Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Qalibaf: Israel adalah Entitas Semu, Bukan Negara Berdaulat (2)

Jenderal Pensiunan Zionis: Jika Perang Berlanjut, Israel yang Bakal Runtuh, Bukan Hamas

POROS PERLAWANAN – Dalam sesi wawancara eksklusif dengan televisi nasional Iran, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan bahwa pemerintahan yang dimiliki Israel bukanlah pemerintahan dalam arti sesungguhnya.

Menurutnya, rezim Zionis lebih menyerupai entitas semu ketimbang negara berdaulat. Mereka tidak memiliki struktur pemerintahan yang layak sebagaimana layaknya sebuah negara. Perannya terbatas pada penyediaan kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan pengelolaan sampah. Mereka tidak mengakui hak rakyat Palestina untuk memiliki sistem pemerintahan yang berdaulat.

Qalibaf kemudian menyoroti sejarah panjang permusuhan yang dibawa oleh Benyamin Netanyahu terhadap Iran. Sejak periode pertama kekuasaannya pada 1996–2000, dan terus berlanjut setelah ia kembali memimpin, Netanyahu selalu konsisten dalam pendekatannya yang agresif terhadap Iran.

“Netanyahu telah lama membawa sikap konfrontatif terhadap Iran, bahkan saat menjabat di masa presiden-presiden Amerika dari berbagai partai, baik Demokrat maupun Republik. Ia selalu berselisih dengan mereka karena berbeda fokus. Sementara mereka lebih menekankan isu Palestina, Netanyahu justru menekankan proyek utama mereka: anti-Iranisme,” jelasnya.

Strategi Ideologis Rezim Zionis: Dari Nil ke Efrat

“Permusuhan ini tidak muncul secara kebetulan. Bagi rezim Zionis, eksistensi Iran yang kuat, bersatu, dan berakar pada keyakinan, peradaban, dan sejarah, adalah ancaman eksistensial. Mereka memiliki visi politik dan keagamaan yang ekstrem: keyakinan bahwa tanah yang mereka klaim, dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat, adalah ‘Tanah Perjanjian’. Ini didasarkan pada ideologi supremasi dan eksklusivitas, seolah mereka adalah bangsa istimewa yang lebih tinggi daripada umat manusia lainnya,” papar Qalibaf.

“Dengan kata lain, pendirian Israel dibangun di atas fondasi ideologi rasis.”

Perang 12 Hari dan Peran Amerika

Qalibaf menegaskan bahwa serangan militer yang dilakukan Israel tidak mungkin terjadi tanpa restu dan koordinasi dengan Amerika Serikat.

“Fakta yang tidak terbantahkan adalah bahwa setiap langkah militer maupun politik rezim Zionis, baik di tingkat regional maupun global, selalu berada dalam koordinasi dengan Amerika. Oleh karena itu, akar utama dari konflik ini sesungguhnya adalah Amerika Serikat,” tandasnya.

Qalibaf mengungkapkan bahwa ada tiga tujuan strategis utama yang secara terbuka diumumkan oleh para pejabat tinggi Israel, termasuk oleh Netanyahu dalam video pernyataannya, serta oleh Menteri Pertahanan dan Menteri Keuangan Israel:

1. Menggulingkan sistem politik Republik Islam Iran,
2. Melemahkan fondasi kekuatan Iran, khususnya program nuklir,
3. Menghancurkan kapabilitas rudal Iran.

“Tujuan mereka jelas dan telah diumumkan secara resmi. Mereka ingin menghancurkan kemampuan pertahanan strategis kami,” kata Qalibaf.

Kegagalan Total Israel dan Keberhasilan Strategis Iran

Ia menyatakan bahwa meskipun media internasional yang menurutnya dikendalikan oleh kekuatan Zionis, berusaha membentuk opini global, para analis di think tank Barat dan Timur sepakat bahwa Israel gagal mencapai tujuannya.

“Media global yang dikendalikan oleh kelompok Zionis menyuarakan narasi mereka dengan volume tinggi dan terus-menerus. Namun, para analis dari berbagai pusat studi strategis di Amerika, Eropa, dan Timur pun mengakui kegagalan mereka,” ujarnya.

“Saya tidak mengatakan bahwa kami tidak menanggung kerugian. Kami kehilangan lebih dari seribu syuhada, sebagian besar adalah perempuan, anak-anak, dan warga sipil. Perang adalah penderitaan. Namun, kemenangan kami adalah bahwa musuh tidak berhasil mencapai satu pun dari tujuannya.. dan dari titik itulah, berbagai peluang strategis justru terbuka bagi kami.”

Bersambung….

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *