Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Senjata Tak Terlihat Beijing: Langkah China ‘Sengaja’ Turun ke Posisi Ketiga Pemegang Treasury AS

POROS PERLAWANAN — China resmi kehilangan statusnya sebagai pemegang obligasi Treasury Amerika Serikat terbesar kedua. Sebuah langkah strategis yang menunjukkan upaya terencana Negeri Tirai Bambu untuk memupus ketergantungan pada Dolar dari pusat kekuatan ekonomi global itu.

China Tergusur, Inggris Melonjak

Menurut laporan Farnews Agency pada Senin 21 Juli, data terbaru Departemen Keuangan AS mengungkapkan bahwa per Mei 2025, kepemilikan Treasury AS China menyusut hingga $756,3 miliar, menjadikannya pemegang terbesar ketiga untuk pertama kalinya sejak 2000. Inggris kini menempati posisi kedua dengan $779 miliar, sementara Jepang tetap di urutan pertama. Penurunan ini menandai empat bulan berturut-turut penjualan, dan level terendah China sejak 2009.

Strategi Diversifikasi Cadangan

Analis menyebut langkah Beijing sebagai bagian dari strategi defensif, diversifikasi cadangan devisa melalui:

– Pembelian emas dalam jumlah besar
– Investasi di aset non-dolar dan obligasi jangka pendek
– Penguatan kerja sama keuangan dengan mitra strategis Asia dan Timur Tengah.

Sejak Januari 2022, China telah melepas lebih dari 27 % portofolio Treasury AS (dari $1,03 triliun menjadi $759 miliar), merespons sanksi-seperti pemblokiran aset Rusia pasca-invasi Ukraina, serta ketegangan geopolitik yang kian memuncak dengan Washington.

Dampak Geopolitik dan Ekonomi Global

Peralihan besar ini menandai redefinisi peran Dolar AS dalam sistem keuangan internasional. Dengan mengurangi eksposur pada obligasi jangka panjang AS, Beijing memperkuat kedaulatan ekonomi dan menciptakan ruang manuver menghadapi potensi tekanan ekonomi atau politik dari luar.

Sementara itu, Inggris memanfaatkan momentum ini untuk mengokohkan posisinya sebagai pemegang cadangan devisa utama kedua dunia, sebuah sinyal bahwa lanskap geoekonomi global tengah bergeser.

Tren ke Depan

Para pengamat memproyeksikan tren penjualan obligasi AS oleh China akan berlanjut, seiring kebijakan jangka panjang untuk mendirikan “perisai finansial” yang tahan guncangan global. Transformasi ini bukan sekadar tentang angka, melainkan tentang strategi perlawanan ekonomi di medan dominasi mata uang utama dunia.

Perubahan posisi China dalam kepemilikan Treasury AS mencerminkan dinamika baru dalam keseimbangan kekuatan ekonomi global dan menegaskan pentingnya diversifikasi cadangan devisa di tengah ketidakpastian geopolitik.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *