Loading

Ketik untuk mencari

Iran

[Wawancara Eksklusif Ketua Parlemen Iran] – Qalibaf: Doktrin Keamanan dan Ekonomi Rezim Zionis Telah Sepenuhnya Runtuh (1)

POROS PERLAWANAN — Ketua Majelis Permusyawaratan Islam (Parlemen Iran), Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan bahwa doktrin keamanan dan ekonomi rezim Zionis telah sepenuhnya runtuh. Menurutnya, Israel kini tidak lagi mampu memproyeksikan diri sebagai wilayah yang aman dan stabil bagi investasi asing.

Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan saluran televisi nasional Iran, Shabakeh Yek (Channel 1 Seda wa Sima), pada Kamis malam 10 Juli, di mana Qalibaf juga menguraikan aspek strategis dan operasional dari konflik bersenjata yang berlangsung selama 12 hari, yang menurutnya merupakan “perang yang dipaksakan” oleh Rezim Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran.

Host: Pertama-tama, izinkan saya menyampaikan belasungkawa atas gugurnya hampir seribu warga negara kita tercinta. Kami juga menyampaikan rasa hormat atas pengabdian Anda dan berterima kasih atas kesediaan Anda untuk meluangkan waktu dalam wawancara ini.

Yang Mulia, ketegangan antara Iran dan Israel telah berlangsung lama dan kerap memanas. Namun baru-baru ini, konflik mencapai titik eskalasi tertinggi, ditandai dengan serangan langsung Israel terhadap wilayah Iran. Mengapa ketegangan ini mencapai titik kritis tersebut? Dan apa sesungguhnya tujuan Israel dalam melancarkan serangan ini?

Qalibaf: Pertama, saya ingin menyampaikan salam hormat dan doa tulus saya kepada rakyat Iran yang mulia. Semoga duka dan doa para pencinta Ahlulbait (a.s) diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Saya mengenang para syuhada, khususnya para jenderal yang telah mengabdikan lebih dari empat dekade hidup mereka dalam perjuangan tanpa henti. Mereka akhirnya mencapai puncak cita-cita mereka: kesyahidan. Apa yang kita capai hari ini merupakan hasil langsung dari pengorbanan mereka.

Saya juga menyampaikan apresiasi kepada para ilmuwan dan teknokrat dalam bidang teknologi tinggi dan industri berbasis pengetahuan, terutama dalam sektor nuklir. Penghargaan tertinggi saya persembahkan kepada bangsa Iran yang selalu hadir di garis depan, membela Tanah Air dengan penuh dedikasi, baik dalam kondisi sulit maupun lapang.

Hari-hari ini adalah masa berkabung nasional. Saya mengajak seluruh rakyat Iran untuk terus menjaga komitmen dan kesetiaan terhadap bangsa serta Tanah Air kita, di manapun mereka berada.

Akhir kata, saya sampaikan rasa hormat mendalam kepada Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata dan Pemimpin Tertinggi Revolusi. Keberhasilan besar yang dicapai bangsa ini tidak terlepas dari kebijakan strategis, kepemimpinan visioner, serta ketegasan beliau dalam menghadapi ancaman dan tantangan.

[Menanggapi pertanyaan mengenai eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel, Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan bahwa konflik tersebut bukan hal baru dan telah berlangsung lama, bahkan melibatkan keterlibatan aktif Amerika Serikat sejak jauh sebelum Revolusi Islam 1979].

Permasalahan antara Iran dan Amerika bukanlah hal yang baru. Sebagian orang keliru mengira bahwa konflik ini bermula setelah kemenangan Revolusi Islam. Padahal, jika kita menelusuri sejarah, khususnya dalam seratus tahun terakhir, Amerika telah berperan besar dalam memengaruhi hampir seluruh pemerintahan yang pernah berkuasa di Iran, dan terus berupaya melemahkan negara ini.

[Menurut Qalibaf, pandangan Amerika adalah bahwa Iran hanya bisa menjadi negara kuat jika tunduk pada koordinasi penuh dengan kepentingan Amerika. Namun, jika Iran memilih untuk mandiri, seperti dalam pengelolaan sumber daya minyak, Amerika akan menentang keras dan berusaha menggagalkannya].

Amerika percaya bahwa kemerdekaan sejati Iran, termasuk dalam pengambilan keputusan strategis seperti pengelolaan industri minyak, adalah ancaman langsung terhadap kepentingannya. Mereka tidak akan membiarkan Iran berjalan mandiri.

[Terkait eskalasi terbaru, Qalibaf menjelaskan bahwa Israel selama bertahun-tahun berperan sebagai wakil dan “polisi” Amerika di kawasan Timur Tengah. Dalam konteks ini, konflik ideologis dan historis antara Iran dan rezim Zionis semakin tajam, terutama di bawah kepemimpinan Benyamin Netanyahu].

Netanyahu, menurut pandangan saya, lebih memusuhi Iran dan rakyatnya, termasuk kepercayaan dan nilai-nilai kami daripada ia memusuhi Palestina. Ia meyakini bahwa persoalan Palestina sudah hampir diselesaikan atau setidaknya berada di ambang penyelesaian.

[Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa rezim Zionis menolak eksistensi Pemerintahan Palestina yang sah. Mereka tidak mengakui hak rakyat Palestina untuk memiliki pemerintahan, apalagi hak atas pertahanan diri, militer, atau lembaga keamanan].

Bagi mereka, rakyat Palestina boleh saja eksis sebagai penduduk, tetapi tidak berhak memiliki pemerintahan, tentara, atau lembaga pertahanan yang sah. Inilah akar persoalannya.

Bersambung…

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *