Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Korban Israel dalam Perang dengan Iran Mencapai 893, Bukan 35

Hamas Hadirkan Tantangan Besar bagi Militer Israel dengan Taktik Baru

POROS PERLAWANAN — Seorang eksekutif perusahaan pertahanan Israel mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas Israel dalam perang dengan Iran jauh lebih besar dari angka resmi yang selama ini disampaikan. Sementara itu, seorang analis militer Amerika menyebut bahwa saat gencatan senjata disepakati, sistem pertahanan udara Israel dan Amerika Serikat hampir sepenuhnya lumpuh, sementara Iran mulai menggunakan rudal-rudal canggih generasi baru.

Direktur Redline Israel (perusahaan yang bergerak di bidang keamanan dan pertahanan), Robby Salman menyampaikan pernyataan mengejutkan dalam wawancara dengan Channel 14 Israel yang dilansir Kayhan pada Selasa 22 Juli. Wawancara itu berakhir panas dengan pertengkaran dan saling lempar kata kasar antara Salman dan pembawa acara.

Dalam puncak argumen tersebut, Salman berteriak: “Hentikan kebohongan dan rekayasa opini ini! Jumlah korban jiwa Israel dalam perang melawan Iran adalah 893 orang, bukan 35! Sialan kau dan saluranmu yang tidak berguna!”

Sementara itu, media berbahasa Ibrani Walla News melaporkan bahwa sejumlah pusat perbelanjaan dan gedung yang terkena rudal Iran selama perang terus dijarah oleh pencuri. Laporan menyebut aksi penjarahan itu terjadi secara sistematis dan tanpa pengawasan.

Di sisi lain, William Shriver, analis militer dan geopolitik asal Amerika Serikat, dalam analisis terbarunya menyebut bahwa selama 12 hari konflik, Iran menerapkan strategi peluncuran rudal berlapis yang secara sistematis mengikis pertahanan udara Israel.

Dalam laporannya, Shriver menulis bahwa serangan rudal pertama Iran pada 14 Juni dimulai dengan peluncuran ratusan drone lama dan rudal jelajah subsonik. Serangan awal ini dimaksudkan untuk menguras cadangan rudal intersep milik Israel dan memancing sistem pertahanan udara seperti Iron Dome.

Militer Israel sendiri mengeklaim bahwa pada 14 Juni, Iran menembakkan lebih dari 200 rudal balistik. Namun, Shriver menilai jumlah itu kemungkinan dilebih-lebihkan. Ia memperkirakan bahwa sekitar tiga lusin (36) rudal balistik generasi baru digunakan dalam gelombang pertama, dan sebagian besar, jika tidak semuanya berhasil mencapai target.

Dari 15 hingga 21 Juni, Iran terus meluncurkan rata-rata 25 rudal balistik per hari. Sementara itu, laporan dari analis Israel dan Barat menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Israel dan Amerika mengalami degradasi serius dan tidak seefektif yang dipromosikan sebelumnya.

Beberapa sistem utama, seperti THAAD milik AS, rudal SM-3 dan SM-6 dari kapal perang Amerika di Mediterania, serta rudal Arrow Israel, digunakan dalam tempo cepat. Namun efektivitasnya dalam menghadapi rudal-rudal balistik Iran yang lebih modern sangat terbatas.

Pada 22 Juni, Iran meluncurkan serangan besar-besaran yang melibatkan sekitar 100 rudal balistik. Pada titik ini, sistem Iron Dome telah melemah signifikan dan bahkan drone lambat Iran mampu menembus pertahanan. THAAD dikabarkan sudah tidak beroperasi, dan sistem Arrow mengalami banyak malfungsi.

Bukti video dari sumber terbuka (OSINT) menunjukkan bagaimana rudal hipersonik Iran dapat menembus pertahanan Israel tanpa terdeteksi. Dalam satu kasus, enam rudal Israel ditembakkan tanpa hasil untuk mencoba mencegat satu rudal hipersonik Iran, yang tetap meluncur dengan lapisan plasma terang di langit malam dan menghantam targetnya dengan presisi tinggi.

Saat gencatan senjata yang dipaksakan pada 24 Juni, pertahanan udara Israel dan AS disebut-sebut nyaris habis. Iran, di sisi lain, telah memulai fase baru penggunaan rudal-rudal canggih yang meski masih terbatas jumlahnya, namun terus meningkat secara bertahap.

Kerugian Terbesar dalam Sejarah Israel

Shriver menyatakan bahwa Israel mengalami kerugian militer terbesar dalam sejarahnya. Selain kehilangan personel dan fasilitas, Israel juga harus menarik kembali banyak aset intelijen dan sabotase yang telah lama disusupkan ke dalam wilayah Iran. Operasi penarikan dan pengamanan agen-agen ini masih berlangsung.

Lebih lanjut, Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk melakukan serangan rudal hipersonik dengan hulu ledak besar dan tingkat akurasi tinggi (circular error probable/CEP < 10 meter). Meskipun belum diketahui berapa jumlah rudal canggih yang dimiliki Iran, dan seberapa cepat mereka dapat memproduksinya, Shriver menilai Iran telah mencetak kemenangan strategis yang berdampak jangka panjang dan akan menimbulkan efek jera bagi pihak lawan.

“Setiap bulan, Iran akan semakin kuat, dan Israel akan semakin terdorong untuk mengambil langkah baru. Saya ragu perdamaian akan menjadi prioritas mereka dalam waktu dekat,” tutup Shriver.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *