Menghapus Gaza Pelan-pelan Lewat Kelaparan
Ketika Tepung Lebih Mahal dari Nyawa, dan Lidah Arab Tergelincir dalam Kebisuan
POROS PERLAWANAN — Dalam babak paling gelap dari sejarah modern Timur Tengah, Gaza hari ini tidak hanya dibombardir dengan bom, tetapi juga dengan kelaparan. Sebuah kelaparan yang bukan hasil bencana alam atau kegagalan panen, melainkan hasil desain politik militer dan keangkuhan yang terencana secara telanjang: kelaparan sebagai senjata perang. Ketika sekarung tepung dihargai $100 dan sepotong roti harus ditebus dengan nyawa, hari ini kita sedang menyaksikan bukan sekadar krisis kemanusiaan, melainkan proyek pemusnahan sebuah bangsa dengan sistematis.
Kelaparan adalah Strategi, Bukan Konsekuensi
Apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar akibat sampingan dari konflik bersenjata. Ini adalah taktik yang diperhitungkan dengan dingin. Dalam dunia diplomasi, embargo dan blokade sering dibungkus dengan bahasa “keamanan nasional”. Namun di tanah Palestina, blokade berarti pembantaian pelan-pelan. Ketika warga sipil, termasuk para ibu, anak, kakek, nenek harus memilih antara ditembak atau mati kelaparan secara perlahan, maka jelas siapa yang mengendalikan jalannya penderitaan.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dengan tegas menyebut krisis ini sebagai “buatan manusia”, bukan bencana alam, bukan kelalaian teknis, tapi hasil langsung dari pengepungan sistematis yang disengaja. Ironisnya, stok makanan yang cukup untuk seluruh penduduk Gaza selama lebih dari tiga bulan justru menumpuk di luar perbatasan, tak tersentuh karena blokade. Dunia menyaksikan, namun membisu bukan karena tak mampu bergerak, tetapi karena hati nurani telah lama dibungkam oleh kepentingan politik.
Program Pangan Dunia (WFP) menegaskan bahwa banyak warga Gaza kini hanya makan sekali dalam tiga hari. Malnutrisi bukan lagi ancaman masa depan, tetapi kenyataan harian dengan tubuh-tubuh yang melemah, dan pingsan yang menjadi gejala biasa. Gaza tak lagi sekadar wilayah konflik. Gaza telah berubah menjadi ladang eksperimen keputusasaan global.
Seorang ayah berusia 39 tahun di Gaza utara, Yusef menyuapi anaknya air garam saat menunggu bantuan yang tak kunjung tiba. “Lebih baik aku mati, asal mereka bisa makan,” ucapnya pelan. Dalam wajah-wajah seperti Yusef, dunia menemukan makna nyata dari frasa “kemanusiaan yang dilucuti”.
Namun lebih dari sekadar angka statistik dan peringatan diplomatik, ini adalah kisah manusia yang digiling dalam mesin politik yang kejam di satu sisi perbatasan, gudang penuh makanan; di sisi lain, anak-anak kurus terbaring tanpa tenaga.
Genosida dalam Nama Baru
Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Francesca Albanese menyebutnya dengan satu kata yang selama ini dihindari banyak diplomat: Genosida. Bukan hanya pembunuhan massal, tapi penghancuran sistematis terhadap eksistensi sebuah bangsa. Ketika tubuh-tubuh kurus tergeletak di jalan karena mencoba mengambil bantuan, ketika suara rintihan anak-anak tenggelam oleh suara drone tempur, maka dunia tak bisa lagi berlindung di balik eufemisme.
Klaim Israel soal “hak membela diri” menjadi ilusi moral di tengah realitas ini. Tidak ada pembelaan diri yang sah secara hukum internasional yang membenarkan pengepungan total terhadap populasi sipil, penghancuran rumah sakit, dan penghentian pasokan makanan dan air.
Israel tetap melaju dalam agresinya, didukung penuh oleh kekuatan besar Barat, terutama Amerika Serikat yang dengan konsistensi mengerikan terus memasok senjata sambil berbicara soal “standar ganda” yang semakin telanjang.
Bahasa yang Sama, Lidah yang Bisu
Namun Gaza tidak hanya dikhianati oleh kekuatan kolonial modern dan para pendukungnya di Barat, tetapi juga oleh mereka yang seharusnya paling pertama menangis dan mengguncang dunia, para pemimpin negara-negara Arab. Mereka yang berbicara dalam bahasa yang sama, membaca doa dengan aksen yang sama, dan mengeklaim persaudaraan dari mimbar-mimbar konferensi, justru menjadi penonton yang paling pasrah.
Di ruang-ruang ber-AC dan meja-meja bundar marmer, mereka sibuk bersidang tentang “stabilitas Kawasan” dan “kepentingan strategis”. Sementara itu, seorang ibu di Gaza harus memasak rumput karena dapurnya kehabisan bahan pangan. Di saluran-saluran resmi, mereka mengutuk… dengan sangat hati-hati. Mengatur kata sepresisi mungkin agar tidak mengganggu kontrak dagang, perjanjian keamanan, atau kunjungan kenegaraan berikutnya ke Washington atau Tel Aviv.
Entah sejak kapan kata “solidaritas Arab” hanya berlaku pada festival budaya dan acara penghargaan. Ketika Gaza dibakar dan rakyatnya dicekik oleh blokade, para pemimpin ini justru mengirim delegasi… ke pertemuan forum ekonomi. Gaza berteriak, tetapi mereka sibuk berswafoto di Davos.
Sungguh luar biasa bagaimana persatuan bahasa Arab bisa menghasilkan keseragaman sikap, diam seribu bahasa. Barangkali solidaritas mereka hanya kuat saat menyanyikan lagu-lagu persatuan, tapi tidak saat rakyat Palestina menyanyikan lagu kesedihan karena kelaparan dan kematian.
Namun demikian, tak semua tenggelam dalam kebisuan. Beberapa negara seperti Qatar dan Aljazair setidaknya mencoba membuka celah bantuan, walau secara politis masih dibatasi oleh tekanan geopolitik dan pengawasan diplomasi senyap.
Moralitas Global yang Bangkrut
Hal yang lebih mengkhawatirkan dari bom yang dijatuhkan adalah sunyi yang menyelimuti dunia. Ketika warga Gaza harus memilih antara makan atau mati, dan 92 warga sipil ditembak saat mencoba mengambil bantuan kemanusiaan, diamnya dunia internasional adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini diagung-agungkan.
Di forum-forum global, perdebatan soal “hak membela diri” terus diputar-putar, tetapi hak warga sipil untuk hidup, untuk sekadar makan dan minum, tidak pernah diprioritaskan. Ini bukan sekadar ketimpangan politik. Ini adalah kejatuhan etika global.
Sementara itu, organisasi HAM internasional seperti Amnesty International dan Human Rights Watch telah berulang kali menyatakan bahwa tindakan Israel bisa termasuk kejahatan perang. Namun suara mereka kalah nyaring dibandingkan dengung pesawat jet tempur yang terus mengoyak langit Gaza.
Mengapa Perlawanan adalah Kehormatan
Dalam konteks inilah, perlawanan bukan hanya reaksi, melainkan keniscayaan moral. Dalam dunia yang menormalisasi penindasan dan membungkam korban, perlawanan menjadi bentuk tertinggi dari martabat manusia. Ketika hukum internasional lumpuh dan lembaga multilateral berubah menjadi panggung hipokrisi, maka mempertahankan kehidupan adalah tindakan revolusioner.
Dalam hal ini Gaza, dengan seluruh luka dan duka yang dikandungnya, menjadi titik api dari kebangkitan kolektif nurani dunia. Karena pada akhirnya, bangsa yang kelaparan bukan hanya korban dari kejahatan, melainkan juga saksi dari kehancuran kemanusiaan itu sendiri.
Kini saatnya dunia, termasuk rakyat di negara-negara Arab dan Muslim, berhenti berharap pada pemerintah yang bisu. Gerakan masyarakat sipil, boikot ekonomi, tekanan akar rumput, dan penyadaran massal harus menjadi mesin perubahan. Solidaritas bukan hanya doa, melainkan aksi nyata.
Tidak ada yang netral di antara roti dan peluru. Dalam dunia yang menutup mata terhadap kelaparan yang disengaja, bersuara adalah bentuk perlawanan. Menolak diam adalah bentuk solidaritas.. dan menulis, dalam waktu seperti ini, adalah bagian dari perjuangan.
