The New York Times: Iran Tak Akan Bangun Kembali Natanz dan Fordow, Ganti Sebar Fasilitas Nuklir Mini di Seluruh Negeri
POROS PERLAWANAN — Harian The New York Times melaporkan bahwa Iran kemungkinan besar tidak akan membangun kembali dua fasilitas pengayaan nuklir utamanya, yaitu Natanz dan Fordow yang dihantam serangan udara AS-Israel, melainkan akan menyebarkan jaringan fasilitas kecil di seluruh negeri, menjadikan program nuklirnya lebih tersembunyi dan tahan dari serangan militer.
Laporan bertanggal 10 Juli yang ditulis oleh David E. Sanger ini mengutip pejabat intelijen Israel dan AS serta sejumlah pakar independen Barat. Seorang pejabat senior Israel, dengan syarat anonim, mengatakan bahwa sebagian uranium Iran yang diperkaya hingga mendekati level senjata telah selamat dari serangan dan kini tersedia bagi para insinyur nuklir Teheran.
“Israel telah bergerak menuju aksi militer sejak akhir tahun lalu, setelah melihat indikasi adanya perlombaan senyap Iran untuk membuat bom sebagai bagian dari proyek rahasia,” ujar pejabat tersebut.
Serangan “Midnight Hammer” Gagal Hancurkan Seluruh Infrastruktur Iran
The New York Times menyebut bahwa pada pertengahan Juni lalu, Israel dan AS secara bersama-sama menggempur tiga fasilitas nuklir Iran menggunakan bom bunker buster seberat 13 ton dan rudal Tomahawk. Target utama adalah, Syahid Ali Mohammadi Fordow, Syahid Ahmadi Roshan Natanz dan Fasilitas Konversi Syahid Raisi Isfahan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengeklaim bahwa pengeboman tersebut “sepenuhnya menghancurkan” stok bahan bakar dan peralatan vital Iran. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly menegaskan kembali pernyataan itu, menyebut operasi tersebut sebagai “Midnight Hammer” yang berhasil menonaktifkan fasilitas nuklir utama Iran.
Namun, sumber-sumber intelijen mengakui bahwa fasilitas penyimpanan Isfahan begitu dalam hingga bahkan senjata AS paling kuat pun gagal menghancurkannya sepenuhnya. Pejabat Israel membantah pernyataan Direktur IAEA, Rafael Grossi yang menyebut bahwa Iran sempat memindahkan sebagian besar cadangan uranium dari lokasi sebelum serangan terjadi.
Iran Usir Inspektur IAEA dan Matikan Kamera Pemantau
Pascaserangan, Iran mengusir para inspektur IAEA yang berada di Teheran serta mematikan perangkat pemantauan di beberapa lokasi. Langkah ini membuat Badan Energi Atom Internasional yang bernaung di bawah PBB, “secara efektif buta” terhadap aktivitas nuklir Iran saat ini.
Strategi Baru: Jaringan Fasilitas Mini yang Tersebar
Menurut Peneliti senior di Council on Foreign Relations, Ray Takeyh, Iran tampaknya telah belajar dari pengalaman, bahkan fasilitas yang dibangun dalam gunung bisa dihancurkan.
“Langkah logis berikutnya adalah menyebar ke fasilitas-fasilitas kecil, tersembunyi, dan tersebar luas,” ujarnya.
Prediksi ini didukung oleh pejabat intelijen AS, Inggris, dan Eropa, yang dalam dua pekan terakhir melaporkan peningkatan aktivitas Iran di lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Pemerintah AS menyatakan belum ada indikasi bahwa Iran tengah membangun senjata nuklir secara aktif, meskipun laporan intelijen mencatat adanya upaya “awal dan eksperimental” untuk mengembangkan metode percepatan pembuatan bom. Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard juga menyatakan di hadapan Kongres bahwa Iran belum menunjukkan niat kuat untuk memproduksi senjata nuklir.
Fordow dan Natanz Lumpuh, Tapi Apakah Iran Benar-Benar Melemah?
Laporan menyebut bahwa sekitar 18.000 sentrifugal di Natanz dan Fordow yang berputar pada kecepatan supersonik telah rusak atau hancur dan kemungkinan besar tak dapat diperbaiki. Namun, kekuatan nyata Iran bukan hanya terletak pada satu atau dua fasilitas, dan Iran kini bergerak dalam bayang-bayang, tersebar, dan sulit dilacak.
“Yang belum diketahui adalah seberapa cepat Iran bisa membangun kembali kemampuannya, dan apakah mereka dapat melakukannya tanpa terdeteksi, untuk menghindari serangan berikutnya”, tulis Sanger dalam kesimpulan laporannya.
Barat mengeklaim kemenangan, tapi Iran justru menyesuaikan strategi. Jika sebelumnya permainan catur nuklir dimainkan di papan terbuka, kini Iran mengatur ulang bidaknya di ratusan papan kecil yang tersebar, sulit ditebak, dan siap menjebak siapa pun yang mencoba kembali menyerang.
