Warga Iran Korban Gas Kimia Kecam Jerman: Dahulu Dukung Saddam, Kini Bela Netanyahu
POROS PERLAWANAN – Seorang penyintas perang kimia Iran telah menulis surat terbuka tegas kepada Kanselir Jerman, Friedrich Merz. Dalam suratnya, warga Iran itu menuduh Berlin melakukan kebijakan selama puluhan tahun untuk melancarkan “perang proksi kotor” terhadap Iran. Pertama melalui dukungan untuk Saddam Hussein, dan sekarang dengan mendukung rezim Israel.
Diberitakan Tehran Times, surat itu, yang juga dikirim ke Dubes Jerman di Teheran, ditulis sebagai tanggapan atas pernyataan Merz yang mendeskripsikan tindakan Israel sebagai “pekerjaan kotor.” Warga Iran menafsirkan frasa itu sebagai pengakuan atas peran tidak langsung Jerman dalam mendukung agresi dan kejahatan perang di Asia Barat.
“Komentar Anda, meskipun terlambat, secara tidak sengaja mengekspos realitas kebijakan luar negeri Jerman. Polanya jelas. Kemarin, Saddam, dan hari ini, Netanyahu,” kata surat itu.
Surat itu mengingatkan peran terkenal Jerman dalam mempersenjatai Saddam dengan senjata kimia selama Perang Iran-Irak 1980-1988. Selama konflik itu, <iliter Irak meluncurkan lebih dari 500 serangan kimia di seluruh provinsi perbatasan Iran, menewaskan sedikitnya 10.000 orang dan melukai lebih dari 107.000. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Berbagai gas beracun seperti gas mustard dan gas saraf digunakan secara luas, yang meninggalkan jejak penderitaan jangka panjang yang berlanjut hingga hari ini.
“Dunia tidak lupa bahwa empat dekade lalu, Jerman memberi Saddam alat untuk perang kimia. Ribuan orang menjadi martir, dan ratusan ribu orang diracuni. Bekas lukanya masih terlihat. Pengkhianatan masih dalam napas kita,” bunyi surat itu.
Penulis melanjutkan dengan mengutuk dukungan militer dan politik Jerman saat ini untuk rezim Israel, terutama selama kampanye agresi terbaru terhadap Palestina dan negara-negara regional. Surat itu menuduh Berlin dan sekutu Baratnya secara sistematis memblokir sanksi internasional terhadap Israel dan melindungi para pemimpinnya dari pertanggungjawaban di forum global.
“Baik di depan umum atau di balik pintu tertutup, Jerman dan sekutunya terus melindungi rezim yang bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan,” tambahnya.
Dalam seruan langsung kepada Kanselir Jerman, surat itu mendesak diakhirinya ketergantungan Berlin pada “cara kotor” untuk mencapai tujuan strategisnya dan menyerukan pergeseran ke arah kebijakan yang didasarkan pada hukum internasional, hak asasi manusia, dan penghormatan regional.
“Jangan menodai bangsa Jerman dengan mendukung penjahat perang. Jangan mendukung versi modern Hitler dalam bentuk Netanyahu. Sejarah akan mengingatnya. Jangan berdiri di sisi yang salah,” surat itu memperingatkan.
Pesan kuat surat itu digarisbawahi oleh pengalaman penulis sendiri sebagai korban paparan gas mustard; pengalaman yang diperburuk oleh fakta bahwa banyak korban saat ini masih dihalangi untuk mendapatkan perawatan yang tepat karena sanksi Barat yang sedang berlangsung terhadap sektor medis Iran.
Pemboman kimia Sardasht pada 28 Juni 1987, disebut sebagai simbol ketidakadilan abadi ini. Hari itu, jet Irak menjatuhkan gas mustard pada penduduk sipil kota Iran barat laut, menewaskan sedikitnya 119 dan melukai lebih dari 8.000 orang. Banyak korban terluka yang tetap cacat sampai hari ini.
Para pejabat Iran dan asosiasi korban telah berulang kali mengutuk peran negara-negara Barat, termasuk Jerman, Belanda, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, dalam memuluskan program perang kimia Saddam melalui pasokan peralatan, prekursor, dan keahlian teknis.
