Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Iran Ciptakan Drone Pengintai Canggih Berbasis Kecerdasan Buatan, Tidak Bergantung pada GPS dan Mampu Beroperasi di Cuaca Ekstrem

POROS PERLAWANAN — Iran kembali menunjukkan lompatan teknologi di sektor pertahanan dengan memperkenalkan sebuah drone pengintai inovatif berbasis kecerdasan buatan (AI), yang mampu beroperasi tanpa bergantung pada sistem navigasi GPS. Teknologi ini dinilai sebagai terobosan strategis dalam menghadapi pembatasan akses terhadap sistem satelit global yang didominasi kekuatan Barat.

CEO perusahaan berbasis pengetahuan Ava Sharif, Mohammad Hossam Nouri, dalam wawancara dengan Kantor Berita Tasnimnews pada Senin malam 21 Juli mengumumkan keberhasilan perusahaannya dalam memproduksi drone pengintai generasi baru. Drone ini memiliki kemampuan terbang selama 40 menit, membawa muatan hingga satu kilogram, dan dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi.

“Drone ini, yang kami sebut ‘burung pengintai’ dilengkapi dengan sistem AI canggih yang memungkinkan fitur lock and track, yakni kemampuan untuk mengunci target, baik diam maupun bergerak, dan secara otomatis mengikuti atau memantaunya secara real-time,” ujar Nouri.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa salah satu varian drone ini menggunakan sistem tenaga kabel, memungkinkan perangkat untuk tetap berada dalam posisi stabil tanpa memerlukan GPS.

“Dalam kondisi berangin atau arus udara tidak stabil, kecerdasan buatan akan memproses citra visual dari kamera bawah, lalu menguncinya pada titik referensi di tanah. Dengan begitu, drone tetap berada di lokasi yang ditentukan, sebuah keunggulan signifikan di kawasan perkotaan di mana sinyal GPS seringkali terganggu,” paparnya.

Selain model berkabel, Ava Sharif juga mengembangkan varian bertenaga baterai dengan jangkauan operasional 20 hingga 30 kilometer dari pengendali. Menurut Nouri, perbedaan utama antara keduanya terletak pada tingkat mobilitas; model bertenaga baterai lebih leluasa bergerak, namun dengan batasan daya.

Menanggapi posisi Iran dalam lanskap teknologi UAV (Unmanned Aerial Vehicle), Nouri menegaskan bahwa hanya sedikit perusahaan dalam negeri yang mampu memproduksi pesawat nirawak dengan kemampuan terbang hingga ketinggian 300 meter. “Sebagian besar drone komersial yang beredar hanya mampu beroperasi di bawah 100 meter. Pencapaian ini menempatkan kami di level yang berbeda dalam hal stabilitas dan jangkauan operasional.”

Ia juga mengungkapkan bahwa teknologi serupa memang telah digunakan di luar negeri, khususnya dalam sistem pesawat tempur, namun masih sangat terbatas penggunaannya secara mandiri di dalam negeri. “Drone kami mampu beroperasi di berbagai kondisi cuaca dan suhu ekstrem tanpa bergantung pada infrastruktur asing. Ini adalah bentuk nyata dari resistensi ilmiah dan kemandirian teknologi,” tegasnya.

Inovasi ini sekaligus menjadi simbol kebangkitan teknologi strategis Iran di tengah tekanan dan embargo yang terus berlangsung, serta membuktikan bahwa perlawanan tidak hanya bersifat militer, tetapi juga berbasis ilmu pengetahuan dan rekayasa mandiri.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *