Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Situasi Hizbullah Pascaperang: Antara Duka Kesyahidan dan Keteguhan Melanjutkan Jalan Perlawanan (2)

Hizbullah Takkan Biarkan Lebanon Normalisasi Hubungan dengan Israel

POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa meskipun menghadapi tekanan luar biasa, kehilangan para komandan senior, dan gugurnya pemimpin karismatik Sayyid Hasan Nasrallah, Perlawanan tetap kokoh dan tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Sebaliknya, pertempuran telah membuka babak baru yang lebih terarah dan matang.

“Kami jamin kepada Anda bahwa dengan rakyat, umat, dan semangat perlawanan ini, kami tidak akan pernah terkalahkan,” tegasnya.

Hizbullah Tetap Bertahan, Musuh Gagal Mencapai Tujuan

Meskipun menjadi sasaran operasi intelijen tingkat tinggi, termasuk melalui perangkat peledak tersembunyi, dan kehilangan tokoh utama seperti Sayyid Hasan Nasrallah dan Sayyid Hashim Safi al-Din, Hizbullah justru melanjutkan pertempuran dengan keteguhan yang memaksa Zionis menghentikan serangan dan menerima gencatan senjata.

Syekh Naim Qasim menyebut bahwa:

1. Hizbullah berhasil mencegah perluasan konflik ke jantung Lebanon, termasuk ke Beirut dan Saida.

2. Tidak terjadi kerusuhan internal, sebagaimana yang diharapkan musuh.

3. Gencatan senjata dicapai tanpa Zionis mencapai tujuan militernya.

“Ini adalah kemenangan sejati: keteguhan di tengah tekanan internasional dan militer, serta kegagalan musuh dalam menciptakan kekacauan internal,” tandasnya.

Kesabaran Perlawanan Ada Batasnya

Mengenai pelanggaran berulang oleh rezim Zionis terhadap gencatan senjata dan agresi ke Lebanon, Syekh Naim Qasim memperingatkan bahwa kesabaran Perlawanan bukannya tak terbatas.

“Tidak ada pilihan ketiga antara kemenangan dan kesyahidan. Menyerah bukanlah opsi dalam kamus kami,” katanya tegas.

Ia menambahkan bahwa Hizbullah saat ini dalam fase pemulihan kekuatan, dan siap membalas jika ada agresi lanjutan. Mengenai laporan pembongkaran depot senjata di selatan Litani, ia menepisnya dan menyatakan, “Negara kami luas, dan musuh hanya bisa melihat apa yang tampak.”

Amerika dan Israel: Kombinasi Tekanan Militer dan Permainan Politik

Syekh Naim Qasim menyebut bahwa tekanan militer yang dilancarkan Israel merupakan bagian dari skema AS untuk memenangkan perang lewat diplomasi setelah kalah di medan tempur. Ia juga menyampaikan penghargaan terhadap sikap solid para pejabat Lebanon termasuk Presiden Joseph Aoun dan Ketua Parlemen Nabih Berri yang menolak tekanan dan dokumen permintaan terbaru dari utusan AS, Tom Barak.

Syahidnya Sayyid Hasan Nasrallah: Kehilangan Besar, Tapi Jalan Tetap Menyala

Dalam segmen emosional, Syekh Naim Qasim mengungkapkan duka mendalam atas kesyahidan Sayyid Hasan Nasrallah, yang disebutnya kejutan mendadak dan menyakitkan.

“Kami tidak percaya beliau akan syahid di saat ini. Kepergiannya adalah rahasia Ilahi, dan kita hanya bisa bersyukur karena beliau telah mencapai derajat tertinggi,” katanya sambil menahan haru.

Ia menegaskan bahwa jalan Sayyid Nasrallah tidak mati bersama jasadnya, justru menguat dan menyala lebih terang.

“Kami tidak menangisi syahidnya sebagai kelemahan, tapi karena kehilangan sosok yang tempatnya tak tergantikan. Kini tugas kami adalah menyempurnakan jalannya.”

Transisi Kepemimpinan: Syekh Naim Qasim, Dari Pendamping ke Komandan

Syekh Naim Qasim menjelaskan proses pengangkatannya sebagai Sekretaris Jenderal Hizbullah, menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Sayyid Hasan Nasrallah. Ia kini juga menjabat sebagai Kepala Dewan Jihad, lembaga tertinggi dalam pengambilan keputusan militer di Hizbullah.

“Saya bersama Sayyid Hasan selama 32 tahun, memahami struktur militer dan keputusan politik Hizbullah. Ini bukan langkah baru bagi saya, melainkan kelanjutan dari perjuangan kolektif,” jelasnya.

Ia menggarisbawahi bahwa seorang pemimpin Perlawanan harus memiliki:

1. Kecakapan administratif
2. Kesadaran politik
3. Keahlian organisasi dan pemahaman medan perang.

Keputusan strategis seperti perang di Suriah, tanggapan terhadap agresi Zionis, dan pertahanan Al-Quds diputuskan secara kolektif dalam Dewan Hizbullah, dan kini berada di bawah kendali langsungnya.

Bersambung…

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *