Rekan dalam Kejahatan: Ketika Negara-Negara Arab Menyuplai Mesin Pembunuh Zionis
POROS PERLAWANAN – Di tengah bencana kelaparan yang semakin meluas di Jalur Gaza, rakyat Palestina dibunuh perlahan-lahan dengan senjata tersembunyi: kelaparan yang dipaksakan oleh entitas Zionis. Namun yang lebih menyakitkan, darah mereka turut ditumpahkan oleh tangan-tangan negara-negara yang mengaku bersaudara dalam iman.
Meski penderitaan rakyat Gaza sudah mencapai level genosida, dunia internasional masih menjadi penonton pasif, dan pemerintah-pemerintah Arab serta Islam bahkan memilih untuk memperkuat perdagangan dengan pembunuh anak-anak. Di puncak agresi Israel, alih-alih memutus hubungan, negara-negara Arab justru mencatat rekor transaksi dagang dengan Tel Aviv senilai lebih dari 4 miliar Dolar pada 2023.
UEA: Mitra Dagang Nomor Satu Rezim Zionis
Uni Emirat Arab, negara pertama yang menandatangani Perjanjian Abraham untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, kini menjadi mitra dagang Arab terbesar bagi rezim Pendudukan. Dalam dua tahun terakhir, ekspor UEA ke Israel meningkat lima kali lipat, mencakup emas, baja, minyak, dan logam lainnya, termasuk komoditas vital untuk mesin perang Zionis.
Menurut data resmi Israel, sejak awal agresi ke Gaza (Oktober 2023) hingga Februari 2025, UEA telah:
1. Mengekspor 1.377 jenis produk lokal ke Israel dalam 81 kategori utama, senilai total $1,2 miliar.
2. Komoditas utama termasuk mutiara, logam mulia, pupuk kimia, makanan, minuman, dan obat-obatan.
3. Impor dari Israel juga massif, dengan nilai $737 juta, mencakup perhiasan, instrumen optik dan medis, serta elektronik.
Sementara rakyat Palestina kelaparan, penguasa Abu Dhabi justru menandatangani perjanjian strategis baru di bidang kepabeanan dengan Tel Aviv, memperkuat aliran barang, keuntungan, dan… peluru.
Yordania, Mesir, Bahrain: Berdagang di Atas Kuburan Gaza
1. Yordania mengekspor baja dan listrik ke Israel senilai $500 juta, dan menerima imbalan berupa gas dan air dari rezim yang membantai sesama Muslim.
2. Mesir, pionir normalisasi, meningkatkan perdagangan dengan Israel sebesar 168%, bahkan saat dunia mengecam agresi Gaza.
3. Bahrain, negara kecil dengan ambisi besar, mencatat lonjakan 12.000% dalam perdagangan dengan Tel Aviv, termasuk pasokan aluminium dan besi — material utama untuk senjata dan bom.
Turki: Menjual Baja ke Zionis, Mengaku untuk Palestina
Turki yang kerap memainkan retorika pro-Palestina, ternyata terlibat dalam perdagangan senyap senilai $7 miliar per tahun dengan Israel. Ketika Ankara secara publik mengumumkan pemutusan hubungan perdagangan, data bea cukai menunjukkan ekspor berlanjut melalui jalur belakang—termasuk lewat Yunani.
Lebih memalukan, ekspor baja dicatat sebagai “bantuan ke Palestina”, padahal ditujukan langsung ke Tel Aviv. Wartawan Turki, Metin Ceyhan, membongkar: “Kami terus memasok baja ke tentara Israel, tapi mencatatnya atas nama Palestina.”
TRT bahkan melaporkan peningkatan ekspor baja ke Palestina sebesar 30.930% dari hanya $156 ribu tahun lalu, menjadi $68 juta tahun ini.
Tak lama setelah itu, menteri intelijen Israel terang-terangan menyebut Erdogan sebagai “teman kami yang menyamar sebagai musuh”, dan mengakui keberhasilan operasi Israel tak lepas dari bantuan Ankara.
Mereka Komplisit
Di saat anak-anak Gaza mengunyah daun demi bertahan hidup, para penguasa Arab dan Turki mengirim baja, logam, dan makanan ke Tel Aviv. Ini bukan netralitas, ini komplikasi aktif dalam kejahatan perang. Di balik jas politik dan bendera diplomasi, mereka menanamkan paku pada peti mati Palestina.
