Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Suriah Terbakar oleh Api Perlawanan dan Darah Penindasan

Suriah Terbakar oleh Api Perlawanan dan Darah Penindasan

POROS PERLAWANAN – Gelombang perlawanan bersenjata kembali mengguncang wilayah selatan Suriah. Di Provinsi Sweida, bentrokan sengit pecah antara warga Druze dan pasukan kelompok Jolani yang didukung langsung oleh rezim Zionis dan Turki. Dalam beberapa hari terakhir, pertempuran ini telah menewaskan hampir 40 orang dari kedua belah pihak dan melukai lebih dari 150 lainnya.

Menurut laporan lapangan dan sumber Al-Masirah pada Selasa 15 Juli, penyergapan yang dilakukan oleh pejuang Druze berhasil menewaskan puluhan anggota pasukan rezim Jolani, menciptakan kerugian besar bagi faksi tersebut. Sebagai respons, pesawat tempur dan drone milik entitas Zionis dilaporkan turut terjun ke medan untuk melumpuhkan kendaraan lapis baja dan posisi pasukan Druze yang melawan.

Laporan ini memperkuat dugaan bahwa rezim Zionis telah secara langsung turun tangan untuk menyelamatkan mitra proksinya dari kehancuran total di Sweida.

Suriah Negeri yang Diterkam oleh Proyek Penjajahan

Sejak jatuhnya Damaskus dan kepergian Presiden Bashar al-Assad, Suriah terus mengalami dekonstruksi sistematis oleh kekuatan imperialis. Wilayahnya diokupasi oleh rezim Zionis, Amerika Serikat, Turki, serta kelompok-kelompok Takfiri yang didukung asing. Infrastruktur militer negara ini hancur, dan bangsa Suriah dipaksa hidup dalam penjajahan terbuka dan kekosongan pemerintahan.

Kini, saat Dataran Golan yang Diduduki berada di ambang aneksasi resmi oleh rezim Zionis, Washington mencoba menipu opini publik dengan mengumumkan bahwa Suriah dikeluarkan dari “daftar negara teroris” dan beberapa sanksi dicabut, padahal kenyataannya, proyek penghancuran Suriah masih terus berjalan.

Kebangkitan Druze dan Respons terhadap Penindasan

Ketika negara jatuh ke dalam kekacauan, ketidakadilan dan penghinaan yang diderita rakyat memicu kemarahan luas, termasuk dari komunitas Druze. Dari waktu ke waktu, berbagai wilayah mengalami letupan pemberontakan lokal. Namun, pemberontakan yang saat ini berlangsung di Sweida merupakan yang paling berdarah sejak tragedi pembantaian Maret 2024, ketika rezim Jolani dibantu oleh pasukan Turki dan Zionis, membantai ratusan warga untuk mematahkan semangat perlawanan.

Kini, pemberontakan baru kembali menyala. Sumber-sumber di medan menyebutkan bahwa kaum Druze telah mempersenjatai diri dengan kendaraan lapis baja dan senjata berat. Beberapa laporan bahkan mengindikasikan penggunaan rudal anti-tank dan artileri yang berhasil melumpuhkan barisan lawan.

Keterlibatan Zionis dan Narasi Distraktif

Zionis dan media afiliasinya mengeklaim bahwa Iran dan Hizbullah berada di balik kerusuhan ini, sebuah narasi klise yang digunakan untuk mengalihkan perhatian dari keterlibatan langsung Tel Aviv dalam konflik internal Suriah. Namun, sejumlah analis melihat dinamika ini sebagai bagian dari proyek reaktivasi Takfiri, yang bertujuan menyelesaikan agenda yang gagal dalam Perang 12 Hari melawan Poros Perlawanan.

Beberapa indikator menunjukkan bahwa kunjungan pemimpin kelompok Jolani ke Republik Azerbaijan untuk bertemu dengan pejabat Zionis, serta rekonsiliasi kelompok teroris PKK dengan Ankara, merupakan bagian dari konsolidasi baru proyek Barat-Zionis-Arab.

Tujuannya jelas, yaitu menghidupkan kembali ISIS dan jaringan teroris Takfiri untuk menyerang Suriah, Irak, Lebanon, dan Iran selaku empat pilar utama Poros Perlawanan di Kawasan.

Siapa Kaum Druze Suriah?

Komunitas Druze adalah minoritas agama dan etnis yang bermukim di wilayah Jabal al-Druze (Pegunungan Druze), khususnya di Provinsi Sweida, Daraa, dan pedesaan Damaskus. Jumlah mereka diperkirakan antara 500.000 hingga 700.000 jiwa, atau sekitar 3-4% dari populasi Suriah.

Druze berasal dari gerakan teologis yang berkembang dari mazhab Syiah Ismailiyah pada abad ke-11, dan ajaran mereka menggabungkan elemen monoteisme Islam, Filsafat Yunani, dan spiritualitas rahasia. Komunitas ini memiliki struktur sosial yang ketat, terbagi antara kaum Aqal (ulama dan pemegang ajaran esoteris) dan Jahl (masyarakat umum).

Mereka dikenal karena keteguhan dalam menjaga identitas kolektif dan sejarah panjang melawan intervensi kekuasaan asing, termasuk terhadap kekaisaran Ottoman.

Rakyat Suriah Masih Melawan

Meskipun mengalami kehancuran struktural dan penjajahan multilapis, rakyat Suriah belum menyerah. Perlawanan sporadis yang kembali membara di Sweida menunjukkan bahwa semangat anti-penindasan belum padam.

Pemberontakan kaum Druze bukan sekadar konflik internal, tapi bagian dari babak baru pertempuran regional antara kekuatan penjajahan dan kekuatan pembebasan. Kemenangan atau kekalahan dalam babak ini akan berdampak pada keseimbangan Kawasan dan keberlangsungan proyek perlawanan di Timur Tengah.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *