mempercepat tekanan terhadap rezim agar menghentikan agresinya.

Ia menjelaskan bahwa operasi militer Hizbullah dimulai pada 8 Oktober 2023, sehari setelah serangan Palestina dimulai, dengan penargetan posisi Militer Zionis di Ladang Shebaa.

Mengapa Tidak Terjun ke Perang Skala Penuh?

Syekh Qasim menegaskan bahwa perang penuh memerlukan kesiapan logistik dan militer, yang saat itu tidak dimiliki. Setelah evaluasi mendalam, Dewan Syura Hizbullah memutuskan bahwa strategi perang terbatas lebih efektif dalam mencapai tujuan jangka pendek dan menghindari eskalasi yang bisa dimanfaatkan musuh.

“Kami sadar bahwa keterlibatan yang terukur bisa memberi dampak maksimal tanpa mengorbankan keutuhan Front Perlawanan secara keseluruhan,” tegasnya.

Iran Tidak Tahu Rencana Operasi Badai Al-Aqsa

Secara eksplisit, Syekh Qasim menekankan bahwa Iran tidak mengetahui rencana faksi Palestina untuk meluncurkan operasi ini. Bahkan sebagian pemimpin Hamas di luar Palestina juga disebut tidak diberi tahu sebelumnya.

Meski demikian, dukungan strategis Iran terhadap Poros Perlawanan tetap berjalan penuh selama dan setelah dimulainya operasi.

Investigasi Internal Hizbullah: Ledakan Pager dan Laporan Intelijen Musuh

Dalam segmen paling sensitif, Syekh Qasim mengungkap pembentukan komite penyelidikan internal Hizbullah pascasejumlah insiden keamanan, termasuk ledakan mematikan yang dipicu oleh pager yang ditanam bahan peledak.

“Investigasi awal menunjukkan ada celah dalam sistem pengadaan selama 18 bulan terakhir. Bahan peledak jenis khusus itu tidak terdeteksi oleh perangkat standar yang kami miliki,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia membantah rumor soal kendaraan lapis baja berisi bahan peledak untuk para pejuang, namun mengakui adanya kerentanan dalam jaringan komunikasi, yang berhasil dimanfaatkan oleh musuh Zionis untuk memetakan informasi geografis dan strategis tentang wilayah Lebanon.

Ia juga menyebut bahwa 1.500 pager berisi bom dicegat dalam perjalanan via Turki, dan dicegah masuk ke Lebanon berkat koordinasi antara mantan PM Najib Mikati dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, sebuah langkah yang berhasil mencegah tragedi lebih besar.

“Zionis telah mengumpulkan informasi selama 17 tahun terakhir, dan kami belum mengetahui seberapa dalam penetrasi mereka,” ujar Syekh Qasim, sembari berjanji bahwa semua hasil investigasi akan disampaikan secara transparan kepada internal organisasi setelah selesai.

Bersambung…

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *