Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Pengakuan Terbuka Media Israel: Hizbullah Masih Kekuatan Besar, Otoritas Lebanon Takkan Mampu Melucutinya Meski Terus Ditekan Amerika

Hizbullah Takkan Biarkan Lebanon Normalisasi Hubungan dengan Israel

POROS PERLAWANAN – Media Israel secara terbuka mengakui bahwa Hizbullah tetap menjadi kekuatan militer dan politik utama di Lebanon, dan bahwa negara Lebanon tidak memiliki kapasitas untuk melucuti persenjataan Gerakan Perlawanan tersebut, meski ada tekanan terus-menerus dari Amerika Serikat.

Dalam laporan Israel News 24 pada Senin 21 Juli, jurnalis Baruch Yedid mengungkapkan bahwa Utusan Khusus AS untuk Suriah dan Lebanon, Thomas Barrack, telah kembali mengunjungi Lebanon untuk ketiga kalinya dalam 45 hari terakhir, membawa satu tuntutan utama Washington: pelucutan senjata Hizbullah.

Washington Datang Menuntut, Tapi Pulang dengan Tangan Hampa

Menurut Yedid, Barrack datang untuk memperoleh jawaban resmi terakhir dari otoritas Lebanon mengenai permintaan tersebut. Namun, hasilnya mengecewakan bagi AS. Tidak ada komitmen dari Beirut untuk melucuti senjata Hizbullah, meski Presiden Lebanon, Joseph Aoun, sebelumnya mengeklaim bahwa hanya negara yang berhak mengendalikan senjata resmi.

Yedid mengutip Barrack yang menyampaikan secara terang-terangan bahwa AS tidak akan menjatuhkan sanksi pada Lebanon, namun tetap menyatakan nada frustrasi dengan mengatakan, “Kami datang untuk Anda,” sebuah ungkapan yang mencerminkan ekspektasi Washington yang tidak terpenuhi.

Hizbullah Masih Berdiri Kokoh

Yedid menegaskan bahwa baik AS maupun Lebanon menyadari secara penuh ketidakmungkinan pelucutan senjata Hizbullah. Ia menyebut Hizbullah sebagai entitas yang masih “menjadi kekuatan besar”, bukan hanya dalam ranah militer, melainkan juga dalam keseimbangan politik regional.

Ia menambahkan bahwa upaya diplomatik dan tekanan keamanan yang dilakukan oleh AS dan Israel dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di front Suriah dan Lebanon, gagal menciptakan “tatanan politik baru” sebagaimana yang dibayangkan oleh arsitek “Timur Tengah Baru”.

Kegagalan Proyek “Timur Tengah Baru”

Yedid mengakhiri laporannya dengan pengakuan pahit: “Ya, ada kekecewaan mendalam di kalangan mereka yang berharap pada Timur Tengah Baru. Tindakan Israel di Suriah dan Lebanon tidak menghasilkan apa yang mereka harapkan.”

Pernyataan ini merefleksikan keruntuhan bertahap proyek geopolitik besar yang selama dua dekade didorong oleh Tel Aviv dan Washington, yakni membentuk kawasan yang steril dari kekuatan Perlawanan, tetapi kini justru melihatnya tumbuh semakin tangguh dan mengakar.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *